![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Setelah Pak Handoyo pergi, Arkan memimpin jalannya diskusi.
"Teman-teman, pihak sekolah menyerahkan pada kita untuk konsep wisuda nanti dan acara perpisahan. Kita hanya mengajukan konsep, nanti panitianya pengurus kelas dan pengurus OSIS. Jadi, ada usul?" Arkan mengumumkan perihal yang harus mereka bahas.
"Kalau perpisahan kita prom night aja kayak tahun lalu," usul Rio, salah satu siswa SMA Angkasa. Maya menghela nafas mendengar usulan tersebut. Malas ia dengan pesta semacam prom night. Tapi, dia, kan, bukan siapa-siapa.
...***...
"Ri, May mau ke Bu Yuniar. Mau ikut?" Maya menawarkan sebuah ajakan. Riana mengangguk. Bagaimanapun mereka akan pulang bersama. Kedua sahabat itu bersisian keluar kelas menuju ruang konseling di lantai 1.
Maya mengetuk pintu terlebih dahulu sampai mendapat izin masuk dari pemilik ruangan. Setelah diizinkan, ia masuk bersama Riana, dipersilakan duduk di sofa oleh Bu Yuniar.
"Nanti berkas yang dibutuhkan akan disiapkan. Jadi kamu siapkan fotokopi Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga saja, ya," pesan Bu Yuniar setelah mengetahui maksud kedatangan Maya ke ruangannya.
"Baik, Bu," jawab Maya. "Kalau begitu, saya permisi," lanjutnya kemudian.
"Nak, sebelum itu, Ibu ingin bertanya. Bagaimana pendapat kamu tentang keinginan belajar anak laki-laki? Ibu prihatin dengan nilai mereka yang selalu rendah." Bu Yuniar menahan Maya dengan sebuah pertanyaan. Maya yang tidak banyak bergaul dengan laki-laki tidak bisa langsung menjawab. Hardi, Herryl, Arkan adalah anak laki-laki yang menyukai pelajaran. Tapi Adrian pemalas, batinnya.
"Mohon maaf, Bu. Saya belum banyak belajar soal itu. Tapi menurut pengamatan saya, laki-laki lebih malas karena memang mereka suka main," jawab Maya akhirnya.
"Permisi, Bu," sapa seseorang yang suaranya sangat Maya kenal. Herryl.
"Kemari, Nak. Ibu ingin menanyakan pendapatmu," panggil Bu Yuniar kemudian menanyakan hal yang sama. Herryl tersenyum mendengarnya.
"Kami cenderung aktif, Bu. Jadi mudah sekali bosan dengan cara belajar di dalam kelas," ucap Herryl.
"Memang kalian aja yang malas," sahut Maya.
"Kita lihat nanti setelah usia 17 tahun, lelaki akan memimpin prestasi," jawab Herryl dengan seringaiannya.
__ADS_1
Maya membelalak. Ia baru ingat akan hal tersebut. Bahwa laki-laki akan mengukir prestasi setelah dewasa, itu benar.
"Jadi, kamu mau bilang kalau laki-laki baru ada minat belajar setelah dewasa?" Bu Yuniar menanyakan pendapat salah satu siswanya.
"Bukan, Bu. Soal minat belajar sebenarnya sudah ada sejak kami kecil. Tapi stereotip bahwa anak pintar itu selalu nilainya bagus membuat sebagian dari kami tidak mau belajar di sekolah. Kalau berkenan, saya sarankan suasana belajar di sekolah lebih mendukung para siswanya untuk belajar, Bu," jawab Herryl menjelaskan kembali. Dilihatnya Bu Yuniar mengangguk.
Maya dan Riana kemudian permisi. Bu Yuniar berterima kasih pada mereka bertiga dan membiarkan Herryl menyelesaikan urusannya di ruangan konseling.
"Kesal, May?" Riana memastikan karena dilihatnya Maya cemberut. Maya tidak menjawab tapi terus berjalan bersisian dengan Riana. Gadis yang jiwa kompetisinya tinggi itu merasa terluka karena menurutnya ia kalah dari Herryl.
Sementara itu di ruang konseling, Herryl berkonsultasi terkait rencananya kuliah di Oxford.
...***...
"Teman-teman, kita akan menjadi panitia wisuda dan perpisahan kelas 3. Untuk saat ini kita belum tahu konsep acaranya karena konsep acara dari kelas 3. Kakak perwakilan dari kelas 3 ada yang ingin menyampaikan konsep wisuda dan perpisahan?" Herryl membuka rapat hari ini sambil menanyakan pada beberapa perwakilan kelas 3.
