![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Gugupnya Maya melebihi rasa saat ia menghadapi dosen penguji tempo hari. Bagaimana tidak, tiba-tiba ditanya seperti itu oleh ayah dari laki-laki yang spesial baginya.
Herryl tidak melepas genggaman tangannya, seolah memberi kekuatan.
"Iya, Om. Salam kenal, saya Maya," ucap Maya sambil menyalami takzim tangan lelaki itu.
"Saya sering mendengar tentang kamu dari Om Wimono. Nanti kita ngobrol, sekarang saya ke kamar dulu, ya," ujar Pak Ardhiwijaya sambil tersenyum. Maya kini mengerti dari mana senyum Herryl itu diwariskan.
"Baik, Om," jawab Maya. Herryl mengajak Maya duduk di sofa ruang tamu. Nyonya Anggi mengikuti suaminya ke kamar.
Tidak lama kemudian, Pak Ardhiwijaya sudah kembali ke ruang tamu.
"Saya dengar Maya memiliki proyek di Kelurahan Anyelir?" tanya Pak Ardhiwijaya setelah menyeruput teh hijau favoritnya.
"Iya, Om. Saya rasa disayangkan kalau hanya membuat struktur perencanaannya. Lebih baik kalau direalisasikan jadi lebih bermanfaat," jawab Maya. Raut wajahnya sudah tidak segugup tadi.
"Dibiayai Metal Energi, saya dengar. Semoga sukses, ya."
"Terima kasih, Om."
"Oh, iya. Kamu sudah siap, kan, ikut ke Inggris? Anggap saja hadiah dari kami atas kelulusan kamu," tanya Pak Ardhiwijaya.
__ADS_1
"Iya, Om. Terima kasih," jawab Maya.
"Maafkan juga kalau selama ini Herryl merepotkan kamu. Terima kasih Maya sudah mau menerima anak saya," ujar Pak Ardhiwijaya. Seketika wajah Maya memerah. Ia malu bila membicarakan hubungannya dengan Herryl.
"Ti-tidak, Om. Selama ini Herryl banyak membantu saya," jawab Maya sambil menunduk.
"Papa, udah. Jadi merah, kan, Maya." Herryl mengeluh karena papanya seolah menggoda gadis di sampingnya.
"Lho, kok, Papa yang disalahin? Ma, anak kamu, nih," sahut Pak Ardhiwijaya sambil tertawa. Maya takjub dengan pemandangan di depannya. Herryl yang merajuk di depan kedua orang tuanya, Pak Ardhiwijaya yang berkepribadian hangat, dan Nyonya Anggi yang lembut nan humoris. Apa May bisa masuk ke dalam keluarga ini?
"Mama siapkan makan malam dulu, ya," ujar Nyonya Anggi.
"Saya bantu, ya, Tante," sahut Maya kemudian beranjak dari sofa. "Permisi, Om," lanjutnya. Dilihatnya Nyonya Anggi tersenyum menunggunya.
"Eyil, eh, Herryl itu manja, May. Kamu sabar, ya, kalau menghadapi dia," pesan Nyonya Anggi.
"Iya, Tante. Ada kalanya dia manja tapi lebih banyak dewasanya kalau di depan saya. Sikapnya yang menenangkan, menghibur, mengayomi. Mungkin itu sebabnya dia dulu terpilih jadi Ketua OSIS," jawab Maya.
"Syukurlah kalau dia bisa menjalani kehidupan di luar dengan baik," komentar Nyonya Anggi. "Tante khawatir karena di rumah dia manja, May."
"Mungkin karena di depan Om dan Tante yang merupakan orang tuanya dia bisa manja, Tante. Di sekolah dia tegas tapi ramah, Tante, kata teman-teman," jawab Maya.
__ADS_1
"Kata teman-teman?"
"Iya, tante. Saya di sekolah kenal Herryl yang usil, Tante. Entah kenapa dia seperti hobi menjahili saya," cerita Maya yang ditingkahi senyum Nyonya Anggi.
"Dia begitu kalau ingin menghibur temannya yang sedang sedih, May."
Mendengar hal itu, mata Maya berubah sendu. Jadi, Herryl selama ini berusaha menyenangkan hatinya? Tanpa ia sadari, matanya sudah mengembun. Segaris senyum tipis tertangkap pandang Nyonya Anggi.
"Maaf, Tante. Saya selama ini salah paham atas sikap Herryl," ucap Maya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Saya malah menyukai kepolosan Maya."
"Ma, Maya diapain?" tanya Herryl yang melihat wajah gadisnya sendu. Ada raut khawatir di wajah lelaki muda itu. Nyonya Anggi hanya tersenyum.
"Nggak apa-apa, Yil," ucap Maya sambil tersenyum. Lelaki itu menepuk kepala gadisnya.
"Ayo, makan," ajak Pak Ardhiwijaya.
Makan malam itu kemudian terlaksana dengan baik.
...-bersambung-...
__ADS_1
hai halo hai. terima kasih sudah mengikuti kisah Maya dan Herryl, ya, temans.
sepertinya, Herryl bisa punya kasih sayang sebesar itu ke Maya karena dia juga mendapat limpahan kasih sayang dari orang tuanya, ya? Ada yang setuju? Semoga temans juga bisa melimpahkan kasih sayang pada sekitar, yaaa