[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Drowning


__ADS_3

"May, ke Bu Yuniar, yuk," ajak Arkan. Setelah jam pulang sekolah, bukan berarti jam kerja guru di SMA Angkasa berakhir. Bagi para siswa yang memiliki tujuan bertemu guru tentu hal tersebut merupakan sebuah kesempatan. Seperti Arkan, Maya, dan Rima saat ini. Mereka menghadap Bu Yuniar yang baru selesai menerima konsultasi dari seorang siswa.


Maya menunduk begitu melihat wajah siswa yang baru selesai berkonsultasi. Herryl menatap Maya dengan raut wajah yang tidak lagi ceria. Tetap ditunjukkannya senyum pada ketiga kakak kelasnya itu. Saat berpapasan, ia menepuk kepala Maya.


Maya yang mendapat perlakuan tersebut menoleh, menatap punggung lelaki tinggi itu.


"Ya, ada yang bisa Ibu bantu?" Bu Yuniar menanyakan maksud kedatangan tiga siswanya.


"Kami ingin berkonsultasi terkait jurusan yang akan kami pilih, Bu," jawab Arkan.


"Ya, selain Maya, tentu. Ibu dengar, Maya sudah menentukan jurusan Teknik Sipil, ya? Tempo hari Pak Handoyo yang memberi tahu Ibu," ujar Bu Yuniar menanggapi. Maya mengangguk.


"Saya pamit dulu, Bu," ucap Maya. Entah kenapa ia ingin menyusul Herryl. Setelah Bu Yuniar mengangguk ia pamit pada Riana dan Arkan.


Saat Maya membuka pintu, ternyata Herryl sedang duduk di kursi batu depan ruangan Bu Yuniar. Mengetahui Maya keluar, Herryl berdiri.


"Sudah selesai?" Herryl bertanya karena ia merasa Maya terlalu cepat selesai. Melihat Maya diam saja dan menunduk, Herryl mendekat. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan gadis itu.


"Ryl, Papa nyuruh kamu ke kantornya. Yuk, bareng," ajak Thalita yang tiba-tiba saja datang dan menggelendot pada tangan Herryl.


"Tapi jangan pegangin tangan saya, Kak," jawab Herryl. Sedikit cemberut, Thalita melepas pegangannya. "Saya duluan, Kak," lanjut Herryl, pamit pada Maya. Thalita menyunggingkan senyum kemenangan karena Herryl lebih memilih dirinya dibanding Maya.


Maya terdiam, hanya mengusap matanya yang mulai mengembun akibat air mata yang mendesak keluar. Gerakan kecilnya tidak luput dari pandangan Herryl yang menoleh setelah agak jauh. Nangis?


Maya semakin tidak mengerti dengan dirinya. Buat apa dia keluar tadi? Hanya untuk menyaksikan sikap manja Thalita? Ia memutuskan kembali menemui Bu Yuniar.


"Kalau kamu suka, kamu bisa masuk Teknik Lingkungan, Geologi, atau Kedokteran, Nak," ujar Bu Yuniar menjelaskan pada Arkan. Maya yang mendengarnya takjub. Arkan masuk kedokteran?


"Sebenarnya saya berminat jadi peneliti, Bu," sahut Arkan menceritakan keinginannya. Mendengar hal itu, Bu Yuniar tersenyum.


"Wah, jarang Ibu dengar hal seperti itu. Ini ada beberapa brosur dari universitas luar dan dalam negeri yang bekerja sama dengan Yayasan Angkasa. Kamu bisa membawanya, Nak," nasehat Bu Yuniar.

__ADS_1


"Kalau suka menjahit apakah hanya di Tata Busana, Bu?" Riana bertanya. Maya sudah beberapa kali diberikan hasil karya sahabatnya itu. Rompi atau cardigan yang imut, tempat pensil, masker kain, sampai gantungan kunci.


"Ada jurusan Tata Busana atau disebut dengan Fashion Design di beberapa kampus. Ibu referensikan brosur ini, Nak," jawab Bu Yuniar lagi. Disodorkannya brosur universitas di luar Yayasan Angkasa. Riana menerima dan mengangguk.


"Baik, Bu, terima kasih. Kami pamit dulu," ucap Arkan mewakili. Maya meminta mereka berdua keluar lebih dulu.


"Jadi, ada apa?" Bu Yuniar bertanya. Maya terdiam agak lama sebelum akhirnya menjawab.


"Saya nggak tahu, Bu. Akhir-akhir ini saya sering sedih tanpa sebab. Saya khawatir berpengaruh pada nilai saya," jawab Maya. Bu Yuniar duduk di samping siswa terpintar SMA Angkasa itu.


"Tapi kamu bisa mengerti yang guru sampaikan?"  Maya diam mendengar itu, kemudian mengangguk. Sebuah senyum terbit di wajah Bu Yuniar. Disentuhnya bahu siswi terpintar itu.


