[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Gulana dalam Keterjagaan


__ADS_3

"Yan! Yan!" panggil Maya sambil perlahan memangku kepala Adrian, membantunya bangun agar bisa duduk. Gadis itu mengusahakan agar posisi jantung Adrian lebih rendah dari kepalanya.


"May ...," jawab Adrian lirih. Kini lelaki itu bersandar di bahu Maya.


"Bangun!" perintah Maya. Gadis itu khawatir melihat keadaan temannya. Ia sudah tidak mempedulikan pakaiannya yang terkena noda darah.


Bergegas Maya melepas tasnya, mengeluarkan ponselnya. Ia menekan nomor 1. Hanya terdengar sekali nada sambung dan terdengar suara Herryl di seberang sana.


"Ma-" panggilan Herryl terpotong oleh Maya.


"Ryl! Tolong ambulans segera! May di ... di belakang gedung Cyber Kuningan Barat. Adrian ditusuk!" ujar Maya panik.


"Oke," ucap Herryl yang langsung memutus sambungan teleponnya. Lelaki itu segera menelepon 112 untuk mendapatkan ambulans terdekat dari lokasi gadisnya.


Selesai menelepon ambulans, Herryl segera menuju area parkir motor. Lelaki itu menyalakan mesin motor maticnya, membelah jalanan menuju lokasi yang gadisnya sebutkan tadi.


Tunggu aku, May.


...***...


Saat Adrian membungkuk, berandal itu bergerak sangat cepat menggunakan sisa tenaganya menusuk perut lawan di depannya. Setelah menusuk Adrian, berandal itu mencabut pisaunya yang memperparah luka Adrian.


Menyadari berandal itu kurang ajar sudah menusuknya, Adrian marah sehingga mendorong dan memukul lawannya. Melihat berandal itu jatuh, Adrian masih belum puas. Ia menendang rusuk lawannya sampai pingsan. Adrian bahkan tidak berhenti menendang meski lawannya sudah pingsan.


...***...


Sementara itu, Maya masih mencoba menjaga kesadaran Adrian.


"Yan. Bangun." perintah Maya. Air mata sudah mengaliri wajahnya.


"May? Kamu ... nangisin aku?" tanya Adrian.


"Jangan banyak bicara. Tapi kamu nggak boleh tidur." Maya berusaha semampunya memberi pertolongan pertama.


"Ngantuk ... May ...."


"Yan." Panggilan Maya tidak segera direspon. "Yan?"


Adrian tersenyum tipis dan berusaha terjaga sesuai perintah Maya.


Suara sirine ambulans terdengar mendekat. Maya menoleh ke arah lampu mobil yang menyoroti mereka. Setelah mobil ambulans berhenti, dua petugas medis segera membawa tandu dan merebahkan Adrian di atasnya untuk dibawa ke ambulans. Maya dibimbing untuk masuk ke dalam mobil ambulans.


"Iya, Pak. Terjadi perkelahian. Belakang gedung Cyber. Lapangan, Pak. Tim kami nanti ada yang berjaga." Petugas medis menelepon polisi untuk melaporkan kejadian. Maya membawa barang miliknya dan Adrian.


Di dalam ambulans, Maya tidak berhenti memanggil nama Adrian. Mereka dibawa ke Rumah Sakit Mampang Sari. Rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian.

__ADS_1


"Mbak langsung ke UGD juga, ya. Administrasi nanti saja selesai pengobatan." Seorang perawat memberi arahan pada Maya yang juga terluka meski tidak parah. Hanya lebam dan goresan kecil di beberapa bagian akibat perkelahian tadi.


Selesai diobati, Maya diarahkan untuk mendaftarkan namanya dan Adrian sebagai pasien. Setelah serangkaian administrasi, Maya bisa duduk di ruang tunggu. Ruang UGD berada di depannya. Gadis itu mengambil ponselnya, menelepon Herryl.


"May di RS Mampang Sari," ujar Maya saat telepon tersambung.


"Oke, aku ke sana." Herryl mengiyakan informasi dari Maya. Lelaki itu masih di pinggir jalan.


Maya menghela nafasnya sambil menatal pintu ruang UGD. Adrian ....


Sementara itu, tas Adrian bergetar. Ponselnya yang berbunyi. Maya berinisiatif mengambil ponsel tersebut. Dinyalakannya ponsel itu.


Ini May?


Maya sempat terkejut melihat wallpaper ponsel Adrian adalah fotonya di resto saat sedang menjelaskan desain. Gadis itu melihat ada panggilan tak terjawab.


Mama?


Maya menelepon nomor tersebut dan terhubung.


