![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Herryl sudah 3 bulan ini menjalani kehidupan di Exeter College, salah satu College di Oxford. Untuk menjaga kesehatannya ia mengikuti klub gym. Jadwalnya seminggu sekali sehingga ia masih bisa mendalami materi kuliahnya.
"May, aku ikut Oxford Union, ya, klub debat," tulis Herryl meminta pendapat gadisnya pagi itu. Terlihat seperti meminta izin dibanding meminta pendapat. Herryl sudah mulai terbiasa menyimak aksen British sehingga merasa mampu untuk ikut klub yang mengandalkan kemampuan berbicara dan menyimak itu.
"Kalau kamu bisa bagi waktu sama kuliahmu, silakan, Ryl," jawab Maya melalui pesannya yang baru datang.
"So many thanks, May. Love you," balas Herryl lagi. Ia bersiap menunggu balasan Maya.
"Dilarang ngegombal," begitu isi pesan Maya yang membuatnya tertawa kecil. Segera ia bersiap untuk berangkat kuliah yang hanya 2 jam hari ini.
Sementara itu, di tanah berdirinya Monas, Maya sedang menunduk malu membaca pesan Herryl. Wajahnya memerah, untunglah ia duduk sendiri di kantin sehingga tidak ada yang menggodanya.
Kebiasaan kamu. May, kan, harus jaga hati May, Ryl.
Gadis itu segera beranjak ke kelas. Senyum sumringah terus muncul di bibirnya tanpa bisa ditahan.
...***...
"Herryl, kamu mau makan? Kali ini kuajak kau keluar Exeter. Ada kafe yang baru dibuka di luar sana," ajak Tom, salah satu temannya. Herryl mengangguk. Sudah siang memang, ia baru saja menyelesaikan pemahaman terhadap materi yang diberikan pagi ini. Setelah membereskan tasnya, Herryl mengikuti Tom keluar dari perpustakaan. Mereka menuju kafe yang terletak sekitar 500 meter dari college. Di Oxford, ke manapun kita pergi, sangat lazim bila berjalan kaki.
Saat akan memasuki kafe, pandangan Herryl tertuju pada pasangan muda-mudi yang bersandar di dinding. Herryl mengalihkan wajahnya begitu menyadari apa yang pasangan itu lakukan.
"Kamu kenapa? Tidak terbiasa melihat orang berciuman?" tanya Tom yang menyadari sikap Herryl.
"Ah, ya, tidak biasa selain di film," jawab Herryl kikuk.
"Memangnya kamu belum pernah melakukannya dengan pacarmu?" tanya Tom lagi. Kini mereka berdua sudah duduk berhadapan setelah memesan makanan.
Dipeluk aja nggak mau dia, batin Herryl.
"Kami baru sampai tahap berpegangan tangan," jawab Herryl dengan senyum mengembang. Sementara Tom membelalakkan matanya demi mendengar jawaban Herryl.
"Tapi kamu mau mencobanya dengan yang lain? Lihatlah, banyak perempuan di sini yang mau kalau kau ajak one night stand. Dengan dirimu yang good looking pasti mereka tidak keberatan," saran Tom.
Gila.
"Tidak, Tom, terima kasih," elak Herryl masih sambil tersenyum.
"Atau kau mau mencoba sekadar mencium mereka? Anggap saja latihan supaya kau menjadi pencium yang baik," usul Tom tidak gentar.
"Tidak, Tom. Aku hanya ingin melakukannya dengan pacarku setelah menikah," tolak Herryl. Tom tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Aku mengerti kalian orang Asia masih memakai adat Timur. Tapi, ayolah, hanya mencicip sedikit tidak apa, kan? Tidak akan terlihat bekasnya karena kita laki-laki," bujuk Tom lagi. Mahasiswa asal Amerika itu tidak berhenti membujuk Herryl.
"Memang, Tom, tidak ada bekasnya. Tapi, jika dia menjaga dirinya untukku, kenapa aku tidak melakukan hal yang sama, menjaga diriku untuknya?" argumen Herryl lembut.
"Kau kuno, kawan."
"Hahaha, aku memang suka yang klasik, Tom," jawab Herryl sambil tertawa kecil. Makanan datang dan mereka menyantap makan siang masing-masing.
Syukurlah kita dipisahkan oleh jarak, May. Aku jadi belajar untuk menahan diri terhadapmu. Bagaimanapun, kamu sangat menggemaskan dan aku adalah lelaki normal. Tentu aku punya hasrat terhadapmu, kekasihku. Ah, bahkan kita belum pacaran, katamu. Dasar, batin Herryl sambil tersenyum.
"Setelah ini mau ke mana?" tanya Tom lagi. Hari ini bukan jadwal mereka ke gym. Ya, Tom juga merupakan teman gym Herryl.
"Mendaftar Oxford Union," jawab Herryl lagi.
