![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Kamu sibuk?" tanya Herryl melalui tulisan di layar percakapan karena teleponnya berkali-kali tidak diterima oleh Maya. Maya sengaja mematikan nada dering ponselnya. Kalau sudah seperti itu, biasanya Maya sedang melakukan pekerjaan yang membutuhkan fokus penuh.
"Semangat, ya, masa depanku," tulis Herryl lagi yang tentunya belum juga dibaca Maya.
Aku kangen. Nggak dengar suara kamu sehari aja rasanya ada yang kurang. Kamu nggak akan percaya kalau aku bilang begitu, kan? Padahal aku jujur. Begini, nih, kalau nggak ada buku lagi. Kesiksa kangen.
Herryl berganti pakaian untuk dipakainya ke gym.
Lumayan, kalau lelah bisa tidur cepat malam ini.
...***...
"Nduk, makan dulu," ajak mama. Maya masih sibuk di depan laptopnya, merancang denah pengelolaan sampah terpadu.
"Iya, Ma. Nanti," jawab Maya. Mama menggeleng begitu jawaban Maya terdengar. Selalu begitu bila Maya sedang mengerjakan tugas.
"Sudah, Ma. Mahasiswa memang begitu. Anak Pak Wimono, Mas Devan, waktu kuliah juga begitu," ujar Bapak di dapur.
"Tapi Maya belum makan, Pak," sahut mama khawatir.
"Taruh saja makanannya di kamar dia," usul Bapak. Mama mengangguk.
...***...
Maya merasa lapar. Saat ia berbalik, terdapat sepiring nasi bersama tempe dan sayur kangkung. Di piring lain mama sudah menyediakan jeruk. Terima kasih, Ma. Gadis itu segera menghampiri piring makannya setelah ia mencuci tangan.
Selesai makan, ia mencuci piring dan melihat jam dinding. Sudah dini hari, pantas lelah sekali. Gadis itu mengecek ponselnya.
__ADS_1
Belasan panggilan tak terjawab dari satu nama, Herryl. Digesernya agar notifikasi lain juga terhapus.
"Ya, May?" sapa Herryl.
"Lho, kok telepon?" gumam Maya. Salah geser rupanya, batin gadis itu.
"Kamu belum tidur?" tanya Herryl lagi.
"Ini baru mau tidur. Tadi buat denah bank sampah, Ryl. Proyeknya disetujui Pak Rektor," jawab Maya. Sesekali gadis itu menguap.
"Selamat, ya. Semoga lancar proyekmu itu."
"Iya, Ryl. Terima kasih juga usul kamu waktu itu. Kamu belum tidur?"
"Nggak nyaman tidur kalau belum dengar suara kamu," ucap Herryl sambil tersenyum. Maya memicingkan matanya.
"Tidurlah, kamu pasti lelah," pinta Herryl.
"Iya, May tidur dulu." Gadis itu memutus sambungan teleponnya dan bersiap tidur.
"Lagi-lagi main tutup telepon. Kan aku belum bilang sayang, May," keluh Herryl. Tidak lama kemudian senyumnya mengembang. Ia bisa tidur nyenyak malam ini karena sudah mendengar suara orang yang sangat dirindukannya itu.
Sementara itu di bawah langit yang sama, di Jakarta, Maya sedang membuka layar percakapannya dengan Herryl. Ia baru membaca pesan Herryl yang membuat pipinya memerah. Selamat tidur, Ryl, terima kasih.
...***...
Maya datang ke ruang Dekanat siang ini bersama Hadi dan Tiara. Kirana tidak dapat ikut karena sedang asistensi perkuliahan.
__ADS_1
"Duduklah," perintah Pak Bambang. "Saya mendapat kabar kalau Metal Energi ingin mendengar langsung presentasi kalian. Mereka menyambut baik proyek kalian. Bahkan, dana CSR (Corporate Social Responsibility) tahunan mereka akan digunakan untuk membiayai proyek ini. Bagaimana? Kalian berminat?" lanjut lelaki paruh baya tersebut.
Tak dapat dipungkiri, binar mata takjub terlihat dari ketiga mahasiswa tersebut. Metal Energi adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas sekaligus termasuk perusahaan 5 besar di Indonesia.
"Syukurlah, terima kasih, Pak. Kapan kami bisa mempresentasikan proposal kami di kantor pusat?" tanya Hadi.
"Kamu bisa langsung hubungi bagian CSR Metal Energi. Katakan maksud kalian. Selamat, ya," jawab Pak Bambang. Beliau menyalami ketiga mahasiswa beda jurusan itu.
"Terima kasih, Pak," ucap Hadi dan teman-temannya.
"Ajak tim kalian makan bersama saya di sini," pesan Pak Bambang lagi.
"Sekarang, Pak?"
"Iya. Kalian mau ayam bakar?" Pak Bambang menawarkan makanan mewah bagi mahasiswa seperti mereka yang tentu saja dijawab dengan anggukan. Maya segera mengirim pesan pada Kirana untuk bergabung.
Pak Bambang sang dekan ingin mengenal lebih jauh para mahasiswanya yang memiliki ide brilian itu. Diskusi mereka berlanjut dan beberapa masukan beliau berikan agar para mahasiswanya lebih mudah menjalankan peran mereka nanti saat melaksanakan proyek.
"Ryl, doakan, ya, kami mau ke Metal Energi untuk proyek ini," tulis Maya sore itu di layar percakapannya dengan Herryl.
"Yah, lowbatt," keluh Maya. Disimpannya ponsel itu di tas, ia menuju halte bus untuk segera pulang.
...-bersambung-...
hai halo hai
terima kasih, ya, temans, setia mengikuti kisah Maya dan Herryl yang selalu kangen sama Maya.
__ADS_1