![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Siapa, Shal?" Seorang mahasiswa dengan jas almamater yang sama seperti Shally bertanya. Ia duduk di stand Teknik Sipil, di depan gedung administrasi.
"Maya, katanya mau daftar Teknik Sipil. Nah, Maya, kenalkan ini Nusa, anak Teknik Sipil. Nanti dia yang mengarahkan kamu terkait pendaftaran. Sekarang saya tinggal dulu, ya," jawab Shally sambil mengenalkan mahasiswa di hadapannya pada Maya.
"Baik, Kak. Terima kasih," ucap Maya.
"Sama-sama. Saya ucapkan selamat datang di Universitas Angkasa," sahut Shally kemudian sebelum ia meninggalkan Maya dan Nusa, kembali ke gerbang untuk menyambut calon mahasiswa lainnya.
"Kak Nusa," panggil Maya, menyadarkan seniornya yang seperti terbius akan sosok Shally. Nusa seperti tersadar lalu menoleh ke arah Maya.
"Eh, iya. Jadi kamu ke loket khusus Fakultas Teknik, di depan kita ini, nanti kalau sudah selesai kamu ke meja ini, ya," jawab Nusa sambil menerangkan alur yang harus Maya lalui. Maya mengangguk lalu menuju loket pendaftaran khusus Fakultas Teknik. Maya tidak mendapati kesulitan menemukan loketnya, selain karena arahan Nusa juga karena ada papan nama tiap fakuktas di kaca loketnya. Maya kemudian menghampiri loket yang sepi itu dan menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya dalam map.
"Ini tanda terimanya, terima kasih," ucap perempuan yang menjadi petugas di loket tersebut. Maya juga mengucap terima kasih setelah menerima lembaran kertas kecil berisi pernyataan bahwa ia sudah menyerahkan berkas sesuai daftar yang ada di dalamnya.
"Kak, sudah," ujar Maya menginformasikan kepada Nusa ketika ia sudah kembali ke stand.
"Kita ke jurusan," ajak Nusa sambil berdiri. Maya mengikuti langkah seniornya itu dari belakang, melewati koridor nan panjang yang menghubungkan tiap gedung jurusan dalam Universitas Angkasa. Lebih mirip lorong di rumah sakit jadinya.
Maya menikmati perjalanan yang lumayan jauh itu. Di kanannya ada jalan besar yang muat mobil, mengapit lapangan yang tak kalah luasnya. Di seberang sana baru berdiri lagi bangunan berupa gedung-gedung untuk pembelajaran. Di sisi kirinya ada halaman kecil di samping lorong yang lebih kecil lagi, semacam teras di setiap bangunan yang ia lewati.
Mereka berdua berbelok ke kiri, menuju sebuah bangunan yang terlihat seperti kos-kosan memanjang. Saat melihat papan nama dari setiap pintu, Maya baru tahu kalau itu adalah sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa semua jurusan yang ada di Fakultas Teknik.
"Teman-teman, ada anak baru, nih," sapa Nusa pada teman-temannya di ruang sekretariat.
Mendengar nada dan kalimat itu, Maya langsung waspada. May harus siap kalau ada yang macam-macam, batinnya.
"Wah, aku yang wawancara, ya," jawab seorang mahasiswa berkacamata yang wajahnya lumayan.
"Kalo cewek aja, lo cepet. Dik, hati-hati sama cassanova ini, ya," celetuk temannya.
"Nggak. Ini biar saya yang wawancara," ujar seorang mahasiswi berambut pendek menghampiri Maya. "Ayo, Dik, masuk," lanjutnya mengajak Maya memasuki ruang sekretariat itu.
__ADS_1
Maya mengikuti mahasiswi tersebut. Mereka berdua duduk di lantai. Maya mengisi formulir yang diberikan oleh Mahasiswi itu selama beberapa menit.
"Kenalkan, saya Natasha," ucap mahasiswi yang ternyata bernama Natasha tersebut. Mereka mengadakan sesi tanya jawab terkait minat Maya untuk bergabung di organisasi.
Seperti Herryl?
"Oh, iya. Di formulir ini kamu tulis nomor hp mama, kenapa?" Natasha bertanya.
"Saya belum punya hp, Kak," jawab Maya sejujurnya. Natasha tersenyum mendengar hal itu.
