[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Riana Gemas


__ADS_3

Maya masih memikirkan ucapan Hardi sejak semalam. Rasanya ungkapan yang dilontarkan oleh Hardi adalah sebuah keajaiban.


Orang kaya, tampan, populer, masa iya suka sama anak jelek dan biasa aja kayak May? Tapi Hardi kemarin kelihatannya serius, nggak lagi bercanda. Tapi, dia mau pergi. Maya membatin masih tidak percaya. Bagaimanapun kini ia sangat bahagia sekaligus sedih dalam waktu bersamaan. Kenangan dirinya saat bersama Hardi mulai berkelebat. Hardi yang selalu menolongnya, menenangkannya, mengingatkannya terkait aturan-aturan dalam karate. Hardi yang terkadang memintanya mengajari bila ada pelajaran yang tidak dipahami.


"Kenapa, Nduk?" Mama bertanya karena dilihatnya sang anak gadis seperti tidak bersemangat mencuci piring. Biasanya mereka berdua akan mengobrol ringan. Entah Maya yang menceritakan kesehariannya di sekolah maupun wawasan baru yang didapat, entah Mama yang akan menceritakan pekerjaannya atau berita baru yang Mama ketahui.


"Nggak, Ma. Teman Maya mau pergi katanya," jawab Maya tergagap ketika menyadari dirinya ketahuan bengong oleh Mama.


"Bukannya sudah pergi, ya?" Mama mencoba memastikan.


"Oh, itu. Beda lagi. Ini Adi, Ma. Adi TK dulu," elak Maya. Ia memahami yang mamanya maksud adalah Adrian. Adrian ...


"Oh, iya, Mama ingat. Mau ke mana dia?"


"Ke Jepang, Ma. Kuliah di sana katanya," jawab Maya lagi. Mama tersenyum.


"Mama bersyukur, Nduk. Dengan kamu jadi anak baik di sekolah, kamu punya teman-teman yang hebat. Orang kalau cita-citanya nggak kuat, nggak akan keluar dari zona nyamannya, Nduk. Mama yakin, kamu dan teman-temanmu akan jadi orang hebat, bermanfaat," pesan Mama.


"Iya, ya, Ma? Aamiiin. Makasih doanya, Ma," sahut Maya menanggapi pesan yang Mama sampaikan.


Mama mengangguk dan melanjutkan memasak. Maya ikut tersenyum. Benar, May harus mendukung keputusan teman-teman May.


"Jadi minggu depan libur?" Mama bertanya lagi setelah memasak.


"Iya, Ma. Setelah itu ke sekolah cuma untuk urusan administrasi, kembalikan buku pinjaman, cap tiga jari, foto buku tahunan, sama wisuda," jawab Maya.


"Ya, sudah. Baik-baik di rumah, ya," ucap Mama berpesan sebelum berangkat. Maya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya, menyapu lantai.


Maya benar-benar anak rumahan. Ia tidak memiliki rencana ke manapun selama berlibur. Mau ke mana?


...***...

__ADS_1


Hari ini Maya kembali bersekolah. Di tasnya sudah terisi beberapa buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Ya, hari ini adalah hari pengembalian buku pinjaman.


Kakinya melangkah ke lantai 2, menuju ruangan besar berisi rak buku yang disebut perpustakaan. Karena masih pagi, hanya beberapa siswa yang keluar masuk ruang besar tersebut.


Perpustakaan yang sangat nyaman menurutnya. Bagaimana tidak? Berbagai bean bag disediakan agar para pengunjung nyaman membaca buku. Terdapat juga meja kursi untuk mengerjakan tugas. Lampu yang terang menambah suasana yang nyaman dan tidak suram.


"Selamat pagi, Bu Yana. Saya ingin mengembalikan buku," sapa Maya menyatakan tujuan kedatangannya pada penjaga perpustakaan yang sudah hafal dengan dirinya.


"Pagi, Maya. Sudah mau lulus, ya?" Bu Yana membalas sapaan hangatnya. Segera jarinya lincah mengetik nama Maya Anggraini di keyboard.


Maya mengeluarkan semua buku yang dipinjamnya. Bu Yana mengecek satu per satu buku tersebut kemudian tersenyum.


"Oke, kamu sudah mengembalikan semua buku tanpa denda. Terima kasih untuk kerja samanya," ujar Bu Yana sebelum akhirnya Maya berterima kasih kemudian pamit.


