![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Ya, May," sapa Herryl lembut.
Mendengar suaranya saja membuat Maya ingin menangis. Herryl terlalu baik kalau sampai terluka karena gosip ini.
Menyadari Maya tidak menjawab sapaannya, Herryl kembali menyebut nama gadis itu.
"May?"
"I ... Iya, Ryl," jawab Maya terbata.
"Kamu kenapa?" tanya Herryl yang menyadari bahwa suara Maya tidak seperti biasanya. Kenapa selemah ini suaramu?
"Nggak ... apa-apa. Gimana kuliah hari ini?" elak Maya diakhiri pertanyaan kepada Herryl.
Tumben. Ada apa, May?
"Tadi aku presentasi tentang sistem ekonomi negara-negara Asia. Kubahas tentang perkembangan sistem ekonomi di Indonesia, May," cerita Herryl. Bila biasanya Maya akan menanggapi dengan pengetahuannya sehingga mereka bisa sampai berdebat, tidak untuk kali ini. Maya hanya ber-ooh ria. Herryl merasakan bahwa Maya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"May? Kenapa?" tanya Herryl lagi setelah jeda beberapa jenak.
"Itu ... Eh, iya, sudah tahu, belum, kalau Riana sebentar lagi kembali ke Indonesia?" ujar Maya berusaha mengalihkan percakapan. Herryl menghela nafasnya, mencoba ikuti arah pembicaraan Maya.
"Oh, ya? Syukurlah kamu nggak sendiri lagi nantinya."
"Iya."
Kembali hening. Apa yang kamu khawatirkan, May?
"May, ada apa?" Kembali Herryl bertanya agar Maya mau menceritakan yang sebenarnya.
"Ryl ...," Lagi, Maya hanya memanggil namanya.
"Apa sekarang aku pulang ke Indonesia supaya kamu mau cerita?" tanya Herryl lagi. Nggak ada cara lain, May.
"Eh, nggak usah, Ryl," tolak Maya terkesiap atas ide Herryl.
"Jadi?"
"Jadi ... ada foto, Ryl. Foto yang tersebar di angkatan. Foto ... foto May dan Pak Albert. Tapi itu cuma foto saat kami mengecek lapangan," cerita Maya akhirnya. Ryl, jangan terluka, batin Maya.
"Oh, itu," sahut Herryl, masih dengan suaranya yang lembut.
"Eh?"
"Aku juga dapat foto itu," sahut Herryl.
Mendengar itu, air mata Maya tidak dapat ditahan lagi. Ia menangis kini, terisak.
"Ryl ...."
"Kamu kenapa nangis, May?" tanya Herryl mulai khawatir. Duh, sekarang malah nangis dia.
"May takut kuliah Herryl terganggu karena foto itu," jawab May di sela tangisnya.
"Kuliah?"
"May takut Herryl sedih akibat foto itu. Kalau Herryl sedih, nanti nggak fokus waktu kuliah," jawab Maya di sela isakannya. "May khawatir kamu terluka, Ryl."
__ADS_1
Hati lelaki itu menghangat setelah didengarnya kekhawatiran Maya akan dirinya. Sebuah senyum mengembang dari bibirnya.
"Aku percaya sama kamu, May," ucap Herryl kemudian.
Mendengar hal tersebut, Maya bukannya berhenti malah semakin keras tangisnya. Herryl diam saja menunggu Maya mengeluarkan emosi di dalam diri gadis itu. Setelah beberapa menit, Maya baru mulai berhenti menangis.
"Kamu percaya?" tanya Maya akhirnya.
"Iya, aku percaya. Kamu nggak mungkin sempat terlibat romansa semacam itu. Jangankan Pak Albert yang baru kamu kenal, aku yang kamu tungguin aja sering banget dianggurin pesan sama teleponnya," jawab Herryl seolah bercanda.
"Kamu, tuh, mau belain apa ngata-ngatain, sih?" gerutu Maya yang membuat Herryl tertawa kecil sebentar.
