[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Meragui Ikatan?


__ADS_3

Herryl mengabarkan bahwa orang tuanya baru bisa melamar ke rumah Maya dua pekan lagi. Saat ini Pak Ardhiwijaya masih berada dalam perjalanan bisnisnya ke negara tetangga.


"Maya, dipanggil Bu Kemi HRD," ujar Rahmat menginformasikan pagi itu. Maya mengangguk kemudian menuju ruang HRD yang berada satu lantai di atasnya. Setelah mengetuk pintu, Maya masuk ke dalam ruangan.


"Maya Anggraini. Benar?"


"Iya, Bu," jawab Maya setelah duduk di seberang meja Bu Kemi.


"Saya mendapat surat dari Metal Energi. Terkait CSR di Anyelir. Ini kompensasi yang kamu dapatkan. Silakan dibaca dan tanda tangan di bawahnya sebagai tanda terima," rinci Bu Kemi sambil menyodorkan map kuning berisi selembar surat.


Maya membaca surat tersebut. Pernyataan bahwa Maya mendapatkan fee atas desainnya untuk pengelolaan sampah terpadu. Besarnya seperti gaji rekannya yang ada di Papua, sudah dua digit. Ditandatanganinya surat tersebut.


"Bu, saya berterima kasih mendapatkan penghargaan ini," ucap Maya dengan mata mengembun.


"Sama-sama, Maya. Ini surat pengangkatan kamu sebagai karyawan tetap," sahut Bu Kemi lagi. "Kalau ada yang kurang jelas, kamu bisa tanyakan pada saya."


Maya membaca surat tersebut.


"Baik, Bu. Terima kasih. Saya permisi," ujar Maya pamit sambil menjabat tangan Bu Kemi.


"Kami tunggu portofolio kamu di perusahaan ini. Lakukan yang terbaik," pesan Bu Kemi yang dijawab anggukan oleh Maya.


...***...


Meski hari libur, Maya masih mengerjakan proyek yang dipercayakan kepadanya. Gadis itu berharap dapat mewujudkan impiannya sebelum ia menikah. Menikah, ya?


"Ma, Maya belum membahagiakan mama dan bapak. Maya tunda dulu nikahnya, ya?" tanya Maya meminta pendapat kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Lho, kok begitu, Nduk?" tanya Bu Rini. Mereka sedang mencuci piring.


"May mau nikah kalau sudah bisa membahagiakan mama dan bapak," jawab Maya. Bu Rini merasa kehangatan mengalir di tubuhnya ketika mendengar keinginan putri tunggal itu. Segaris senyum tertarik di bibir paruh bayanya.


"Nduk, selama ini kamu sudah membahagiakan mama dan bapak. Lagipula nggak baik menunda pernikahan kalau sudah ada yang melamar," nasehat Bu Rini.


"Tapi ...."


"Sebenarnya apa yang kamu maksud membahagiakan mama dan bapak?" Kembali Bu Rini bertanya.


"Maya mau bangun rumah untuk mama dan bapak. Kita nggak perlu ngontrak lagi," jawab Maya kemudian. Kini gadis itu sedang duduk meminum teh hijau kesukaannya.


Bu Rini kemudian ikut duduk di samping putrinya.


"Nduk, Mama senang kamu memikirkan kami. Tapi, kebahagiaan kami adalah melihatmu bahagia, Nduk," pesan Bu Rini.


"Tapi May bahagia kalau mama bapak nggak mikirin kontrakan lagi," jawab Maya lagi.


Maya diam. Ia masih memikirkan antara keinginan dan keadaan.


...***...


Malam minggu kali ini diisi dengan perbincangan ringan keluarga Ardhiwijaya dan Pak Sugeng. Mereka makan kroket buatan Bu Rini kemudian Pak Ardhiwijaya memulai pembicaraan serius. Pak Ardhiwijaya menyampaikan maksud kedatangan keluarga tersebut dan dijawab dengan persetujuan oleh Pak Sugeng.


"Jadi, kapan kita tentukan tanggalnya?" tanya Pak Ardhiwijaya lagi. Bu Rini menangkap ada raut tidak nyaman di wajah putrinya.


"Pa, Pak, boleh Herryl ajak Maya keluar sebentar?" tanya Herryl lagi. Setelah mendapat persetujuan dari para orang tua, Herryl mengajak Maya keluar. Mereka duduk di teras.

__ADS_1


"May, ada apa?" tanya Herryl. Lelaki itu sudah menangkap ketidaknyamanan gadisnya sejak kedua orang tuanya datang.


"May bingung, Ryl. May belum membahagiakan mama dan bapak. Apa May pantas bahagia sendiri?" jawab Maya yang diakhiri tanya. Kepalanya ditepuk oleh Herryl.


"Sudah dengar, kan, Ma? Bu Rini juga, kan?" tanya Herryl.


Maya mendongak. Ia menoleh dan mendapati kedua perempuan paruh baya itu berdiri di pintu dan tersenyum.


"Mama, Tante ...."


Kedua perempuan paruh baya itu menghampiri Maya. Bergantian mereka memeluk gadis itu.


"Tante pernah berada di posisi kamu, Sayang. Saat itu eyangnya Herryl berpesan agar Tante bahagia karena kebahagiaan Tante adalah kebahagiaan eyang," ujar Nyonya Anggi sambil meraih tangan calon menantunya.


Sama seperti yang mama bilang.


"Apa nggak apa-apa?" tanya Maya lagi. Bu Rini menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Semua orang tua itu sama, Nduk. Bahagia kalau melihat anaknya bahagia. Jadi, jangan merasa bahagia sendiri, Nduk," jawab Bu Rini. Diusapnya kepala gadis itu.


"Jadi, sudah bisa menentukan tanggal?" tanya Herryl.


"Belum. Kamu belum membuktikan kemampuan kamu di perusahaan," jawab Pak Ardhiwijaya yang ditemani Pak Sugeng berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.


"Yaaah, Papa," keluh Herryl manja yang diiringi tawa oleh orang-orang di sekitarnya.


...-bersambung-...

__ADS_1


Syukurlah keraguan Maya sudah teratasi, ya. Tinggal Herryl, nih, membuktikan. Semangat, Ryl.


oh iya, terima kasih temans masih mengikuti kisah mereka.


__ADS_2