![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Ryl," sapa Thalita. Gadis berjaket kuning itu melambaikan tangannya ketika melihat Herryl di depan pintu utama Radcliffe Camera, ikon Oxford.
Herryl berjalan mendekat ke arah 3 temannya. Sebagai teman yang baik, Thalita memperkenalkan Randy pada Herryl. Melihat Thalita yang bergelayut manja di tangan Randy, Herryl menyadari hubungan mereka. Hal tersebut membuatnya tersenyum.
"Ryl, fotoin kami bertiga, dong, di sini. Buat kenang-kenangan," pinta Thalita. Diserahkannya kamera saku yang ia bawa. Herryl menaksir harganya bisa puluhan juta karena Thalita tidak pernah menggunakan barang biasa. Dia bukan Maya yang memandang segala sesuatu dari fungsinya, batin Herryl.
"Eh, bengong. Mikirin Maya?" goda Thalita.
"Eh, iya, maaf." Herryl tersenyum mendengar nama Maya disebut. Thalita yang sekarang tidak segarang dulu. Herryl kemudian membidikkan lensa kamera pada tiga tamunya yang berdiri dengan latar bangunan berkubah nan legendaris itu, Radcliffe Camera.
"Pengen masuk, deh," celetuk Karen.
"Sebentar, pakai kartu aksesku," jawab Herryl sambil merogoh dompet di dalam tasnya. Setelah ia mengeluarkan kartu mahasiswanya yang serbaguna itu, mereka berempat memasuki ruangan Radcliffe Camera legendaris itu.
"Perpustakaan?" celetuk Thalita dengan raut wajah kecewa.
"Iya," jawab Herryl.
"Kenapa namanya Camera? Kirain tempat foto," keluh Thalita. Herryl tertawa kecil mendengarnya.
"Camera itu dari bahasa latin, artinya ruangan," jelas Herryl. Thalita kemudian berbalik, menarik Randy bersamanya.
"Yuk, ke kafe. Exeter ada kafe, kan?" ajak Thalita. Herryl mengangguk kemudian berjalan lebih dulu sebagai pemandu mereka. Setelah berjalan sejauh 50 meter, keempat mahasiswa beda kampus itu memasuki kafe dengan pintu kaca. Setelah memesan makanan, Herryl mengajak tamunya duduk di tempat yang disediakan.
"Aku dengar, kamu jadian sama Maya?" tanya Thalita. Herryl tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Maya nggak mau pacaran. Katanya mau nungguin sampai pantas untuk kami menikah," jawab Herryl menegasikan pertanyaan Thalita.
"Kamu yakin itu bukan penolakan dari Maya?" tanya Thalita lagi.
"Bukan. Aku kenal Maya, kok. Selama kami saling percaya, itu cukup," jawab Herryl kemudian. Thalita dan Karen saling berpandangan.
"Kok bisa, sih, kamu setenang itu? Eh, Ryl. Kalau butuh bantuan, bilang, ya. Sebagai fans setia kamu, aku mau bantu kalian," ucap Thalita lagi yang ditanggapi deheman kekasihnya, Randy. Thalita menoleh ke arah Randy dan tertawa kecil. "Jangan cemburu gitu, dong, aku, kan, dukung dia sama Maya," lanjut Thalita merajuk.
"Thanks, ya. Oh, iya, kamu kuliah di mana?" tanya Herryl penasaran sambil terus tersenyum.
"Di Erasmus, Rotterdam. Aku satu kampus sama Randy, juga Adrian. Ketemunya sesekali, sih, kalau sama Adrian," jawab Thalita yang membuat rahang Herryl mengeras. Entah kenapa ia masih tidak suka mendengar nama itu. Kilatan matanya menakutkan bagi Karen sehingga ia menyenggol siku Thalita.
...***...
Thalita adalah gadis cantik, pintar, yang bebas. Ia mendapat kebebasan penuh ketika sudah kuliah di Belanda. Dengan otak encernya, mudah bagi gadis itu memasuki kampus bergengsi di manapun. Thalita memilih Erasmus, tempat yang menurutnya pantas untuknya belajar.
__ADS_1
Ia tinggal di asrama kampus, berkenalan dengan beberapa teman yang ia anggap layak berteman dengannya. Molly adalah salah satu mahasiswi Erasmus yang menjadi sahabat Thalita. Ia tinggal di asrama yang tidak jauh dari kamar Thalita. Mereka sering menghabiskan malam liburan bersama. Ke pub, bar, kafe, tempat apapun yang hits di daerah mereka.
Sampai akhirnya kejadian yang tidak diharapkan itu mereka alami. Molly dan Thalita baru pulang dari pub dalam keadaan setengah mabuk. Jalanan sepi sehingga jalan Abram menuju asrama terlihat lengang. Tiba-tiba mereka dikepung oleh berandalan.