"Ah, itu. Oke, aku ke dormitory duluan, ya. Mau mengerjakan tugas dari Profesor McConfey," ujar Tom yang kamarnya berada di lantai yang sama dengan Herryl. Herryl kemudian mengangguk.
Sementara itu, Maya masih belum pulang sesore ini. Ada tugas kelompok membuat maket yang dikerjakan bersama teman sekelasnya.
"May, lo nggak pernah jalan sama cowok lo," komentar Eka, salah satu anggota kelompoknya sambil menempelkan bagian gedung.
"Lo nggak tahu? Cowok dia di luar negeri, dulunya Ketua OSIS," sahut Randi yang malah asik makan somay daripada membantu teman-temannya. Ya, ketika ada tugas kelompok, pasti tidak semuanya anggota yang ada di dalam kelompok itu ikut bekerja, bukan?
Maya hanya diam dan meneruskan kegiatannya menempel bagian jalan dan lampu jalan. Mereka sedang membuat maket perpustakaan daerah dengan penataan area parkir yang mereka rancang sendiri.
"Lagi ngapain?" tanya Herryl. Ia baru saja menyelesaikan makan siangnya.
"Ngerjain tugas kelompok," jawab Maya.
"Berarti cuma kamu yang perempuan?"
"Iya."
"Berapa orang?"
"Lima sama May. Kenapa, Ryl?"
"Cepat selesaikan dan pulang, ya," pinta Herryl dengan nada yang terdengar gelisah.
"Iya. Tapi kenapa?"
"Aku khawatir kamu perempuan sendiri di sana."
__ADS_1
"Nggak usah khawatir, Ryl. May bisa jaga diri, kok," jawab Maya berusaha menenangkan lelakinya. Bukannya sudah biasa, ya, Herryl mendapat kabar kalau May mengerjakan tugas kelompok sebelum ini?
"Tapi, aku nggak di sana kalau ada apa-apa sama kamu, May."
"Ya, doakan May baik-baik saja, dong."
"Kamu, tuh, nggak ngerti, ya, kalau aku cemburu?"
KLEK!
Maya mengerutkan kedua alisnya. Kenapa, nih, anak? Maya membatin heran dengan nada bicara Herryl yang berbeda dari biasanya. Tapi, tidak dapat dipungkiri hatinya menghangat setelah kalimat terakhir Herryl diucapkan. Kalimat sederhana tanpa banyak kiasan, tapi mampu membuat degup jantung pendengarnya menjadi tidak beraturan. Sebuah senyum terbit di bibir Maya.
Sementara di Oxford, Herryl sedang mengatur nafasnya. Ia panik ketika mendengar bahwa Maya yang hanya satu-satunya perempuan di kelasnya sedang mengerjakan tugas kelompok dengan empat mahasiswa lainnya. Ia khawatir ada yang akan menarik perhatian Maya. Aku takut kamu melihat lelaki lain, May.
Herryl segera menuju ruangan di mana Oxford Union beraktivitas. Si penggemar debat itu ingin meningkatkan skillnya.
"Ryl, aku lagi di London. Kamu di mana?" tanya pengirim pesan di dalam aplikasi percakapan miliknya. Saat melihat foto profil pengirim, Herryl memicingkan matanya. Thalita?
"Di Oxford," jawab Herryl singkat.
"Kita meet up, yuk, mumpung aku lagi liburan," ajak Thalita kemudian.
"Siapa saja yang ikut?" tanya Herryl kemudian.
"Aku ajak Karen dan Randy, pacarku," jawab Thalita.
Hebat sekali persahabatan kalian, meski Thalita kuliah di Belanda dan Karen di Indonesia, kalian tetap bersama. Salut, batin Herryl.
"Aku ada agenda sore ini. Kalau kalian mau, datanglah ke Exeter College, Oxford," jawab Herryl lagi.
"Oke."
Kapan kamu yang ke sini, May? Aku ingin menikmati Oxford bersamamu. Kalau kamu lelah, aku akan menggendongmu ke tempat-tempat klasik ini. Kamu pasti suka karena ini tempat Tolkien, penulis Lord of The Rings kesukaanmu.
Dalam jarak 98 kilometer, Thalita mengajak Karen dan Randy naik kereta dengan Oxford sebagai tujuannya. Perjalanan yang memakan waktu 1 jam itu dinikmati betul oleh ketiga turis muda tersebut. Randy juga sudah menyimpan lokasi Exeter College di peta ponselnya yang akan mereka gunakan begitu sampai di Oxford.
...-bersambung-...
hai halo hai
kali ini saya sedikit mengulas tentang Oxford. Bagaimana kelanjutannya? stay tune yaaa
__ADS_1
oh, iya, tak lupa saya berterima kasih pada teman-teman yang setia menyimak kisah Herryl dan Maya. Tetap setia sampai akhir, ya, seperti setianya Herryl ke Maya hehehehe.
jaa, matta ne