![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"May, kita kencan, yuk," ajak Herryl pagi ini. Mereka sedang bersantai di ruang baca dengan pemandangan taman belakang. Maya mendesain dinding kaca yang bisa digeser jika mereka ingin menikmati taman belakang sambil membaca. Maya menutup buku yang ia baca lalu menoleh ke arah suaminya yang masih asyik memainkan anak rambut sang istri.
"Ke mana?" tanya Maya.
"Ke taman bermain, nonton, makan," jawab Herryl sambil tersenyum.
"May nggak mau antri, Mas," pinta Maya. Herryl tersenyum mendengarnya. Ada desiran hangat setiap kali mendengar istrinya memanggil dengan sebutan "Mas".
"Iya. Weekdays kan agak sepi," jawab Herryl mengabulkan. Tangannya mengusap kepala Maya.
"May siap-siap dulu, ya," ujar Maya dengan senyum sumringah.
...***...
Di sinilah mereka berdua, Dunia Fantasi. Herryl membantu Maya melepas helm sebelum lelaki itu memarkir motor maticnya.
"Cantik. Terima kasih, ya," ujar Herryl.
"Untuk?"
"Nggak jadiin aku tukang ojek lagi," lanjut Herryl sambil tertawa kecil. Tadi sepanjang perjalanan memang Maya melingkarkan tangannya di pinggang sang suami. Perempuan itu menyamankan dirinya selama perjalanan.
Mengingat hal itu, pipi Maya memerah. Dicubitnya lengan Herryl.
"Maaas," ucap Maya manja karena malu. Herryl tertawa kecil. Digenggamnya tangan mungil milik Maya, berdua menuju loket tiket.
__ADS_1
Setelah menikmati beberapa permainan, sepasang suami istri yang sedang cuti menikah itu duduk di kafe terbuka.
"Tunggu di sini, ya," ujar Herryl. Lelaki itu menuju tempat pemesanan makanan. Sekitar sepuluh menit kemudian, ia sudah membawa semangkuk es teler dan sepiring spagheti, makanan kesukaan Herryl.
"Mau makan atau minum dulu?" tanya Herryl saat mereka sudah duduk berdampingan.
"Mas," panggil Maya.
"Ya?"
"Mas lagi tanggal tua, ya?" tanya Maya lagi.
Herryl terkejut mendengar pertanyaan Maya.
"May, masa aku ada tanggal tua?"
"Nggak, lah, May. Aku sadar kalau jadi seorang suami itu wajib memenuhi semua kebutuhan istrinya," elak Herryl. Lelaki itu masih tidak habis pikir kenapa Maya menuduhnya pelit.
"Kenapa belinya cuma sepiring dan semangkuk?" tanya Maya kemudian yang ditanggapi kerjapan mata Herryl.
"Apa?" Seketika Herryl tertawa kecil kemudian memutar garpunya di piring agar spagheti terkumpul kemudian menyodorkan di depan Maya. "Buka mulutmu," perintah lelaki itu sambil tersenyum. Maya menuruti untuk disuapi suaminya. "Ini namanya makan sepiring berdua. Biar romantis, May. Bukan aku pelit. Kalau aku mau, aku bisa memborong semua spagheti untukmu. Tapi buat apa? Lebih romantis begini, kan?"
Jadi benar, ya? Tadi bukan May yang terlalu berharap diperlakukan romantis, kan?
"Maaf," ujar Maya setelah ia menelan spagheti di mulutnya. "Ajari May, ya," pinta Maya.
__ADS_1
Herryl menepuk kepala Maya gemas.
"Iya, kuajari supaya lebih peka atas semua sikapku," jawab Herryl.
"Mas, laper. Suapi lagi," pinta Maya manja.
"Ini, sih, nyuapin anak kecil, bukan romantis," komentar Herryl sambil tertawa kecil.
"Mas nggak mau?" tanya Maya, tepatnya mengeluh.
Herryl tersenyum seraya menggeleng perlahan.
"Aku mau, May. Aku selalu mau suapi kamu, manjain kamu," ujar lelaki itu sambil menatap istrinya.
Tatapan dalam dari mata elang itu membuat Maya gugup, jantungnya berdebar tidak karuan. Herryl selalu mampu membuat istrinya salah tingkah karena sikap atau perbuatannya. Disendoknya es teler yang berada tidak jauh dari jangkauan tangannya.
"Dingin." Maya seolah terkejut ketika es teler itu masuk ke dalam mulutnya.
Sontak Herryl terkekeh.
... ----------------------------------------------------------...
Sekelumit ekstra part khas Herryl dan Maya. Semoga teman-teman suka, yaaaaa. Sya berharap ada pesan yang dapat diambil dari kisah Maya dan Herryl.
oh iya, part berikutnya akan saya isi tentang tanya jawab teman-teman terhadap Maya & Herryl. Pengumpulan pertanyaan di komentar part ini, yaaaa
__ADS_1
ditunggu komentar, like, dan favoritnya yaaaa
Sampai jumpa di sana. Jaa, matta ne.