[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
You Change My World


__ADS_3

"Kamu arsitek dari Metal Estate?" tanya Adrian. Maya mengangguk. Rahmat menghampiri Maya.


"Kamu kenal?" tanya Rahmat.


"Teman SMA saya, Pak," jawab Maya. Rahmat dan Adrian saling mengenalkan diri.


"Kamu sudah pulang?" sapa Nyonya Van Coen yang juga menghampiri Adrian. Adrian berbalik.


"Iya, Ma. Ma, ini teman SMA, Maya," ujar Adrian.


"Pantas saja familiar," komentar Nyonya Van Coen lembut.


Maya kembali dengan kesibukannya mengecek ruangan bersama Rahmat. Sementara Adrian mengamati gadis itu. Ada sorot mata kerinduan yang ia tujukan bagi gadis yang sedang sibuk bersama Rahmat. Kegiatan Maya berakhir setelah setengah jam.


"Aplikasi Madam tidak ada perubahan, bukan? Kami akan segera mendesainnya. Untuk saat ini kami permisi," ujar Rahmat.


"Terima kasih, Pak Rahmat," jawab Nyonya Van Coen sambil mengantar tamunya ke pintu.


"May. Hati-hati di jalan," ucap Adrian sambil membukakan pintu mobil. Tangan lain lelaki itu menahan kusen agar kepala temannya tidak sakit bila terkena pinggiran mobil. Maya mengangguk. Mobil dinas itupun meninggalkan rumah besar milik Keluarga Van Coen.


"Adrian itu ... perhatian banget," komentar Pak Rahmat sambil menyetir.


"Iya, Pak. Kami memiliki hobi yang sama dulu," jawab Maya.


"Ingat, kamu sudah ada Herryl," pesan Rahmat lagi. Maya mengangguk dan memegangi cincin yang dipasangkan Herryl beberapa pekan lalu. Herryl ....


...***...


"May, ke klinik, yuk," ajak Riana. Sudah jumat sore dan gadis itu siap berakhir pekan. "Kamu sejak di Metal susah ada waktu libur, May."


"Iya, May siap-siap," jawab Maya pada sahabatnya itu. Riana menjemput Maya di lobi kantornya dan mereka melaju ke klinik.


"Adrian datang, Ri," ujar Maya di tengah perjalanan.


"Adrian?"


"Iya, mamanya klien Metal. Senin nanti kami akan bertemu lagi untuk membicarakan desain kostnya."


"May, kamu ingat, kan, ada Herryl?" pesan Riana.

__ADS_1


"Iya, Ri. May bingung. Mau cerita sama Herryl tapi takut dia terluka. Dulu di London dengar nama Adrian saja dia cemburu. Apalagi sekarang kami bertemu," ungkap Maya atas kegundahan hatinya.


"Pasti cemburu, May. Tapi lebih baik kamu cerita, jelaskan kalau kalian cuma ketemu karena urusan kerja," saran Riana.


"Iya, Ri."


Riana tersenyum.


"Kamu sekarang sudah lebih gadis, May. Apa Herryl mengubahmu?"


"Maksudnya?" tanya Maya menoleh ke arah Riana.


"Biasanya kamu cuek soal perasaan. Pikiranmu cuma pelajaran, cita-cita. Sekarang? Kamu bahkan mikirin perasaan Herryl," jawab Riana sambil tertawa kecil.


Maya tersenyum. Ada kebahagiaan tersendiri bila mendengar nama Herryl disebut.


"Manis banget, sih, kamu," komentar Riana saat menyadari Maya senyum-senyum sendiri. Diambilnya ponsel dan menelepon lelaki yang baru saja mereka bicarakan.


"Ryl, aku ajak Maya ke klinik, yaa," ucap Riana saat video call itu tersambung.


"Kok bisa? Aku saja susah ngajak jalan," keluh Herryl. "Mana Maya?"


"Aku jemput, ya, nanti," ujar Herryl saat wajah gadisnya terlihat.


"Tapi Riana ...," tolak Maya halus.


"Dia baik-baik saja, kok. Ya, kan, Ri?" ujar Herryl mencoba meyakinkan.


"Iya, deh, nggak apa-apa," jawab Riana tidak ikhlas. Herryl tertawa mendengarnya. "Nyesel telepon kamu, Ryl."


"Maaf, maaf. Aku kangen Maya, Ri. Please," pinta Herryl yang menimbulkan semburat merah di pipi Maya.


"Bucin banget, sih, Ryl. Kalian sudah satu kota, lho. Satu kecamatan, lagi." protes Riana.


"Nanti kalau kamu dapat yang lebih bucin jangan salahin aku, ya. Aku tutup dulu, mau selesaikan proposal. Hati-hati, May," ujar Herryl sebelum memutus sambungan telepon.


Kedua gadis itu telah sampai di klinik dan melakukan perawatan hingga satu jam berlalu dan Herryl sudah menunggu di lobi.


Lelaki itu mengambil alih paperbag Maya kemudian menggandeng tangan gadisnya. Mereka bertiga menuju tempat parkir. Herryl memarkir motornya di samping mobil Riana. Ia memakaikan helm Maya sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


"Harus banget, ya, nunjukin kemesraan di depan aku yang jomblo ini?" keluh Riana.


Herryl tertawa mendengarnya sementara Maya menunduk malu.


"Hahaha. Maaf, deh, tapi makasih, ya, Ri. Kami duluan," ujar Herryl. Riana kemudian masuk ke mobilnya.


Motor Herryl menuju rumah Maya. Tidak ada sepuluh menit mereka sudah sampai di depan rumah. Herryl melepaskan helm Maya.


"Cantik," ucap Herryl setelah helm terlepas.


"Ryl, terima kasih sudah mengantar," ujar Maya sambil menutupi rasa malunya atas pujian Herryl.


"Sama-sama. Aku pulang dulu," jawab Herryl.


Maya menarik ujung jaket kulit yang Herryl kenakan, seolah menahan lelaki itu.


"Kenapa?"


"Ryl. May mau bicara," pinta Maya.


"Bicaralah," jawab Herryl lembut. Diletakkannya helm di stang motor. Lelaki itu kemudian berdiri menghadap Maya, memberi perhatian penuh atas apa yang akan Maya sampaikan.


"May dapat proyek renovasi rumah. Ternyata rumah itu milik Keluarga Van Coen. May bertemu Madam Van Coen dan Adrian. May ingin Herryl tahu kalau May bertemu Adrian bukan untuk alasan lainnya," cerita Maya. Ia meremas jarinya. Khawatir melukai lelaki di hadapannya.


Herryl sedikit membungkuk, kedua tangannya memegang bahu Maya. Ada senyum di bibirnya.


"Terima kasih sudah mau jujur, May. Aku percaya sama kamu. Cuma urusan bisnis, kan? Semoga lancar, ya, proyeknya," ujar Herryl lembut.


Maya menatap mata lelaki di hadapannya, mencari arti tatapan itu. Maya hanya merasakan teduh dan nyaman saat menatap Herryl. Gadis itu mengangguk perlahan. Herryl menegakkan tubuhnya. Tak lupa diusapnya kepala Maya.


"Aku pulang dulu," pamit Herryl lagi yang dijawab anggukan oleh Maya.


"Terima kasih, Ryl," ujar Maya. Dilihatnya lelaki itu menaiki motor maticnya kemudian berlalu meninggalkannya di depan rumah.


...-bersambung-...


Hai halo hai


terima kasih temans sudah setia menyimak kisah Maya dan Herryl

__ADS_1


__ADS_2