![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Seorang lelaki berperawakan tinggi besar datang menghampiri Nyonya Van Coen. Darah eropa terlihat sekali di wajahnya sehingga Herryl menebak lelaki itu adalah keluarga Adrian.
"Kak," panggil lelaki itu. Nyonya Van Coen melepas pelukannya. Ia menoleh kemudian memeluk adik iparnya.
"Adrian ...," ujar perempuan paruh baya itu yang ditingkahi usapan adik iparnya di punggung ibu tersebut. Tidak lama kemudian ia melepas pelukannya.
Herryl menghampiri lelaki seusia Nyonya Van Coen itu.
"Pak, saya turut berduka cita atas kepergian Adrian." Herryl berkata sambil menyalami lelaki tinggi di hadapannya.
"Terima kasih." ujar lelaki itu. "Kamu?"
"Saya Herryl, teman SMA Adrian. Sekarang kami permisi karena harus membuat laporan di kantor polisi," jawab Herryl sambil menggandeng Maya. Maya juga menyalami takzim paman Adrian itu.
"Maya?" sapa lelaki itu. Maya terkejut karena ia merasa tidak mengenal paman Adrian. "Kamu luka-luka? Oh, kenalkan saya Sander, paman Adrian. Adrian selalu bercerita tentang kamu kepada kami," lanjutnya.
Maya tidak tahu harus merespon seperti apa lagi. Kini hatinya yang teriris seperti dikucuri perasan jeruk nipis dan garam. Sementara Herryl mempererat genggaman tangannya. Lelaki itu berusaha menguatkan gadisnya, juga menegaskan keberadaan dirinya bersama Maya. Maya menoleh, menatap Herryl. Sorot mata terluka itu benar-benar membuat Herryl hancur.
"Terima kasih, Nak. Sander, administrasi Adrian tolong diurus. Setelah itu kita lihat Adrian," ujar Nyonya Van Coen. Perempuan itu sudah mulai mereda tangisnya.
"Tadi kasir bilang administrasi sudah diurus oleh pemuda yang mengaku temannya. Apakah itu kamu?" sahut Sander sambil bertanya pada Herryl. Tanya itu dijawab anggukan oleh Herryl. "Terima kasih. Kami belum dapat membalas kebaikanmu," lanjut Sander.
"Tidak apa-apa, Pak. Adrian telah sangat berjasa untuk menjaga tunangan saya. Bu, kami turut berduka cita. Sekarang, kami permisi dulu," ujar Herryl sambil menyalami takzim perempuan paruh baya itu. Maya melakukan hal yang sama kemudian berjalan bersisian dengan Herryl menuju area parkir motor.
Herryl memakaikan helm untuk Maya lalu untuk dirinya. Maya lalu naik ke atas jok penumpang. Dengan kondisi Maya yang kosong seperti itu, Herryl meraih kedua tangan Maya agar melingkar di pinggangnya, menjaga agar gadis itu tidak jatuh. Sebentar ia genggam lembut tangan Maya, mencoba menguatkan dan seolah berkata bahwa dirinya ada bersama gadis itu. Sementara itu, barang-barang milik mereka ia letakkan di bagian depan motornya.
Perjalanan yang hanya beberapa menit itu berakhir di sebuah kantor polisi. Herryl memarkirkan motornya dan menggandeng Maya ke dalam kantor, melaporkan kejadian yang dialami beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Herryl membimbing Maya untuk menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh polisi. Petugas polisi itu mencatat setiap cerita Maya yang tersendat.
"Kami juga sudah ke TKP tadi dan menangkap para berandal. Apakah Mbak Maya bisa menunjukkan yang mana pelaku penusukan di antara foto ini?" tanya petugas polisi. Disodorkannya lima foto berandal yang Maya dan Adrian pukuli.
Saat melihat foto pelaku, mata Maya berubah nyalang. Ada kemarahan yang muncul kembali dalam tatapan gadis itu. Sedikit gemetar ia tunjuk foto pelaku yang terakhir berkelahi dengan Adrian. Bayangan Adrian yang bersimbah darah muncul lagi dalam ingatannya. Air mata Maya kembali mengalir saat itu. Herryl segera menghapus air mata gadis di sampingnya.
"Baik, terima kasih atas kerja sama Mbak Maya. Laptop yang menjadi barang bukti akan segera kami kembalikan setelah sidang," ujar petugas polisi di hadapan Maya. Herryl menjabat tangan petugas tersebut dan membimbing Maya beranjak dari tempat melapor.