"Kami baru bertiga, sedangkan kelas 3 ada 8 kelas. Kalau kami memutuskan sekarang rasanya tidak mewakili suara kelas 3, Ryl," jawab Arkan diplomatis. Herryl mrngedarkan pandangan ke seluruh ruang kelas. Benar pendapat Arkan, tidak ada setengahnya yang hadir.
Pembentukan panitia segera dibuat dengan Herryl sebagai divisi acara. Meski ini adalah kegiatan terakhir selama ia menjabat sebagai pengurus OSIS, ia tak ingin menjadi ketua panitia. Ia ingin banyak bergerak dan tidak ingin membuat kecewa seluruh civitas akademik SMA Angkasa dalam acara nanti.
...***...
Maya baru selesai mengepel sore itu saat Herryl datang.
"Jangan masuk. Baru selesai dipel," larang Maya yang langsung dijawab raut muka memelas Herryl.
"Tega amat pacarnya dibiarin di luar," keluh Herryl.
"May bukan pacar kamu. Bisa, kok, berdiri di luar, atau mau Maya pel nih?" ancam Maya lagi, merasa larangannya tidak diindahkan oleh lelaki di depannya. Tangan kanannya sudah mengacungkan gagang pel.
__ADS_1
"Jangan, May. Aku udah mandi, udah ganteng. Masa mau dipel?" elak Herryl lagi.
"Makanya nurut," perintah Maya. Gadis itu berbalik membawa gagang pel ke dapur dan membersihkannya.
Sebenarnya ia tak mengerti dengan hubungan antara dirinya dan Herryl. Teman? Sahabat? Atau kekasih? Pilihan terakhir sudah dicoretnya dari daftar hubungan. Sebaik apapun Herryl, Maya hanya akan menerimanya sebagai teman. Karena Herryl bukan Hardi atau Adrian. Sudahlah, yang penting nggak buat masalah, batin Maya akhirnya. Disiapkannya minum dan cemilan untuk tamu berisik di depan.
"Sudah kering. Masuk, Ryl," perintah Maya. Herryl menuruti Maya. Mereka berdua duduk di lantai dan Maya meletakkan jamuan di meja. Maya meraih bantal duduk yang selalu disediakan untuk tamu meski mereka tidak memiliki sofa.
"Ada apa?" tanya Maya kemudian.
"Tadi rapat panitia wisuda dan perpisahan. Konsepnya belum tahu karena perwakilan kelas 3 cuma 3 orang. Kamu ada usul, nggak, untuk konsep acaranya?" jawab Herryl yang diakhiri permintaan pendapat.
"Sebenarnya ada, sih, tapi apa cocok untuk SMA Angkasa?" jawab Maya.
"Ajukan saja. Aku catat. Siapa tahu diterima konsepnya," saran Herryl.
"May suka nonton di drama Jepang. Mereka upacara kelulusan pakai seragam sekolah di aula, mendengar pidato dari kepala sekolah dan perwakilan siswa. Sederhana jadinya. Kalau May pikir kan di SMA Angkasa juga banyak siswa penyandang beasiswa, kayaknya cocok konsep itu. Nggak memberatkan bagi penyandang beasiswa kayak May," usul Maya mengajukan analisanya.
"Menarik. Perpisahannya? Kurasa prom night berlebihan untuk kita," komentar Herryl. Diminumnya air putih yang sudah disiapkan Maya.
"Hmm, iya, sih. Tapi kalau banyak yang suka? Kenapa nggak? Ya, walau May sih setujunya kalau semacam pentas seni saja. Nggak perlu ada dansa-dansa ala barat," sahut Maya lagi. Kalau prom night tentu ada dresscode, pakaian tematik. Bagaimana kalau Maya tidak memilikinya?
"Kan kalau dansa bisa jadi pasangan aku," celetuk Herryl yang dijawab dengan tatapan tajam Maya. Tidak hanya itu, bantal duduk juga dilempar ke arahnya.
"Kapan bener ngomongnya?"
"Oke, kutampung, ya. Semoga aku bisa wujudkan konsep ini. Aku pamit dulu, May. Hati-hati di rumah," ujar Herryl sambil menepuk kepala Maya lalu pergi, ke balai karang taruna untuk mengajar adik-adik bimbingannya.
...-bersambung-...
__ADS_1
Herryl mau ke Oxford, Inggris? Wow!