"May, kehidupan kamu di kampus tidak akan sesederhana di sekolah. Kampus sangatlah dinamis, cepat sekali berubah, termasuk jadwal dosen mengajar. Sekarang ini biasanya info disebarkan melalui grup aplikasi percakapan yang terpasang di smartphone. Kalau perubahan jadwal itu dikabarkan ke hp mama kamu saat beliau bekerja, kamu dapat informasinya dari mana? Tentunya kamu sendiri akan terhambat belajarnya, bukan?" Nasehat Natasha. Gadis yang realistis dan mengajak Maya menganalisa berbagai kemungkinan. Wawancara berjalan lancar kemudian Maya pamit pulang.
Hari mulai sore saat Maya sudah sampai di depan rumah Riana. Maya menemui Pak Sartim, satpam keluarga Riana yang berjaga di posnya, menyatakan keinginannya bertemu Riana. Pak Sartim mengantar sahabat majikannya yang ia kenal ramah. Riana kebetulan sedang membereskan ruang tamu bersama Bu Yuni, asisten di rumah tersebut.
"Ada apa May?" Riana bertanya setelah mengajak sahabatnya duduk di sofa.
Butuh waktu agak lama untuk mendengar jawaban Maya. Gadis itu masih ragu untuk menceritakan masalahnya.
"Ri, kamu bisa bantu May cari hp murah?" Maya balik bertanya pada Riana yang duduk di depannya.
Maya menceritakan kronologi saat wawancara tadi. Ia merasa butuh untuk memiliki ponsel demi kelancaran aktivitasnya di kampus kelak. Riana tersenyum.
"May besok cek tabungan, deh, Ri, supaya bisa beli hp yang sesuai dompet," lanjut Maya bercerita. Sebuah tawa kecil mengiringi guyonannya.
"Iya, kita cari sekarang? Bisa, kok, kita browsing di internet informasinya." Riana mengajak Maya menuju laptop yang ada di ruang tamu.
"Oh, iya, Ri. Nanti kuliah di mana?" Maya bertanya sambil mengikuti Riana duduk di depan laptop.
"Paris, pusat mode dunia," jawab Riana. Didapatinya raut wajah Maya berubah mendung. Riana tersenyum, menyentuh bahu sahabatnya itu. "May," panggilnya.
"Pergi lagi," gumam Maya.
__ADS_1
"Katamu, cita-cita kita harus digapai, kan? Nanti kita bisa tetap komunikasi pakai email, kok. Kamu punya laptop, kan?" Riana mencoba menenangkan Maya. Dilihatnya Maya tersenyum getir.
"Iya, kalau ada akses internet. Nggak apa-apa, ya, kalau aku kirimnya waktu di kampus, pakai wifi jurusan," sahut Maya.
"Iya. Nih, sudah ada daftar hp murah," ucap Riana mengingatkan. Mereka berdua menatap layar laptop.
...***...
Hari menjelang sore saat Herryl datang ke rumah maya. Belum jadi pacar udah sering apel, batin Herryl. Sebuah senyum simpul hadir mengiringi.
"Mau ngepel?" Maya bertanya begitu melihat Herryl di ambang pintu. Herryl mengerutkan alisnya.
"Memangnya aku udah boleh masuk kamar kamu?" Herryl bertanya, menggoda Maya.
Seketika Maya tergagap, wajahnya merona.
"Ka-kamar May nggak usah kamu pel," elak Maya akhirnya. Herryl tertawa kecil. Dihampirinya Maya dan ia cubit lembut hidung gadis di depannya.
"Kamu imut kalau lagi malu," ucap Herryl menggombal. Maya segera menutup hidungnya.
"Berani banget kamu pegang hidung May." Ketus Maya mengomeli Herryl. Dipakainya gagang pel yang sedang dipegang untuk memukuli Herryl. Ia memukul tangan kanan Herryl yang tadi sudah berani menyentuh hidungnya.
"Aduh! Udah, May. Udah," pinta Herryl memohon pada gadis di depannya.
"Lain kali jangan sembarangan." Maya memperingatkan lelaki di hadapannya.
"Maaf, May, kelepasan. Aduh." Herryl masih kesakitan. Tapi begitu mendengar permintaan maaf, Maya menghentikan pukulannya. "Habis kamu imut banget tadi," lanjut Herryl yang langsung direspon dengan tatapan tajam dari Maya. "Eh, maaf," ucap Herryl lagi dengan raut ketakutan. Hilang, deh, imutnya.
"Kamu keluar dulu, May mau ngepel," ucap Maya akhirnya. Tidak mau dianiaya lagi, Herryl memilih untuk menurut saja.
Kenapa aku bisa menyukaimu, ya, May? Herryl membatin sambil berdiri di luar rumah.
__ADS_1
...-bersambung-...
Riana juga mau pergi? Hati-hati, Riana