"May, sudah?" Riana menyapa temannya yang baru keluar dari perpustakaan. Maya mengangguk, mengiyakan. "Tungguin," lanjut gadis manis itu. Maya mengangguk lagi kemudian berdiri di pinggir koridor. Semakin banyak siswa yang datang untuk mengembalikan buku, termasuk Geng Red Hot. Thalita melirik sebentar sebelum melewati Maya. Terdengar cebikan kasar dari mulut gadis cantik itu.


"May, kumpul dulu di kelas, ya. Ada pengumuman kata Pak Handoyo," pesan Arkan yang baru datang pada Maya. Ia sudah mengumumkan di grup kelas. Tapi Maya tidak ada dalam grup kelas di aplikasi percakapan mereka. Tentu saja karena Maya tidak memiliki ponsel.


"Iya, Kan," jawab Maya. Ia masih berdiri menunggu Riana. Syukurlah ia tidak perlu lama menunggu karena Riana keluar beberapa menit kemudian.


"Ri," panggil Maya ketika kedua gadis itu sudah duduk di kursi masing-masing dan meletakkan tasnya. Melihat Riana seperti sudah siap mendengarkan, Maya melanjutkan ucapannya. "Hardi bilang suka," cerita Maya yang berhasil membulatkan mata Riana saat mendengarnya.


"Beneran? Ya ampun, selamat, ya, May. Akhirnya," respon Riana berbahagia. Perasaan sahabatnya selama ini terbalas.


"Tapi dia mau ke Jepang, Ri," lanjut Maya menegasikan ucapan selamat yang diutarakan Riana.


"Eh?"


"May nggak tahu harus gimana. Di satu sisi senang dia bilang suka. Di sisi lain May sedih dia mau pergi."


Riana mengelus punggung Maya, menenangkan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Tapi kata Herryl, kalau kita teman baiknya, kita dukung cita-cita dia," lanjut Maya yang membuat Riana menarik tangannya dari punggung Maya. Kedua matanya mengerjap.


"Jangan bilang kalau ..." Riana menduga dan Maya mengangguk, mengiyakan dugaan Riana. Segera Riana menepuk dahinya. Gemas dengan sikap sahabatnya ini.


"Maaaay, dulu kamu curhat ke Hardi soal Herryl bilang suka, sekarang bilang Herryl kalau Hardi bilang suka. Mau kamu apa, sih, May? Mau mereka ribut?" Riana benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya ini.


"Mereka nggak ribut, kok, Ri," jawab Maya lagi.


"Kenapa nasibku ngenes begini, punya sahabat kayak kamu, sih, May?" Riana mengerang, pusing dengan kepolosan Maya.


"Begini, ya, May. Herryl itu suka sama kamu. Terus dia dengar ada cowok lain yang bilang suka ke kamu. Gimana perasaannya?" Riana mencoba mengajak Maya menganalisa.


"Tanya dia, dong. Kok tanya May?" Maya menjawab. Riana menghela nafas. Gemas.


"Dia cemburu, May," Riana memberitahu.


"Kok jadi bahas Herryl? Kan lagi bahas Hardi," protes Maya.


"Masalahnya kamu curhat ke Herryl soal Hardi," sahut Riana lagi.


"Kan, May cerita, Ri," balas Maya lagi.


Belum sempat Riana menjelaskan, Pak Handoyo sudah datang.


"Anak-anak, Bapak ucapkan selamat karena kalian sudah menempuh ujian. Kalian sudah berusaha dengan baik. Semoga hasilnya nanti adalah hasil yang terbaik. Sekarang, Bapak ingin membahas beberapa hal. Arkan, tolong tuliskan time schedule kita sampai kalian lulus," ujar Pak Handoyo diakhiri perintah pada ketua kelas. Arkan mengangguk kemudian menulis jadwal mereka di papan tulis.


Pembahasan diwarnai celetukan khas siswa SMA. Maya mengeluarkan buku tulis kemudian mencatat pembahasan mereka. Foto untuk buku tahunan, cap tiga jari, pengambilan ijazah, dan wisuda. Maya sendiri masih harus ke ruang BK untuk mengurus keperluannya kuliah di Universitas Angkasa.


"Selebihnya Bapak serahkan pada kalian. Baik, sekian pengumuman dari Bapak," tutup Pak Handoyo akhirnya.


...-bersambung-...

__ADS_1


hai halo hai


gimana?


__ADS_2