[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Luahan Rasa: Senyatanya Impian


__ADS_3

Maya mengikuti sumpah profesi arsitek. Bersama belasan mahasiswa lainnya Maya dibimbing mengucapkan sumpah profesi arsitek. Selesai acara, Maya kemudian keluar dari hall. Bapak dan mama bekerja seperti biasa sehingga ia sendiri saja menghadiri acara ini.


"May," panggil lelaki yang bersandar di salah satu pilar gedung acara. Maya setengah berlari menghampirinya.


"Herryl." Maya menyebut nama lelaki yang sudah lama tidak berkomunikasi dengannya itu. Matanya berembun menyadari bahwa lelaki yang dirindukannya kini berdiri di hadapannya.


"Selamat, ya, Arsitek Muda," ucap Herryl menjabat tangan Maya yang ditingkahi dengan senyum sumringah gadis itu. Herryl kembali melakukan kebiasaannya, sedikit membungkuk lalu menatap lekat Maya sejenak. Setelah itu, ia berdiri tegak lagi.


"Kita ke mana?"


"Makan di kantin." Maya menjawab cepat. Ia tidak mau kehabisan makanan lagi di rumah seperti dulu. Herryl tertawa kecil kemudian menggandeng tangan Maya.


"Ayo."


Maya memesan nasi bakar dan jus alpukat. Herryl? Ia makan ayam bakar dan lalapan. Mereka memakan makanannya dengan lahap. Pasangan yang sangat lapar sepertinya.


"Minggu depan langsung terbang ke Oxford, ya. Aku wisuda," ujar Herryl. Mereka sudah selesai makan dan sedang berjalan menuju halte bus.


"Izin mama bapak, ya," pinta Maya.


"Iya, pastinya," jawab Herryl sambil menepuk kepala Maya.


"So nostalgic," ujar Herryl saat mereka berdua sudah sampai di rumah Maya. Maya berganti pakaian kemudian menemani Herryl di ruang tamu. Maya menangkap raut wajah Herryl tidak seteduh biasanya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Maya. Herryl menampakkan senyum manisnya sambil menggeleng pelan.


"Menurutmu?"


"Kamu mikirin sesuatu. Cerita, Ryl," pinta Maya. Herryl terdiam sejenak sebelum akhirnya ia bicara.


"Aku khawatir. Apa aku bisa menjalankan perusahaan papa kelak setelah aku lulus S2?" tanya Herryl. Maya menghela nafasnya. Selalu itu, kegundahan kalangan yang terlihat sempurna. Kegundahan yang sama ia rasakan saat lulus SMP dulu. Setelah lulus SMA mau jadi apa? Apakah cita-citanya menjadi arsitek sudah benar? Pada kenyataannya saat ini Maya sudah menjalani persyaratan untuk mencapai cita-citanya.


"Ryl, kamu bisa. May yakin kamu bisa meneruskan perusahaan Om Ardhi," ujar Maya. Herryl menatap gadis yang ada di depannya. Senyum itu .... Herryl ikut tersenyum.


"Kalau kamu bilang begitu, aku jadi yakin aku bisa melakukannya," ujar Herryl. Ditepuknya kepala Maya. "Terima kasih, ya," lanjut lelaki itu. Maya mengangguk.


"May, aku tidur dulu, ya." Herryl meminta izin Maya. Lagi-lagi Maya mengangguk mengiyakan permintaan lelakinya. Herryl bersiap untuk tidur di ruang tamu.


"May juga mau istirahat, Ryl." Maya menanggapi dengan rencananya.


Maya segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya, bersiap untuk tidur sebentar, meregangkan otot-ototnya yang lelah selama prosesi sumpah profesi tadi.


...***...


Hari sudah sore ketika Herryl terbangun. Bu Rini sudah pulang dan sudah membuat kroket. Maya sudah mengepel rumah seperti biasa.


"Mama sudah pulang," ujar Maya saat Herryl melihat ke arah dapur karena merasa mereka tidak hanya berdua. Mendengar itu, Herryl mengangguk.

__ADS_1


"May. Kamu mau hadiah apa?" tanya Herryl. Maya menggeleng.


"Nggak usah. Kamu datang itu sudah hadiah untuk May," jawab Maya.


"Eh? Seorang Maya barusan menggombal?" goda Herryl kemudian tertawa kecil. Dilihatnya gadis itu cemberut.


"May jujur, Ryl. Kamu, tuh, sejak fokus disertasi susah dihubungi jadi May kang-" ucapan Maya terpotong. Gadis itu berhenti mendadak. Wajahnya memerah mengingat kata terakhir yang hampir keluar.


"Apa?" tanya Herryl lembut.


"Kangen," jawab Maya lirih. Herryl sudah tidak dapat menahan senyum sumringahnya lagi. Ia menggaruk leher belakangnya. Ada bahagia yang membuncah tapi juga malu yang bertambah membuat wajahnya ikut memerah. Begini, ya, rasanya mendengar ungkapan yang lama nggak diucap?


"Kroketnya sudah matang. Nak Herryl kapan sampai?" tanya Bu Rini sambil membawa piring berisi tumpukan kroket ke ruang tamu kemudian ikut bergabung, duduk bersama kedua pemuda itu.


"Terima kasih. Saya baru sampai tadi malam, Bu," jawab Herryl. Bu Rini mengangguk mendengarnya. Perempuan paruh baya itu beralih pada gadis di sebelahnya.


"Selamat, ya, Nduk. Sudah jadi arsitek. Mama bangga sama kamu. Kamu yang Mama timang-timang, sekarang sudah besar, sudah selesai kuliah," ujar Bu Rini seraya menggenggam tangan anak gadisnya. Maya langsung memeluk Bu Rini.


"Terima kasih, Ma. Mama sama bapak selama ini berjuang untuk May." Maya tidak dapat menahan tangisnya.


Herryl hanya melihat adegan di depannya. Keluarga yang hangat.


...-bersambung-...

__ADS_1


Selamat, ya, Maya, sudah menjadi arsitek muda.


untuk teman-teman, terima kasih juga sudah setia mengikuti kisah mereka berdua yang penuh warna.


__ADS_2