"Nona cantik, ayo main sebentar," ajak salah satu dari 3 berandal yang menggoda Thalita. Molly dan Thalita ketakutan. Terjadi perlawanan tak berarti dari Thalita sementara Molly sudah dibawa oleh salah satu anggota berandal tersebut.
"Stop!" teriak seseorang. Thalita dan dua berandal kemudian memicingkan mata mereka. Orang itu mendekat dan menghajar para berandal yang berani mengganggu Thalita sehingga mereka pergi setelah merasa sakit.
"Dank u (terima kasih)," ucap Thalita.
"Sama-sama. Daerah ini terlalu sepi, Nona. Ayo, kuantar pulang," jawab lelaki yang ditaksir berusia 20 awal.
"Tapi, temanku?" kata Thalita lagi. Ia tidak melihat Molly di manapun. Akhirnya Thalita mencari ditemani penolongnya.
"Sepertinya ada sesuatu di sana," ucap lelaki itu setelah mereka mencari selama 2 jam. Thalita mengikuti arah lelaki itu. Mereka mendengar isak tangis. Saat sudah sampai di semak belukar, Thalita memakai ponselnya sebagai senter. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya.
"Molly!" pekik Thalita. Dilihatnya sahabat manisnya menangis dengan pakaian yang sudah acak-acakan. Thalita mendekat kemudian memeluk Molly. Perlahan, mereka ke asrama.
Sejak saat itu, Thalita tidak berani lagi menjalani kehidupan yang sangat bebas. Randy, lelaki yang menolongnya, menjadi pembimbing juga sahabat Thalita.
...***...
Terdengar suara telepon. Herryl mengecek nama pemanggil. Maya?
"May sudah pulang, Ryl," ucap Maya mengabarkan dari seberang telepon. Mendengar itu, Herryl tersenyum.
"Syukurlah. Makan, terus istirahat, May. " pesan Herryl.
Thalita melihat senyum Herryl langsung mengerti.
"Segitu sayangnya kamu sama dia," ucap Thalita tulus. Ia juga tersenyum. Maya mendengar suara yang dikenalnya itu.
"Sama siapa, Ryl?" tanya Maya lagi. Tumben ingin tahu.
"Thalita," jawab Herryl singkat.
DEG!
"Tha ... lita?" suara Maya terdengar lirih.
"May, Thalita datang sama Ka-" ucapan Herryl terpotong oleh ucapan Maya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Ryl." Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Maya.
"May." Herryl memanggil nama yang tidak akan terdengar oleh Maya. Dicobanya menelepon kembali nomor gadisnya. Selalu ditolak.
...***...
Herryl sama Thalita? Ya, sudah. May memang nggak pantas untuk Herryl, Thalita lebih cocok. Mereka dari kalangan yang sama, Thalita juga pintar, cantik. Maya membatin sambil menitikkan air matanya. Tak dihiraukannya telepon yang berdering. Ia hanya menekan tombol merah, menolak panggilan dari Herryl. Sudah saatnya May menyerah.
...***...
Melihat Herryl tidak tenang, Thalita segera mengambil ponsel lelaki itu.
"Eh?"
"Aku minta nomor Maya," ucap Thalita. "Kita video call dia, ya, sayang," panggil Thalita pada Randy. Kekasih gadis cantik itu mengangguk. Thalita bersegera menelepon nomor yang dia salin dari Herryl. Setelah beberapa nada panggil, telepon tersebut tersambung.
"Maaay, aku lagi sama pacarku liburan ke Oxford, nih," sapa Thalita saat sudah dilihatnya wajah Maya di layar ponselnya. Sengaja ia cium pipi Randy di depan kamera ponsel sehingga membuat Maya menutup mulutnya.
"Thalita ...," ucap Maya terbata.
Bukannya menjawab, Thalita malah menyerahkan ponselnya pada Herryl.
"Iya, May. Thalita ingin mengenalkan pacarnya padaku. Tadi aku ingin menjelaskan, kamu sudah terlanjur cemburu," ucap Herryl.
Wajah Maya sudah memerah sekarang.
"Hei, jangan nggemesin gitu, nanti aku tambah kangen," goda Herryl kemudian.
"Ap-apa, sih." Maya ketus menanggapi godaan lelakinya.
"Duh, aku jadi obat nyamuk nih di antara dua pasangan," keluh Karen sambil menyeruput jus mangga miliknya.
Telepon kembali Maya tutup. Herryl tertawa kecil mendapati tingkah Maya.
"Dasar bucin. Mana terima kasihnya," pinta Thalita sambil mengambil kembali ponsel miliknya.
"Iya, terima kasih. Kutraktir kalian, ya," jawab Herryl.
...-bersambung-...
hai halo hai temans
__ADS_1
terima kasih sudah mengikuti kisah Herryl dan Maya sampai saat ini.