"May, aku selalu percaya sama kamu. Aku percaya sama kamu karena tantangan kita selama LDR (Long Distance Relationship) ini adalah saling percaya. Iya, kan?" ujar Herryl.
"Iya," jawab Maya kemudian.
"Sekarang kamu tidur, ya. Nggak usah peduli ucapan orang. Kamu harus tegakkan kepala menghadapi hal sesepele itu. Cuek seperti biasanya seorang Maya. Fokus sama kuliah, ya, May," pesan Herryl lagi.
"Iya," jawab Maya sambil tersenyum mendengar pesan dari Herryl.
"May, aku kangen kamu," ucap Herryl lagi. Maya yang terbawa suasana dan tidak fokus mengiyakan ucapan Herryl.
"Iya, May ju ... Eh, apa, sih?" Maya mengomel ketika menyadari ucapan Herryl. Lagi-lagi Herryl tertawa kecil. Bahagia rasanya bisa menggoda Maya yang menggemaskan itu.
"May coba, deh, latihan bilang kangen." Herryl memberi saran ajaib.
"Buat apa?" Ketus Maya bertanya.
"Buat aku, lah. Masa buat Pak Asep?" jawab Herryl menyebut supir keluarganya.
...***...
Meski sudah dijelaskan oleh Randi, gosip tentang Maya dan Albert lebih sering terdengar di grup angkatan. Maya sudah menutup telinga atas berita tersebut. Ia memilih untuk fokus terhadap kerja prakteknya. Nanti lama-lama juga reda sendiri, batin Maya.
Hari ini sudah memasuki bulan kedua Maya melakukan kerja praktek. Kemampuannya semakin diasah oleh Albert dan divisi perencanaan. Bagaimana dengan Randi? Tidak jauh berbeda dengan Maya.
"Maya, ikut saya ke lapangan sore ini," perintah Albert.
"Baik, Pak," jawab Maya patuh. Sore? Artinya akan pulang malam? Maya membatin sedih. Besok memang hari liburnya dari Crown. Tapi nggak lembur juga, kan?
Sore itu Maya berada di lapangan. Pekerja shift malam sedang mengabsen di pos. Maya segera menyiapkan catatan. Ditahannya rasa kantuk yang mulai menyerang. Biasanya waktu sesore ini ia gunakan untuk tidur di dalam bus sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
Pemeriksaan selesai sekitar pukul 7 malam. Maya diantar Albert menggunakan mobil putihnya. Karena lelah sekali, Maya tertidur. Albert mengendarai mobil dalam diam.
Ketika mereka sudah dekat gang rumah Maya, Albert menepikan mobilnya.
"Sudah sampai," ujar Albert yang tentu saja tidak didengar oleh Maya. Gadis itu benar-benar terlelap. Albert menatap wajah Maya yang menghadap ke arahnya saat tidur. Manis, batinnya.
Perlahan lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke kiri, mendekat pada Maya. Ia tidak ingin membangunkan gadis itu. Hanya satu ciuman, batinnya. Merasa tidak ada halangan, ia semakin mendekatkan wajah mereka sampai bisa dirasakannya nafas Maya.
Merasa ada udara hangat, Maya terbangun. Matanya mendapati wajah seseorang begitu dekat di depannya. Refleks tangan kirinya meninju wajah itu.
BUGG!!!
"Argh!" teriak Albert yang terpental ke joknya dan terbentur kaca jendela. Maya membelalak, terkejut akan apa yang terjadi begitu cepat. Ia juga terkejut begitu mengetahui siapa yang ia tinju.
"Ma-maaf, Pak." Tergagap Maya berucap. Ia mengedarkan pandangannya, melihat ia berada di mana. Begitu sadar bahwa ia sudah sampai di gang rumahnya, Maya segera membuka pintu. Tak ingin berlama-lama dengan lelaki yang ditinjunya. "Terima kasih tumpangannya, saya permisi," lanjutnya kemudian segera turun dari mobil, berjalan memasuki gang. Meninggalkan Albert yang masih kesakitan akibat tinjuannya.
