[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Say it Straight from My Heart


__ADS_3

Akhirnya Maya dan Randi menyelesaikan Kerja Praktek mereka di Crown Construction. Hari ini adalah hari terakhir mereka berdua magang di Crown. Semua pekerjaan mereka sudah selesai saat sore hari. Dimas dan Divisi Perencanaan mengajak Randi dan Maya berkumpul di ruangan besar.


"Terima kasih, Maya, Randi. Kalian telah membantu kami selama 4 bulan terakhir ini. Semoga sedikit ilmu yang kami bagi bermanfaat bagi kalian," ucap Dimas di sela sambutannya.


"Terima kasih, Pak Dimas dan semuanya. Kami juga bersyukur mendapat kesempatan kerja praktek di Crown. Pengalaman baru kami ini sangat mengasah keterampilan kami," jawab Randi mewakili dirinya dan Maya. Mereka kemudian makan bersama. Dimas telah memesan nasi kuning beserta lauknya.


Selesai acara, Randi berkemas.


"Gue beresin barang gue dulu, ya, May. Kita pulang bareng," ajak Randi. Maya mengangguk kemudian bergegas ke mejanya, membereskan peralatannya.


Saat itulah Albert menghampiri Maya. Mereka hanya berdua di ruangan perencanaan.


"Maya, kamu sudah mau pulang?" tanya Albert.


"Iya, Pak," jawab Maya setelah menghentikan kegiatannya. Ia harus menghormati lawan bicaranya.


"Kalau begitu, kita bisa tetap melanjutkannya, kan, hubungan kita?" tanya Albert lagi. Maya mengernyit.


"Hubungan?"


"Iya, hubungan yang lebih dari sekadar mahasiswa magang dan arsitek senior."


Mata Maya seketika berbinar mendengarnya.


"Jadi, saya melanjutkan bekerja di sini, Pak?"


"Eh? Bukan," elak Albert. Kenapa dia berpikir pekerjaan?

__ADS_1


"Lho? Jadi apa?" Binar mata Maya mulai menunjukkan keheranan.


"Saya menyukai kamu sebagai lelaki. Kamu mau pacaran dengan saya?" tanya Albert meminta kesediaan Maya.


Mata Maya membulat saat terdengar kata pacaran. Jantungnya berdebar. Ada rasa tidak nyaman dalam dirinya, berbeda dengan saat mendengar pengakuan Herryl dan Hardi.


"Maaf, Pak. Saya hanya menganggap Bapak seperti kakak saya, senior saya. Bapak punya istri, kan? Istri Bapak juga perempuan, Pak, seperti saya. Apa Bapak tega menyakiti perasaan istri Bapak?" elak Maya menyatakan keberatan.


"Tapi saya sayang sama kamu, Maya," bujuk Albert. Ia tidak bisa maju lagi karena mereka terhalang meja kerja Maya.


Maya yang mendengar penegasan itu semakin tidak tenang. Ada kekhawatiran dan marah menyergap hati gadis itu. Seperti takutnya pemilik rumah akan langkah orang tak dikenal di sekitar rumahnya. Ryl, May harus bagaimana?


Tiba-tiba terdengar nada dering dari ponsel Maya. Maya mengambil ponsel tersebut, melihat nama pemanggilnya.


"Ryl," sapa Maya sedikit sesak. Ia menahan amarah yang bercampur sedih.


"May kangen," ucapan itu lolos dari mulut Maya. May sudah nggak mau menahan ini lagi, Ryl. May kangen. May butuh kekuatan dari Herryl.


"Eh?" Herryl merasa dirinya sedang melayang di atas awan ketika mendengar ungkapan rindu dari Maya. Tumben, baru kali ini, May.


Albert melihat wajah Maya saat berbicara di telepon. Wajah yang belum pernah ia lihat selama ini, wajah seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Dan lelaki yang bisa membuat Maya berwajah secantik itu bukanlah dirinya. Albert kemudian mundur dan berjalan dengan langkah gontai keluar ruangan.


"May kangen sama Herryl. May ingin bertemu Herryl," pinta Maya dengan suara semakin serak karena sudah ingin menangis.


"May? Kamu nangis? Ada apa, May?" Kini Herryl khawatir pada keadaan gadisnya. Hanya terdengar suara isakan. Hening sejenak.


"May, aku ke Indonesia, ya," tawar Herryl. Aku ingin menghapus air matamu.

__ADS_1


"Nggak, Ryl. Herryl harus segera lulus kuliah baru pulang," elak Maya sambil menggeleng pelan.


"Tapi ...."


"Herryl harus cepat lulus dan pulang." Maya seolah tidak mau dibantah. Ucapannya diiringi tangis yang semakin terdengar di telinga Herryl. Herryl kemudian menghela nafas.


"Iya, May. Aku akan segera lulus lalu pulang," janji Herryl lembut. "Sekarang, kamu tenang dulu, ya. Dalam hitungan ke tiga. Satu, dua, tiga," bujuk Herryl kemudian.


"Dasar, kamu, tuh." Maya tersenyum sambil menyeka air matanya.


"Lebih tenang, kan?" tanya Herryl lagi. Maya mengangguk, mengiyakan, yang tentu tidak dapat dilihat oleh lelaki itu.


"Iya. Kapan kita video call lagi?" Maya mengungkapkan pertanyaan yang lebih mirip sebuah keinginan.


"Soon, May," jawab Herryl seraya tersenyum. Rasanya kali ini ia benar-benar dibuat melayang oleh Maya yang merindukannya sampai menanyakan kapan bertemu di video call.


Saat berpapasan dengan Randi, Albert berhenti.


"Dia punya pacar yang kuliahnya di luar negeri, Pak. Bapak tahu kekuatan perasaan mereka yang menjalani LDR? Sangat kuat, Pak. Mereka saling percaya dan sangat setia," ucap Randi yang menjadi penyebab Albert menghentikan langkahnya.


Albert meneruskan langkahnya saat didengarnya Randi melangkah ke arah yang berlawanan dengannya. Randi melangkah ketika melihat Maya memasukkan ponselnya ke dalam tas. Sepertinya sambungan telepon sudah terputus.


"Ayo, May," ajak Randi yang diiyakan oleh Maya. Mereka berdua berbincang dalam perjalanan keluar kantor sambil sesekali menyapa para karyawan kantor yang berpapasan dengan mereka.


...-bersambung-...


Hai halo hai

__ADS_1


finally, Maya. Oh iya, terima kasih karena tetap setia mengikuti kisah Herryl dan Maya, ya. Yang nunggu Herryl pulang, sabar, ya. di Oxford walau waktu belajarnya sebentar tapi lebih padat.


__ADS_2