"Adrian, di mana kamu?" tanya Nyonya Van Coen lembut.


"Maaf, Madam. Adrian kecelakaan, sekarang sedang ditangani di UGD. Madam bisa datang ke RS Mampang Sari," ujar Maya mengabarkan.


"Adrian!" pekik Nyonya Van Coen. Telepon terputus dan Maya mengembalikan ponsel itu ke dalam tas Adrian.


"Ya, Dok," jawab Maya sambil berdiri menghampirinya.


"Sekarang ini Saudara Adrian sedang dalam masa kritis. Tusukan tadi merusak organ pencernaannya. Kami harus mengambil tindakan operasi dan membutuhkan persetujuan keluarga korban," rinci dokter tersebut.


Maya terdiam. Ia sendirian.


"Baik, Dok. Akan saya tanda tangani, tolong segera operasi dia, Dok," jawab Maya.


"Baik. Kami akan mempersiapkan operasi."


Maya dihampiri oleh perawat yang membawa surat persetujuan tindakan operasi. Segera gadis itu menandatanganinya.


Semoga kamu baik-baik saja, Yan.


Maya menginformasikan pada Nyonya Van Cien dan Herryl melalui telepon bahwa Adrian harus dioperasi.


"Maya," panggil seseorang. Maya menoleh dan mendapati perempuan paruh baya menghampirinya. Maya berdiri menahan nyeri di beberapa bagian tubuhnya.


"Madam."

__ADS_1


"Ya ampun, kamu juga luka-luka." Nyonya Van Coen sangat perhatian pada Maya karena ia tahu anaknya sangat menyayangi gadis itu.


"Iya, Madam," jawab Maya. Gadis itu menjelaskan kronologi yang terjadi beberapa waktu lalu.


"Kalian telah mengalami waktu yang berat," ujar Nyonya Van Coen.


"Adrian menolong saya. Maaf, Madam, karena menolong saya, dia jadi begini," ujar Maya menyesal.


"Saya yang berterima kasih karena Maya menolong Adrian. Kalau kamu tidak di sana, mungkin Adrian ...," sahut Nyonya Van Coen diiringi isak tangis. Maya memeluk perempuan paruh baya tersebut. Mencoba menyalurkan kekuatan dan menguatkan dirinya.


"May," panggil seseorang.


Maya yang mengenali suara tersebut segera menoleh.


"Herryl," sahut Maya.


Herryl yang wajahnya sudah tampak frustrasi kini semakin kacau ketika melihat beberapa plester di wajah dan tubuh gadisnya, juga noda darah di blouse Maya. Segera ia menghampiri Maya dan memeriksa wajah serta tangan gadis itu.


"Ya, ampun. Kamu kenapa, May? Mana yang sakit?" tanya Herryl khawatir. Maya memegang tangan Herryl agar lelaki itu diam.


"May nggak apa-apa, Ryl," jawab Maya mencoba menenangkan lelakinya. Cerita yang sama muncul lagi dari bibir gadis itu. "Ini mamanya Adrian, Ryl. Beliau juga baru sampai."


Herryl beralih pada perempuan paruh baya itu. Ia menyalami takzim Nyonya Van Coen kemudian duduk di sampingnya.


"Terima kasih, Bu. Putra Ibu telah menolong Maya," ujar Herryl lagi. "Kalau nggak ada Adrian, saya nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada gadis ini."


Perempuan paruh baya itu memeluk Herryl, meminta tambahan kekuatan dari lelaki seusia anaknya.


"Saya yang berterima kasih pada Maya dan kamu. Kalau tidak ada kalian, Adrian belum tentu sampai di rumah sakit," ujar Nyonya Van Coen.


Mereka menunggu di depan ruang operasi hampir satu jam lamanya.


"Saudara Adrian sudah melalui operasinya. Saat ini beliau sedang berada dalam masa kritis dan kami tempatkan di recovery room. Semoga saja Saudara Adrian dapat melewati masa kritisnya," ujar Dokter yang keluar menemui Maya, Nyonya Van Coen, dan Herryl dengan seragam hijau operasinya.


"Terima kasih, Dok," ujar gadis itu dan Nyonya Vsn Coen hampir berbarengan.


^^^Tariklah takdir ke arahmu^^^


^^^Aku ingin kau terus bersinar^^^


^^^Aku ingin percaya keajaiban bisa terjadi^^^


^^^Aku ingin percaya *)^^^


...-bersambung-...

__ADS_1


Hai Halo Hai. Terima kasih sudah mengikuti kisah Maya dan Herryl, yaaa


*) masih lirik lagu Hikari e by Miwa


__ADS_2