Di teras, Maya memilih untuk duduk di kursi panjang. Sepi. Tak ada lalu lalang saat dini hari begini. Suasana yang mendukung untuknya menumpahkan semua rasa sedih atas kepergian Adrian. Nestapa telah membersamai gadis itu.
GREPP!!
Herryl merengkuh kepala gadis lemah itu dari samping. Posisinya yang berdiri memudahkan lelaki itu untuk mengusap kepala Maya, memberi kekuatan agar gadisnya lebih kuat menghadapi kenyataan pahit. Kenyataan yang tak pernah mereka duga.
"May," panggil Herryl. Suaranya berusaha menarik Maya kembali ke kenyataan. Ia merasa seolah jiwa Maya telah meninggalkan raganya.
"Iya," ucap Herryl. Meski ada, Herryl merasa ini bukan saat yang tepat menunjukkan cemburunya. Maya butuh penguatan. Gadis itu butuh sandaran pasca kejadian traumatis di hadapannya. Tangan Herryl sedari tadi basah oleh air mata Maya yang semakin menderas.
"Kenapa dia harus berusaha sekeras itu, Ryl? Kenapa?" tanya Maya di sela tangisnya yang mulai terdengar. Kini ia seperti merasakan dadanya terhimpit oleh batu besar sehingga ia merasa sesak dan menangis sesenggukan.
"Ssstttt. Menangislah sampai kamu lega, May."
Herryl tidak melepas rengkuhannya. Hatinya ikut teriris melihat Maya sesedih ini. Ya, gadis itu pasti merasa bersalah atas kepergian temannya. Dibiarkannya Maya menangis sampai merasa lebih lega.
Baik Maya maupun Herryl tidak tahu sudah berapa lama mereka berada di kursi tersebut. Setelah dirasanya tangis Maya mereda dan gadis itu tidak sehampa tadi, Herryl ikut duduk di sampingnya. Dirangkulnya bahu Maya agar bersandar padanya. Maya refleks menyandarkan kepalanya di bahu Herryl. Membiarkan dirinya nyaman dalam posisi itu.
"Ryl, terima kasih," ujar Maya. Lelaki itu hanya tersenyum sambil melihat ke depan. Hening menjadi teman mereka saat ini. Baik Maya maupun Herryl tidak ada yang bersuara sampai pada akhirnya Herryl memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Kamu tahu? Kamu itu gadis yang sangat berharga. Makanya Adrian berusaha sekeras tadi. Sekarang, hargai usahanya dengan memanfaatkan sebaik mungkin hidup kamu, May. Jangan terlalu lama sedihnya, jangan sia-siakan usaha Adrian," ujar Herryl. Tangan lelaki itu tidak berhenti mengusap kepala Maya.
Maya hanya terdiam mendengarnya. Kalimat Herryl tidak sepenuhnya salah, tapi untuk tidak bersedih lama akan sulit baginya. Terlebih Adrian adalah lelaki yang berharga baginya.
Berharga? Maya yang sudah merasa lebih baik itu menegakkan punggungnya. Herryl yang menyadari itu kemudian tersenyum.
"Yosh! Sekarang aku antar kamu pulang dan menyelesaikan pemulangan Adrian ke Belanda," ujar Herryl membuat Maya menatap mata elang miliknya.
"Ryl, kamu berbuat sebanyak ini untuk Adrian. Terima kasih," ucap Maya lirih. Herryl hanya tersenyum.
"Aku melakukan ini untuk membalas kebaikannya. Dia sudah berkorban terlalu banyak untuk orang yang kusayang. Kalau aku di posisinya, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Jadi, kurasa apa yang kulakukan bisa sedikit membalas budinya."
Penjelasan Herryl membuat hati Maya menghangat. Gadis itu menggeleng pelan.
"Nggak. Tetaplah hidup, Ryl. May nggak mau ditinggal lagi," pinta Maya.
"Iya." Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum. Tangannya menepuk kepala Maya. Diserahkannya botol minum yang tadi ia beli dan simpan di dalam tasnya. Maya menerima minuman tersebut dan meminumnya. Setelah selesai dan merasa lebih tenang, Maya berdiri diikuti Herryl. Bergandengan tangan mereka menuju tempat parkir kemudian membelah jalanan menuju rumah orang tua Maya.
Terima kasih, Ryl.
Maya merasa jiwanya tidak sehampa tadi. Bahkan, gadis itu tidak menolak saat Herryl memasukkan kedua tangannya di saku jaket lelaki itu.
...-bersambung-...
Terima kasih temans sudah mengikuti kisah Maya dan Herryl.
Hayoo, teman-teman lebih suka Herryl waktu SMA, kuliah, atau kerja? Kenapa?
__ADS_1