![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Hai halo hai, temans. Apa kabar? Semoga selalu sehat dan dalam lindunga-Nya, yaaa
Kali ini sya mau bawa kabar. Yup, sya buat dua cerita baru yang jauh dari Herryl Universe. Kenapa bisa jauh? Karena tokohnya hanya sedikit bersinggungan dengan tokoh dari Herryl Universe.
...Kembaraka...
Kembaraka ini berkisah tentang Raka Ekawira. Supervisor yang terdampar ke masa dua puluh tahun sebelumnya. Di saat dia SMA, Raka dapat misi untuk menyelamatkan temannya. Gimana ceritanya? Cek aja info terbarunya di instagram sya: @torehan.sya
Raka melihat seluruh rekan kerjanya melakukan arahan sesuai aturan mitigasi bencana alam. Berurutan untuk menuruni tangga. Tidak terkecuali dengan para staf di dalam divisinya. Raka mengumpulkan barang pribadi miliknya dan berencana ikut serta. Nahas, sebuah runtuhan sebesar potongan batu bata menimpa kepalanya.
TAK!
"Bangun!" suara tegas itu tertangkap ruang dengar sang supervisor. Bersamaan dengan itu, ia merasakan kepalanya dijadikan landasan sebuah benda. Raka kemudian mendongakkan kepalanya. Gempanya sudah selesai? Lelaki itu bertanya dalam hati sebelum akhirnya matanya membola melihat pemandangan di depannya.
__ADS_1
Apa ini?
Suara tadi berasal dari Pak Rustam, guru sejarahnya saat SMA kelas dua. Mata Raka menelusuri tangan kekar sang guru yang diyakini memegang alat untuk memukul kepalanya tadi. Sebuah penggaris kayu berwarna kuning tertangkap indera penglihatannya. Jadi, itu tadi yang dipakai untuk memukulku? Raka kemudian mengalihkan pandangnya pada ruang kerja yang lenyap, berganti dengan ruang kelas di era 2000an, tepatnya tahun 2001.
...Renjanasa...
Saat ini dua cerita itu yang sya tulis. Temans, ikuti, yuk, ceritanya. Nggak nyesel, kok. Sya berusaha ada pesan yang disampaikan dalam setiap naskah yang sya tulis. Mau sedikit spoiler?
__ADS_1
"Serena?" sapa sebuah suara maskulin. Gadis berambut sebahu dan berkacamata itu merasa namanya dipanggil sehingga ia menoleh ke arah suara.
Meski sudah memakai kaca mata, Serena masih memicingkan matanya, mencoba mengingat wajah yang tampak familiar. Siapa?
"Ya, maaf, dengan si ... Alan?" Akhirnya gadis itu menyadari lelaki tegap yang memanggilnya tadi.
"Hei, jangan pakai -si. Kalau digabung jadi nggak enak dengarnya," protes lelaki yang kini sudah berhadapan dengan Serena. Lelaki itu tertawa dengan cara anggun yang tidak pernah lepas dari sosoknya.
"Papa Alan! Aku ambil daun yang sudah jatuh!" teriak seorang anak laki-laki yang kiranya berusia lima tahun. Ia tanpa canggung menghampiri dua anak adam yang sedang reuni itu sambil menunjukkan berlembar daun sewarna batang pohon pada Alan.
"Untuk apa daunnya?" tanya Alan.
"Dibuang ke tempat sampah," jawab anak kecil tersebut yang kemudian berlalu meninggalkan kedua manusia dewasa tersebut.
__ADS_1
"Itu ... anakmu?" tanya gadis itu sambil menyiapkan hatinya. Patah lagi? Tapi, untuk apa? Toh selama ini ia tidak pernah berharap, bukan?
Yap! Segitu dulu. Lanjutannya cek instagram sya yaaa