__ADS_1
Hampir saja. Maya membatin sambil berjalan menyusuri gang. Ryl, May takut. Gadis itu mulai merasakan air matanya mendesak keluar. Tidak lama kemudian ia sudah sampai di rumah dan disambut mama beserta bapak. Maya menyembunyikan wajah sedihnya, menyalami takzim pada mama dan bapak kemudian membersihkan diri.
Ponselnya berdering saat Maya sedang mengerjakan laporan. Herryl. Diangkatnya telepon tersebut.
"May, kamu sudah pulang?" tanya Herryl. Maya mengangguk, mengiyakan. "Aku kangen mengacak-acak rambutmu," lanjut lelaki itu membuat Maya tersenyum. "May?" Biasanya ngomel. Ada apa lagi?
"Ryl, tadi May habis ninju muka Pak Albert," cerita Maya. Mata Herryl membulat ketika mendengar cerita Maya yang bar-bar.
"Kenapa?" Akhirnya tanya itu yang meluncur dari bibir Herryl.
"May juga nggak tahu, rasanya terancam aja pas bangun tidur ada muka Pak Albert dekat banget di depan May," jawab Maya.
Kurang ajar!
"Tidur?"
"May ketiduran di mobil Pak Albert, Ryl," jawab Maya kemudian.
Pantas saja aku merasa harus meneleponmu. Kamu baru saja menghadapi bahaya. Syukurlah kamu baik-baik saja, May. Kurang ajar Albert! Herryl mengeraskan rahangnya.
"Ryl," panggil Maya dengan nada cemas.
"Kamu harus jaga jarak dengannya, May. Hati-hati dengan sikapnya," pesan Herryl.
"Iya, Ryl. May selama ini juga berusaha profesional. Tapi May kecewa, Ryl. May kira dia baik," keluh Maya.
"Sabar, May. Kamu bisa lewati ini semua. Sebentar lagi dan kamu akan selesai KP, kan?" ucap Herryl mencoba menenangkan gadisnya.
"Iya, Ryl," jawab Maya. Hening beberapa saat kemudian sebelum akhirnya dipecahkan oleh suara Herryl.
"Kamu mau aku ke Indonesia sebentar?" tawar Herryl kemudian.
"Nggak usah, Ryl. May nggak akan sanggup lihat Herryl berangkat ke Oxford lagi nanti," tolak Maya. Ia masih sangat ingat perasaannya yang sangat sedih saat mengantar Herryl malam itu.
"Kita nikah dulu biar kamu nggak sedih banget," tawar Herryl lagi. Tepatnya menggoda Maya. Maya membulatkan matanya.
"Herryl." Ketus Maya menanggapi yang membuat Herryl tertawa lagi.
"Jaga diri, ya, May. Aku percaya kamu," ucap Herryl akhirnya. "Istirahat yang benar, makan yang benar, sayangin aku yang benar."
"I ... Ryyyyyyl." Maya merajuk ketika ruang dengarnya menangkap pesan terakhir Herryl. Mereka berdua akhirnya memutus sambungan telepon.
...-bersambung-...
hai halo hai
terima kasih, ya, sampai saat ini terus menyimak kisah Maya dan Herryl.
Oh, iya, sekarang saatnya pengumuman pemenaaaang ^_^
Sebelumnya, sya ucapkan terima kasih untuk partisipasi teman-teman dalam giveaway ini.
Rank 2, 3, dan 4 di bawah ini segera kirim pesan ke sya, ya ^_^ (berlaku sampai 7 september pukul 12.00 WIB. Setelah itu nggak berlaku lagi)
Selamat, semoga hadiahnya bermanfaat. Daaan, untuk yang lainnya, sampai jumpa di lain kesempatan giveaway ^_^
__ADS_1