![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Maya berjalan dengan perasaan kesal. Ternyata Herryl masih suka meledeknya walau lama tidak berjumpa.
"Kirain berubah. Buat apa sikapnya waktu itu? Nggak berubah. Suka apanya? Nyesel udah minta tolong. Nggak lagi-lagi, deh," rutuk Maya sambil berjalan ke kelasnya.
Sementara di lantai satu, Herryl memasang raut wajah penyesalan. Kenapa, sih, ada kesempatan ketemu malah ngeledek? Herryl membatin sambil sesekali menyapa siswa yang berpapasan dengannya.
...***...
Maya sedang asyik mengerjakan latihan soal buku tosca ketika Mama memanggilnya.
"Nduk, ada Herryl," ucap Mama.
"Ya udah, Mama temenin aja," sahut Maya tanpa mengalihkan tatapannya dari buku yang sedang dikerjakannya.
"Mama yang nemenin? Udah kayak calon mantu saja, Nduk," sahut Mama menggoda.
"Apa, sih, Ma? Iya, deh, Maya keluar. Tapi temenin," elak Maya. Diletakkannya pensil yang dipakainya kemudian ia keluar kamar menemui tamunya.
"Nih, tabloid olahraga," ujar Herryl sambil menepuk tumpukan tabloid belasan edisi yang sudah diikat. Maya duduk agak malas.
"Oh, terus?" Maya bertanya cuek. Ia masih kesal atas ledekan Herryl tadi siang.
"Ya, bisa dipakai untuk tugas," jawab Herryl santai.
"May nggak mau minta bantuan," sahut Maya masih dalam mode ngambeknya.
"Maaf soal tadi di sekolah. Aku nggak berniat ngeledek, kok," sesal Herryl, masih dengan senyum mengembangnya. Maya? Masih cemberut.
"Begini, ya, kalo pacarnya ngambek?" Herryl bertanya. Maya segera menatap Herryl tajam.
"May bukan pacar Herryl." Ketus ia ralat pernyataan Herryl.
"Iya, calon istri," celetuk Herryl lagi, berakibat ia mendapat lemparan bantal duduk dari Maya.
"Kalo ngomong yang bener," omel Maya tidak terima atas pernyataan Herryl.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum. Eh, ada Nak Herryl," sapa Bapak yang baru pulang. Herryl dan Maya langsung menjawab salam dan mencium tangan Bapak, salim.
"Iya, Pak," jawab Herryl.
"Pantas saja pintu kebuka. Ada apa, nih, tumben?" Bapak menanyakan keperluan tamu mereka sambil meletakkan sepatu di raknya. Tepat di pojok ruang depan.
"Ini, Pak, bantu tugas Kak Maya, katanya perlu tabloid olahraga," jawab Herryl lagi menjelaskan kedatangannya.
"Oh, gitu. Bapak masuk dulu. Monggo dilanjut. Bagus Nak Herryl datang, Maya nggak perlu bengong mikirin Nak Herryl lagi, hahahaha," celetuk Bapak sebelum masuk ke dalam. Maya yang mendengar kalimat terakhir tidak bisa diam saja. Sementara Herryl tertawa kecil mengetahui kenyataan manis yang diutarakan Bapak.
"Apa, sih, Bapak? Apa kamu ketawa? Seneng kalo May diledekin?" Rutuk Maya kesal. Kenapa semua orang di rumah jadi menyebalkan seperti tamunya ini, ya?
"Sudah, sudah. Ini dilihat dulu tabloidnya supaya kamu bisa pilih jenis olahraga yang mau dibuat kliping," ujar Herryl mencoba alihkan pembicaraan. Jujur saja, ada rasa senang mengetahui bahwa Maya di rumah juga memikirkan dirinya.
Maya akhirnya menuruti saran Herryl. Dilihatnya satu edisi tabloid yang ia heran berbeda dengan tabloid yang biasanya ia lihat di toko buku.
"Kok, english semua?" Maya bertanya. Jangan-jangan...
"Aku langganannya memang tabloid dari UK (Inggris). Nggak masalah, kan?" Herryl menjelaskan sambil memastikan bahwa ia tidak menyulitkan Maya.
Dasar anak orang kaya. Langganan tabloid aja dari Inggris. Maya membatin takjub dengan kemampuan keluarga Herryl. Tapi, artinya...
"Iya, jelas. Tujuanmu supaya pembaca di sekolah memahami isi kliping, kan? Setahuku beberapa kliping ada yang disimpan di perpustakaan," jawab Herryl lagi, menganalisa kondisi perpustakaan sekolah.
"Ryyyl, kamu ngerjain May? Bener-bener, deh," Maya sewot dengan pemikiran Herryl. Ia harus mencari dan menerjemahkan?
