![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Apa?" tanya Maya terkejut. Gadis itu menunjukkan raut wajah kesal. "Maaf, nggak ada. Walaupun kamu lebih tampan, lebih nyambung ngobrolin Shinichi, lebih kaya, kesempatan itu cuma untuk Herryl," jawab Maya menolak.
Tiba-tiba Adrian tertawa geli. Maya semakin kesal dibuatnya.
"Masih seperti dulu, ya, kamu. Hahaha. Datar sekali padahal sedang memujiku." Adrian berkomentar di sela tawanya.
Maya merasa sangat kesal dikerjai oleh Adrian. Dilemparnya tisu ke arah lelaki itu.
"Dasar kamu, nggak berubah." Maya mengumpat karena kesal. Adrian tampak menutup mulutnya. Lelaki itu menguap. "Ngantuk setelah kenyang, lagi. Dasar."
"Iya, maaf. Tapi hebat, ya, Herryl, bisa sabar sama kamu," ledek Adrian lagi.
"Adrian." Maya semakin kesal mendengar ledekannya.
"Iya. Eh, dia jemput kapan?"
"Mungkin sebentar lagi." Maya mengambil berkasnya dan bawaannya. Adrian segera mengambil alih barang bawaan Maya.
"Sini. Sesekali aku berguna sebagai teman," ujar Adrian.
"Masih saja seenaknya," keluh Maya.
"Tapi suka, kan?" goda Adrian lagi yang membuatnya mendapat jeweran. "Aduh, aduh, sakiiit."
"Ayo, keluar. May laporin Herryl nanti kamu," perintah Maya. Adrian tertawa.
Setidaknya aku bisa melihatmu seperti biasa, May.
Mereka berdiri di depan resto. Lalu lintas padat sekali malam itu. Maya bahkan belum berhasil menelepon Herryl.
__ADS_1
"Kamu tidak mengantuk, May? Hoahm," tanya Adrian. Sudah setengah jam kami berdiri di sini.
"Kamu duluan saja, Yan. May nunggu Herryl aja, takutnya dia di jalan," jawab Maya.
"Perempuan sendirian malam-malam. Tidak baik, May," ujar Adrian berpendapat. "Aku temani menunggu Herryl."
SETT!! Tas laptop yang disampirkan di bahu Adrian kini berpindah ke tangan orang lain. Seseorang berlari setelah berhasil membawa barang curiannya.
"Eh!" teriak Adrian. Lelaki itu lengah karena mengantuk.
"Hei!" teriak Maya. Tanpa berpikir panjang, keduanya segera berlari mengejar pencuri ke arah Kuningan Barat.
...***...
Herryl baru saja menyelesaikan berkas yang deadlinenya besok pagi. Papanya akan membawa berkas tersebut dalam perjalanan bisnisnya besok. Apa aku akan sering pergi seperti papa?
Herryl teringat akan ponselnya. Benda pipih itu layarnya tidak bisa ia nyalakan. Mati? Segera ia isi baterai ponselnya, menunggu beberapa menit sebelum akhirnya bisa menyalakan ponsel tersebut. Belasan panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari Maya. Dalam kondisi baterai lemah, ia tidak dapat menelepon Maya. Segera diraihnya pesawat telepon di meja kerjanya. Lelaki itu menekan nomor telepon gadisnya sampai terdengar nada sambung yang tidak diangkat juga. Dicobanya lagi menelepon Maya. Apa dia di jalan?
...***...
"Kembalikan laptop saya!" perintah Maya.
Pencuri itu malah berlari sambil menghunuskan pisau ke arah Maya. Maya menghindar ke kanan sementara Adrian memukul pergelangan tangan si pencuri sehingga pisau itu terlepas.
"Bapak masih muda, cari kerja yang halal, Pak," ujar Adrian. Pencuri itu terdorong lalu lari menjauh. Maya menghampiri Adrian.
"Makasih, Yan," ujar Maya.
"Sama-sama," jawab Adrian.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar keramaian di belakang mereka.
"Eh, apa, nih?" tanya salah seorang dari mereka.
"Wah, bisa dijual," jawab temannya yang membuka tas laptop. Tas yang disimpan pencuri tadi.
Maya menoleh diikuti Adrian.
"Itu laptop saya," ujar Maya sambil menghampiri lima orang di depannya.
"Cewek cantik, nih. Rezeki nomplok." Salah seorang dari berandal itu berujar tidak sopan di telinga Maya dan Adrian.
"Kembalikan laptop saya!" perintah Maya sambil berjalan mendekat.
"Boleh. Tapi Neng main dulu sama kita," jawab berandal lainnya.
"Nggak sopan!" bantah Maya. Salah satu berandal mencoba menyentuh dagu Maya yang ditepis oleh gadis itu. Adrian ikut berjaga di samping Maya.
"Wih, galak," goda berandal lain. Segera para berandal itu mengepung Maya dan Adrian. Tas laptop masih aman di tempatnya.
Maya dan Adrian memasang kuda-kuda dan saling memunggungi. Lelaki itu mengincar berandal yang pertama kali tidak sopan kepada Maya.
"Oh, mau berantem dulu?" tantang berandal yang diincar oleh Adrian. Ia maju ke arah Adrian yang memang ada di depannya.
"Hiyaaa!!"
...-bersambung-...
Duh, tegang, nih.
__ADS_1
Hai halo hai temans, terima kasih, ya, sudah mengikuti kisah Herryl dan Maya. Gimana? Masih mau lanjut?