[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Born to Make You Happy


__ADS_3

Maya baru selesai buang hajat saat ia mendengar Thalita mengomel di depan wastafel toilet sekolah.


"Kenapa, sih, nggak mau terima kue coklat gue? Gue udah bangun pagi buat siapin itu," keluh Thalita sambil membetulkan tatanan rambutnya.


"Udah, Ta. Lo yang sabar, ya," ujar Karenina menenangkan sahabatnya itu. Saat itulah mata mereka menangkap sosok Maya yang berjalan melewati belakang mereka.


"Heh, Maya culun," panggil Thalita. Aura krmarahan masih terlihat di wajahnya. Maya yang merasa namanya dipanggil segera menghentikan langkahnya, menoleh pada Thalita dan Karen.


"Ya?" jawab Maya atas panggilan tersebut.


"Lo pasti nggak ngasih coklat, kan, ke cowok-cowok lo itu, apalagi Herryl. Iya, soalnya lo kan nggak ngerti Valentine," ledek Thalita, menumpahkan semua kekesalannya yang ditolak oleh Herryl.


"Iya, May nggak suka konsep Valentine. Cuma buang-buang uang untuk coklat. May nggak punya cukup waktu dan uang untuk beli coklat. Lagian, itu bukan budaya kita. Permisi," jawab Maya. Tanpa perlu menunggu izin dari kedua orang di hadapannya, Maya berjalan keluar, menuju kelasnya.


Ya, seorang Maya bukan tidak mengerti arti Valentine Day. Ia hanya malas melakukan sesuatu yang penuh kesia-siaan. Baginya, lebih baik uang itu ia tabung untuk keperluan sekolah atau keperluan sehari-hari. Menunjukkan kasih sayang? Maya tersenyum kecut mengingat hal itu. Bukankah menunjukkan kasih sayang bisa kapan saja?


...***...


Kelebatan itu hadir lagi dalam bayangan Maya.


"Mikirin apa? Masa depan kita?" tanya Herryl yang langsung ditimpuk dengan permen coklat oleh Maya.


"Bisa, nggak, ngomongnya yang bener?" keluh Maya kesal. Sementara itu mereka hanya ditemani Kia dan Anggi. Yang lainnya sudah pulang karena masih ingin bermain di luar.


"Ya udah, kalau nggak mau bilang. Yang penting jangan mikirin cowok lain," sahut Herryl memerintah sambil diiringi tawa renyahnya.


"Siapa kamu merasa berhak mengatur?" balas Maya ketus.


"Calon suami kamu," jawab Herryl santai. Kembali ia mendapat lemparan dari Maya. Kali ini dilempar memakai kemasan kaleng salah satu coklat yang ia bawa dan terkena pelipisnya.


"Apa? Kak Herryl mau nikah?" tanya Kia dan Anggi berbarengan. Ada raut wajah tidak suka yang mereka tampakkan.


"Eh, iya," jawab Herryl kikuk. Tangannya segera memegang pelipisnya yang terkena ujung kaleng. Melihat wajah meringis itu Maya segera berdiri mendekat.


Jangan sampai May jadi pelaku penganiayaan, batin Maya.


"Ryl, nggak apa-apa?" Maya khawatir menanyakan sambil mengamati pelipis Herryl. Sedikit membengkak memang.

__ADS_1


Kesempatan, batin Herryl.


"Sakit banget, May," jawab Herryl bernada kesakitan. Maya segera bergegas mengambil es batu, handuk kecil, dan panci kemudian memeriksa pelipis Herryl.


"Gimana? Pusing? Pengen muntah?" Maya bertanya sambil mengompres Herryl. Herryl hanya tersenyum mendengar gadis itu khawatir. Maya menyadari kilasan senyum Herryl yang sekilas itu.


TAKK!!


"Aduh! Sakit, May. Hobi banget jitak, sih," keluh Herryl sambil memegangi kepalanya yang dijitak Maya.


"Suruh siapa pura-pura?" Tuding Maya ketus. Diletakkannya panci berisi es batu yang mulai mencair dan handuk kecil di meja.


"Kak Herryl nggak boleh nikah sama Kak Maya. Nikahnya sama aku aja kalo udah gede," ucap Anggi terang-terangan. Herryl dan Maya terhenyak mendengarnya. Anak sekecil itu sudah berani mengungkapkan keinginan yang mungkin belum terpikir oleh teman-temannya.


Herryl tersenyum dan menghampiri Anggi.


