[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Memantaskan Diri


__ADS_3

"Sudah di rumah, May?" tanya Herryl seperti biasa di telepon sore atau malam hari.


"Sudah. May juga sudah bicara dengan Pak Albert supaya nggak mengulangi," jawab Maya sambil menceritakan hari ini.


"Dia bilang apa?" tanya Herryl penasaran.


"Tadinya diam. Beliau akhirnya bawain coklat sambil minta maaf. May kasih aja coklatnya ke Randi," jawab Maya menceritakan kejadian siang ini. Herryl tertawa mendengarnya.


"Kamu maunya kalau aku yang kasih coklat? Kukirim, ya," tawar Herryl akhirnya. Ia masih ingat bagaimana berbinarnya mata Maya melihat kantong isi coklat yang ia bawa sebelum ujian sekolah.


"Nggak usah," elak Maya. Hening sejenak di antara mereka, membiarkan waktu terisi dengan kebersamaan yang sunyi.


"May."


"Ya?"


"Sebentar lagi aku lulus S1. Menurutmu, aku lanjut S2 setahun lagi atau langsung pulang ke Indonesia?" tanya Herryl meminta pendapat Maya.


"Lanjut S2, Ryl," jawab Maya.


"Kamu nggak kangen sama aku? Kok nyuruh aku lebih lama di sini?" rajuk Herryl. Mulai, deh.


"Bukan begitu. Sayang-sayang sudah di Oxford kalau nggak ambil ilmu sebanyak mungkin supaya bisa diterapkan di sini. Apalagi kamu nanti memimpin perusahaan papa kamu, kan?" argumen Maya.

__ADS_1


"Jadi kamu kangen? Aku bisa pulang dulu, kok, ke Indonesia setelah wisuda," simpul Herryl sumringah.


"Lho, kok, malah ke sana arahnya? Kamu nggak usah aneh-aneh, deh. Pakai waktu kamu sebaik mungkin di sana. May mungkin kalau diterima di Oxford bakal lanjut S3," elak Maya atas kesimpulan Herryl.


"Iya, kamu kuliah terus sampai kita susah nikah," keluh Herryl.


"Kamu ngajak ribut?"


"Bukan. Kamu kapan, sih, mikirin masa depan kita?"


Hening kembali. Maya menghela nafas kemudian mulai bersuara.


"Belum waktunya, Ryl. May masih berusaha supaya pantas mikirin masa depan," jawab May pada akhirnya. Supaya pantas bersanding denganmu, nggak bikin kamu malu.


"Hhh, baiklah. Yang penting kamu selalu ingat kalau aku sayang kamu," ucap Herryl lembut, mengalah akan sikap Maya.


"Imut banget, sih, bikin pengen pulang," goda Herryl.


"Herryl."


"Iya, iya. Aku akan memantaskan diriku buat kamu, May. Tidur, sana," perintah Herryl. Maya mengangguk kemudian menutup teleponnya.


Sudah boleh, belum, Ryl, May sayang sama kamu?

__ADS_1


Gadis itu meletakkan ponselnya di meja belajar. Membiarkan dirinya mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


...***...


"May, jemput aku, ya, hari Minggu," ucap Riana saat video call. Maya baru saja selesai makan malam saat Riana menelepon.


"Iya. May nanti pakai bus bandara jemputnya," jawab Maya. Riana tertawa.


"Kamu baik-baik saja sama Herryl?" tanya Riana.


"Iya," jawab Maya singkat.


"Syukurlah, May. Musuhnya banyak kalau dia nyakitin kamu soalnya, hahahaha," komentar Riana.


"Apa, sih, Ri?" Maya tergeragap menanggapi ucapan Riana.


...***...


Minggu pagi, Maya sudah memakai kemeja raglan dan celana jeans sebetis miliknya. Ia sudah mendapat izin mama dan bapak untuk menjemput Riana. Bila ia berangkat pukul 09.00, masih ada waktu untuk beristirahat sejenak di bandara karena pesawat Riana akan mendarat pukul 10.10.


"Nduk, ada Pak Asep," ujar mama menginformasikan. Pak Asep? Maya segera keluar kamar dan mendapati supir keluarga Ardhiwijaya sedang berdiri di ambang pintu rumahnya.


"Ada apa, Pak?" tanya Maya sopan. Walau bagaimanapun, hatinya berdebar dengan kedatangan Pak Asep yang tiba-tiba ini. Ada apa?

__ADS_1


...-bersambung-...


Kok tiba-tiba ada Pak Asep?


__ADS_2