![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"May, kamu manggil aku?" sebuah suara membuat Maya berbalik. Gadis itu melihat jalanan lengang. Cuma halusinasi. Apa May terlalu mikirin kamu, Ryl? Gadis itu menatap langit. Apa kamu menatap langit saat ini? Di sana tentu masih gelap. Semoga kamu lelap.
"Kak Maya," sapa Tiara yang baru datang. Maya menoleh dan mendapati Tiara sedang mendekat. Tidak lama kemudian Hadi dan Kirana menyusul. Mereka berempat memasuki kantor kelurahan.
"Lama-lama kita hapal semua isi proposal sampai nomor halamannya, ya," canda Hadi yang ditingkahi tawa teman-temannya.
Keempat mahasiswa tersebut menemui kepala kelurahan kemudian menyampaikan rencana mereka.
"Baik. Saya mengerti. Nanti kami siapkan kader untuk menjadi pengurusnya. Kalian bersama pengurusnya bisa membawa surat rekomendasi saya untuk mendaftarkan bank sampah ke Dinas Lingkungan Hidup." Pak Bobby sang kepala kelurahan menjelaskan alur yang harus mereka lalui untuk membentuk tempat pengelolaan sampah terpadu.
"Baik, terima kasih, Pak," ucap Maya mewakili teman-temannya.
"Saya yang berterima kasih. Rencana kalian semoga menjadi salah satu solusi menyadarkan warga tentang sampah."
"Baik, Pak."
Mereka berempat pamit untuk pergi ketika hari menjelang siang. Maya kembali ke rumah sedangkan ketiga temannya menuju kampus karena ada perkuliahan.
Sesampainya di rumah, Maya membersihkan diri kemudian beristirahat sebentar. Satu sampai dua bulan ke depan ia akan sibuk membuat maket.
...***...
"May, mumpung sabtu, jalan, yuk," ajak Riana. Kesibukannya menyebabkan ia hanya bisa sesekali bertemu Maya.
"Capek," tolak Maya. Saat ini mereka berdua sedang berada di kamar Maya.
"May, kamu masih mikirin Herryl?" tanya Riana yang membuat Maya memeluk lututnya di tempat tidur. Gadis itu mengangguk pelan.
"Ternyata mikirin dia bisa sesakit ini, Ri. May nggak paham kenapa bisa begini. May cuma pengen fokus sama kuliah tapi kenapa bayangan dia muncul terus, Ri? Dan May cuma bisa nangis, Ri."
Maya menumpukan kepalanya pada kedua lutut, membiarkan air matanya menganak sungai. Dadanya selalu sakit bila mengingat nama lelaki itu.
Riana hanya bisa memeluk sahabatnya dari samping. Baru kali ini ia melihat Maya begitu rapuh.
__ADS_1
"Kamu mau kita telepon Herryl?" tawar Riana setelah tangis Maya mereda. Maya menggeleng.
"Nggak, Ri. Jangan," elak Maya. Ia masih sesenggukan. "Dia sudah lama nggak kontak May. May nggak mau ganggu dia lagi," lanjut gadis itu.
"Tapi, May-" ucapan Riana terpotong oleh gelengan Maya.
"Please, Ri," pinta Maya. Riana memeluk kembali sahabatnya. Diusapnya bahu Maya, mencoba menguatkan.
"Kamu ingat, kan, May. Musuh Herryl akan banyak kalau dia sampai nyakitin kamu? Aku mau ajak Hardi untuk buat perhitungan ke Herryl," ujar Riana.
"Jangan, Ri. Herryl nggak nyakitin May. May yang nyakitin dia dan diri May sendiri," larang Maya.
"Tapi ...."
"Lagipula, bagaimana kalian buat perhitungan sama Herryl? Terbang ke Oxford?"
Riana mengerjapkan matanya. Masih bisa berpikir jernih, dia.
"Lalu?"
Maya melihat Riana mengedikkan bahunya.
"Dasar," rutuk Maya.
Dia sudah kembali ke mode biasanya?
"Lagian, kamu juga, tumben kurang pintar sampai nyakitin diri sendiri," balas Riana. Tangisan Maya benar-benar berhenti karena Riana yang berhasil membangkitkan mode cueknya.
"I hope i know, Ri. Nyatanya aku nggak ngerti kenapa bisa sesakit itu," ucap Maya. Sendu masih menjadi suasana yang tergambar dari suaranya.
"Kamu sudah baca pesan-pesan Herryl?" tanya Riana. Maya menggeleng. "Baca," lanjut gadis itu.
"Nggak apa-apa?" tanya Maya ragu.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Aku temani, ya," bujuk Riana.
Maya beranjak mengambil ponselnya dan menelusuri kotak percakapan kemudian membuka layar percakapannya dengan Herryl. Sudah hampir dua bulan lalu lelaki itu mengirim pesan-pesannya.
"Aku minta maaf. Aku hanya khawatir padamu." Bunyi pesan pertama yang Maya baca. Riana memegangi bahunya.
"May, kamu baik-baik saja, kan? Istirahatlah kalau kamu lelah."
"Semangat, ya, kuliahnya."
"Kuharap kamu baik-baik saja. Aku minta maaf."
Air mata Maya kembali terjun bebas. Gadis itu mengusap dengan tangan kirinya hingga akhirnya ia sampai pada pesan terakhir. Sebuah audio yang harus diunduh dan berbaris kalimat dalam Bahasa Inggris.
"I've been trying to reach you
'Cause I got something to say
But you're talking about nothing at all
And you're slipping away."
Maya mengetuk lambang unduh kemudian mencoba mendengarkan suara itu.
Alunan suara boyband asal Irlandia kini terdengar. Lagu berjudul "You Make Me Feel" tertangkap ruang dengar Maya dan Riana.
"Bodoh."
Air mata masih mengalir diiringi senyum tipis dari bibir Maya. Hatinya mulai menghangat kembali, bersamaan dengan perih yang tetap ada.
...-bersambung-...
Hai halo hai temans. Penasaran sama lagunya? Coba deh di internet cari judul lagu itu, penyanyinya westlife.
__ADS_1