"Eh, bukan itu. Gini, kamu punya nilai plus di tugas kamu nantinya. Kliping wawasan baru dan secara nggak langsung mengajarkan penggunaan english ke teman-teman. Gimana?" Elak Herryl atas dugaan Maya. Maya mengangguk. Iya juga, ya.
"Soal wawasan baru?" Maya bertanya.
"Kalau saranku, pakai kriket. Ini olahraga yang populer di UK. Aku yakin belum ada yang bahas," jawab Herryl lagi sambil menunjukkan halaman bergambar orang sedang bermain kriket. Maya mengamati artikel yang ditunjuk oleh Herryl. Sepertinya mudah.
"Yosh! Oke, makasih, Ryl. Kamu bisa pulang," ucap Maya sambil mengusir tamunya.
"Tega banget," protes Herryl seolah sedih.
__ADS_1
"Ma, Herryl mau pulang," ujar Maya tanpa peduli protes yang diucapkan Herryl. Bu Rini yang mendengar itu segera keluar untuk mengantar tamunya. Herryl mau tak mau pamit karena ulah Maya. Awas kamu, May. Herryl membatin gemas atas sikap Maya padanya.
"Saya pamit, Bu. Jangan begadang, ya, May," ucap Herryl sambil menyalami Bu Rini kemudian menepuk kepala Maya.
"Hati-hati, Nak. Terima kasih sudah mau repot membantu tugas Maya," jawab Bu Rini. Herryl kemudian pergi dari rumah kecil itu.
...***...
Sudah 3 hari Maya berkutat dengan tugasnya, menerjemahkan artikel. Setiap hari selama jam istirahat atau jam kosong ia gunakan untuk menerjemahkan artikel dan berita tentang kriket. Riana jadi tidak memiliki pendengar gosip yang biasa ia sampaikan. Riana tidak heran melihat tabloid Maya berbahasa Inggris. Pikirnya, bos ayah Maya yang memberikan. Andai Riana tahu siapa pemberi tabloid itu, tentu Riana akan semakin mendorong Maya untuk menerima perasaan Herryl.
"May, anterin ke toilet, yuk." Riana mengajak Maya untuk menemaninya. Maya membereskan tugasnya kemudian berdiri dan berjalan di sisi Riana. Mereka berdua menuju toilet yang terletak di dekat koperasi dan ruang guru. Riana bukan tipe gadis yang lama berada di toilet sehingga sebentar saja ia sudah menunaikan hajatnya.
Saat Maya dan Riana akan berjalan menuju tangga, seseorang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah, tepat di samping ruang guru. Maya berhenti, terkejut ketika sosok itu juga menatapnya. Maya diam saja saat lelaki itu semakin mendekat dengan tatapan yang tidak lepas dari Maya. Sangat jelas lelaki itu memang menghampiri Maya.
"May," sapa lelaki tinggi nan putih itu.
Ini bukan mimpi, kan? May bertanya dalam hatinya. Riana yang melihat lelaki itu juga sama terkejutnya dengan Maya. Mereka berdua mematung, menunggu lelaki itu berada di hadapan mereka sambil berharap bahwa mereka salah orang.
"Ri, sini tanganmu," perintah Maya pelan. Matanya masih menatap orang yang di depannya. Riana memberikan tangannya dan dicubit oleh Maya sampai Riana mengaduh. "Oh, bukan mimpi. Eh, tapi mungkin salah orang," lanjut Maya. Sementara Riana kesakitan.
"May, apa kabar?" Kini lelaki itu sudah berdiri tepat di hadapan Maya dan menanyakan kabar.
"Kamu?" Maya menggantung pertanyaannya.
"Iya, aku," jawab lelaki itu.
"Kamu?" Maya memastikan lagi sambil menatap wajah yang tidak disangkanya itu. Maya harus mendongak karena lelaki yang di hadapannya memanglah tinggi.
"Iya, ini aku, Adrian," jawab lelaki itu. Mata Maya semakin berembun, ada air mata yang mendesak keluar.
"Kamu..." Maya kembali berucap satu kata yang sama. Kali ini nadanya bergetar dan air mata sudah mengalir. Maya mengusapkan lengannya ke matanya, mencegah tangisan yang ia khawatirkan menarik perhatian siswa lainnya.
"Iya, ini aku, Adrian van Coen," jawab Adrian lagi sambil tersenyum. Riana hanya diam saja.
...-bersambung-...
__ADS_1
Hai, Adrian tiba-tiba datang. Bakalan galau maksimal deh Maya. Tapi, Adrian ngapain ke sekolah Angkasa, ya? Terus, nasib Herryl gimana? Oh iya, ini visualisasi kriket yang diusulin Herryl ke Maya.