[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Mencemburui Rasa


__ADS_3

Ah, aku jadi ingin melihat wajahnya.


Herryl hanya berguling-guling di tempat tidurnya. Disertasinya hampir selesai. Tapi ada rasa yang tidak dapat ia gambarkan, yang tidak ia mengerti. Perasaan itu muncul ketika menyadari dirinya akan segera lulus S2.


...***...


Maya baru selesai menyerahkan laporan magang selama 6 bulan terakhir. Ia mendapat jadwal wisuda bulan depan. Maya kemudian menuju kantor Metal Estate, ke ruangan Rahmat. Tempo hari ia ditawarkan untuk menjadi karyawan di Metal Estate.


"Pak, saya bersedia bekerja di sini. Mohon bimbingannya," ujar Maya yang disambut senyum oleh Rahmat.


...***...


Setelah selesai semua urusan dan libur selama sepekan, Maya mulai sering mengecek ponselnya. Nggak ada.


Begini, ya, rasanya? Gadis itu kemudian memeluk lututnya sambil mengamati ponsel. Selama ini dirinya terkesan cuek karena disibukkan dengan kegiatan-kegiatan. Pikirannya tersita untuk kuliahnya, pekerjaannya, sehingga kerinduan itu hanya selewatan. Kini, ketika ia tinggal menunggu wisuda dan sedang liburan, kerinduan untuk lelakinya mulai terasa. Hanya bulir air mata yang menunjukkan perasaannya. Memori mereka di London Eye dan Jam Big Ben mencuat.


...***...


"Di seberang sana, kan, Shinichi confess ke Ran," ujar Maya. Mereka sedang berada di jalan menuju London Eye, dekat jam legendaris, jam Big Ben.


"Ya?" tanya Herryl.


"Kamu nggak nonton, sih, Ryl. Shinichi bilang, bahkan Holmes tidak dapat mengetahui perasaan wanita yang disukainya. Confess secara nggak langsung. Sweet banget," cerita Maya dengan mata berbinar. Mereka sedang berhadapan saat ini.


"Ya, itu, kan, Ran. Gadis yang peka dengan ucapan Shinichi," komentar Herryl sambil tertawa kecil.


"Maksud kamu?" Maya mengerutkan alisnya.


"Kamu mana peka kalau aku bilang begitu? Aku ajak kencan aja malah ninju perutku," jawab Herryl lagi sambil tertawa kecil.


Wajah Maya memerah bila mengingat itu. Gadis itu cemberut.

__ADS_1


"Habis, kamu, kan, usil terus kalau sama May, Ryl. Mana mungkin May tahu kalau kamu serius," keluh Maya.


Herryl sedikit mengacak rambut Maya.


"Iya, maaf. Caraku mendekatimu saat itu salah, ya? Tapi, suka, kan?" goda Herryl lagi.


"Herryl!" omel Maya sambil menutupi rasa malunya. Herryl tertawa lagi. "Sudah. Malas ngobrolin Conan sama kamu, nggak nyambung kayak sama Adrian," keluh Maya.


Seketika tawa Herryl berhenti ketika mendengar sebuah nama.


"Adrian, ya?" tanya Herryl lirih.


Maya yang belum menyadari perubahan sikap Herryl masih saja mengomel.


"Iya, Adrian selalu tahu kalau kami bahas Conan. Dia masih ingat kasus Matsuda waktu kami di bianglala." Maya menjawab dengan penjelasan yang tak ingin Herryl dengar.


GREPP!!


Herryl menangkap tangan Maya dan membawanya ke London Eye yang memang sudah dekat. Ia membeli tiket dan masuk ke dalam salah satu gondola sambil membawa gadisnya. Mereka duduk berhadapan. Saat gondola berputar, Maya melihat ke luar, pemandangan Westminster Bridge, Jam Big Ben, dan kota London membuatnya terpukau.


"May. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Herryl. Ada nada bicara yang terdengar dingin dari lelaki itu. Mendengar dirinya ditanya, Maya menoleh ke arah lelaki itu.


Saat menatap Herryl, Maya menyadari bahwa mata Herryl tidak sedang bahagia. Ada sorot mata terluka di sana. Maya menutup mulutnya dengan tangan begitu menyadari sejak kapan perubahan sikap Herryl terjadi.


"Ma-maaf," ujar Maya lirih.


"Dulu memang kamu bilang bukan urusanku untuk mengetahui hubunganmu dengan lelaki itu. Tapi, sekarang, setelah kita sejauh ini, apakah masih bukan urusanku kalau kamu mengingat lelaki lain saat bersamaku bahkan membandingkan?" tanya Herryl lagi.


Maya menunduk. Ada bulir air mata yang jatuh dari pipinya dan itu disadari oleh Herryl. Maya mengusap air matanya.


"Maaf. Tadi May nggak tahu kalau Herryl ...," ujar gadis itu.

__ADS_1


Herryl kemudian menyandarkan punggungnya ke dinding gondola.


"Sudahlah. Setelah ini kuantar kamu ke hotel," ujar Herryl lagi.


Maya terus menunduk sementara Herryl melihat ke jendela gondola. Mereka tidak berbicara sampai di hotel. Bahkan di dalam kereta mereka hanya diam.


"Maaf, Ryl." Maya menulis di layar percakapannya dengan Herryl malam itu. Tidak ada balasan.


Keesokan paginya, keluarga Herryl mengajak Maya sarapan bersama di kamar hotel orang tua Herryl. Syukurlah Herryl memesan kamar yang ada living roomnya sehingga mereka bisa sesekali berkumpul di kamar itu. Mereka sarapan sandwich, kesukaan Herryl. Maya dan Nyonya Anggi yang membuat. Maya juga membuatkan teh untuk mereka berempat.


"Ini, Ryl," ujar Maya sambil meletakkan cangkir teh di depan Herryl.


"Terima kasih, May," jawab Herryl sumringah.


"Makan, jangan senyum-senyum aja," perintah Nyonya Anggi.


"Senang, Ma. Sarapan disiapin sama calon istri," ujar Herryl. Nada bicaranya sangat riang. Sementara Maya, gadis itu sudah memerah wajahnya karena sikap Herryl yang terang-terangan di depan orang tuanya. Mereka sarapan kemudian Maya dan Herryl pamit untuk menjelajahi Oxford lagi.


"Sebentar, May ambil tas dulu," ujar Maya di pintu kamarnya.


"May," panggil Herryl. Maya berbalik. Lelaki itu memegang bahu Maya dan mendekatkan wajah mereka.


"He-Herryl," panggil Maya gugup ditatap intens seperti itu. Herryl kemudian melepas Maya.


"Ambil tasmu," ujar Herryl yang langsung dipatuhi Maya.


Setelah melihat wajahmu, aku merasa baik-baik saja, May.


...-bersambung-...


Cemburu, Ryl?

__ADS_1


Terima kasih, temans, sudah mengikuti kisah Maya dan Herryl sampai sejauh ini.


__ADS_2