"Kalau nunggu Anggi besar, Kak Herryl udah Kakek-kakek, dong," canda Herryl menenangkan. Dilihatnya Anggi cemberut. Mirip Maya, suka ngambek. Herryl tertawa kecil melihatnya.


"Habis, Anggi pengen punya suami yang pintar ngajarin pelajaran kayak Kak Herryl. Suka ngajarin kita biar nggak takut ngelawan yang nakal, ya, Kia?" Anggi meminta persetujuan Kia yang dijawab anggukan oleh temannya itu.


"Kelak akan ada yang mirip Kak Herryl untuk kalian, oke?" pesan Herryl lagi.


"Iya, lagipula Kak Maya nggak nikah sama Kak Herryl, kok," sahut Maya yang dipandang Herryl tidak berperasaan.


"Lho, tadi katanya calon suami," ucap Kia.


"Oh, itu Kak Herrylnya aja yang bilang. Tapi nggak, kok," ralat Maya sepihak.


"Kok tega, May?" Herryl merajuk lagi.


"Iya, Kak Maya jangan begitu sama Kak Herryl. Kak Maya nikah sama Kak Herryl aja," bujuk Kia yang diiyakan Anggi.


Lho, kok, malah begini? Maya membatin karena merasa jadi bumerang. Sementara Herryl tersenyum mendengar pembelaan adik-adik bimbingannya.


"Nggi, Kia. Kak Maya masih belum waktunya menikah. Kak Maya masih harus ujian sekolah, kuliah, dan jadi arsitek sesuai cita-cita Kak Maya," jelas Maya menceritakan alur yang harus ia lalui.


"Tapi Mama bisa nikah sambil kuliah, Kak. Sekarang Mama jadi guru, pas sama cita-cita Mama dulu," elak Anggi mengemukakan pendapatnya. Maya terkejut. Anak ini suka mendebat rupanya. Sementara Herryl tersenyum seperti mendapat ide baru.

__ADS_1


"Iya, May, kita nikah pas kamu kuliah saja," usul Herryl yang langsung dilempari kemasan dus kecil coklat oleh Maya sebagai responnya.


"Kamu boleh pulang, Ryl. May mau istirahat, besok ujian," perintah Maya.


"Tuh, kan. Pasti nyuruh pulang," keluh Herryl lagi. Akhirnya lelaki itu pamit pulang setelah menepuk puncak kepala Maya. "Semangat, ya, ujiannya," ucap Herryl. Ia juga pamit pada Anggi dan Kia.


...***...


Selama 3 hari, Maya duduk sendiri saat ujian. Kali ini hanya kelas 3 yang bersekolah. Kelas 1 dan 2 diliburkan agar kakak kelas mereka berkonsentrasi mengerjakan ujian.


Matematika. Maya berdoa kemudian mulai menulis di kertas buram rumus serta perhitungannya. Ketika yang lain sudah belajar cara cepat menghitung ketika di tempat les, Maya masih setia dengan perkalian bersusun, rumus pythagoras, juga pembagian porogapit.


Seperti biasa, Maya mengerjakan soal dengan cermat dan tidur sambil menunggu waktu ujian selesai.


"Di," sapa Maya seusai mereka ujian Bahasa Indonesia, ujian terakhir. Maya mengajak Riana ke kelas tempat Hardi ujian karena ingin menanyakan sesuatu.


"Ya?" jawab Hardi sambil memakai tas ranselnya.


"Kapan karate lagi?" Maya bertanya.


"Oh, baru mau kuumumkan di mading sekolah. Besok sore ada pertemuan, perpisahan kelas 3 klub karate," jawab Hardi. Maya mengangguk.


"Terima kasih, Di." Maya mengucapkan terima kasihnya sambil menggantung sebuah keinginan yang malu untuk dia ungkapkan.


Seolah mengerti maksud Maya, Hardi mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan pesan dari Adrian.


[Semangat ujiannya, semoga lancar.]


Maya membaca pesan tersebut. Dikirim hari Minggu.


"Kita belum sempat ketemu sejak ujian, May. Maaf baru memberi tahu pesannya," ucap Hardi menjelaskan. Maya mengangguk, mengerti kesibukan mereka masing-masing.


"Terima kasih, Di," ucap Maya kemudian mengajak Riana pulang bersama.


...-bersambung-...


Anak kecil zaman sekarang sudah nggak malu ya ngajakin cowok nikah? Hahahaha, kan Herryl jadi kalang kabut.

__ADS_1


__ADS_2