"Coba kamu tuangkan perasaan kamu dalam bentuk tulisan. Kalau kamu punya hobi, kamu bisa menekuni hobi kamu itu, Nak. Tetap semangat, ya. Ibu yakin, kamu bisa melewati masa-masa ini," pesan Bu Yuniar. Maya mencoba untuk tersenyum. Ada perasaan seolah beban di hatinya sudah terangkat.


Ya, kadang bercerita pada seseorang yang mau mendengarkan bisa menjadi sebuah terapi untuk hati kita ketika kita sedang memiliki masalah.


"Baik, terima kasih, Bu. Kalau begitu, saya pamit," ucap Maya dengan nada yang lebih ceria dari sebelumnya. Bu Yuniar mengangguk untuk menanggapi ucapan Maya. Mereka berdua tersenyum sebelum akhirnya Maya keluar dari ruangan tersebut.


...***...


Sudah beberapa minggu berlalu sejak hari itu. Kini Maya semakin tenang dan kesedihannya mulai berkurang. Ia mencoba menghindari waktu-waktu di mana ia akan bertemu Herryl. Kemampuannya menganalisa membantunya untuk memprediksi berbagai kemungkinan dan membuatnya mampu menghindari pertemuan dengan Herryl. Kini Maya semakin fokus belajar untuk ujian.


"Baik, anak-anak. Sekarang saatnya tugas individu. Kalian bertugas membuat kliping dari koran-koran olahraga tentang salah satu olahraga yang telah kita pelajari. Dikumpulkan 2 minggu lagi di meja saya, ya, Arkan," perintah Pak Gunawan saat memberikan tugas yang menjadi salah satu penilaian akhir mata pelajaran olahraga. Serempak terdengar suara mengiyakan dari seluruh siswa kelas 3-7. Pak Gunawan kemudian pergi dari kelas karena jam pelajarannya sudah selesai.


"May, kita cari di mana, ya?" Riana bertanya karena sebagai seorang siswi perempuan pada umumnya dia tidak pernah membeli atau berlangganan tabloid olahraga. Maya? Dia tidak memiliki cukup uang untuk berlangganan. Ia hanya bisa mengangkat bahu. Tidak tahu.


"Kayaknya ke anak laki-laki, nih. Gimana ya?" Riana terus bertanya padahal sebenarnya ia sudah mencetuskan sebuah ide.


"Kita minta ke anak laki-laki, berarti," jawab Maya.


"Tapi kalau kelas 3 pasti pada dipakai semua," keluh Riana.

__ADS_1


"Nggak, Ri. Kita, kan, cuma disuruh buat kliping satu jenis olahraga. Dalam koran olahraga pasti isinya berbagai macam olahraga, kan?" Maya mengingatkan kembali pada Riana. Riana mengangguk dan tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri.


"Yuk kita minta," ajak Riana. Maya menggeleng. Gadis yang sejatinya malu berbicara dengan anak laki-laki itu hanya akan berjuang di dalam kelas, bertanya pada beberapa siswa laki-laki di kelasnya sendiri. Riana tersenyum.


...***...


Sudah 3 hari berlalu dan Maya belum menemukan satu tabloid olahraga pun. Bapak dan bosnya tidak memiliki koran, tabloid, maupun majalah olahraga. Bagi seorang Maya yang selalu mengerjakan tugas sesegera mungkin, waktu 3 hari sangatlah berarti untuknya.


Pagi ini Maya sudah sampai di sekolah yang masih sepi. Sama seperti biasanya. Hanya 3-4 siswa yang sudah datang. Maya segera menaiki tangga menuju lantai dua. Di tangga itulah ia berpapasan dengan Herryl. Belum sempat ia menundukkan wajahnya, Herryl sudah menyapa. Pertama kali sejak berminggu-minggu mereka tidak bertemu.


"May," panggil Herryl. Sudah tidak ada sematan 'kak' lagi yang Maya dengar. Maya hanya diam, bingung ingin merespon bagaimana. "Kok diam? Ya sudah, aku duluan," lamjut Herryl sebelum akhirnya menepuk pucuk kepala Maya dan melewatinya.


Maya segera teringat sesuatu, ia berbalik dan menatap punggung Herryl.


"Ryl," panggil Maya. Herryl yang baru melangkah satu anak tangga segera berbalik, tersenyum mendengar suara gadis yang sebenarnya ia rindukan. "May mau..." Maya ragu melanjutkan ucapannya. Pantaskah? Meminta pada Herryl? Padahal selama ini ia mengacuhkan lelaki itu. Herryl segera naik kembali ke hadapannya yang berdiri di pertengahan tangga.


"Apa May?" Herryl kini bersemangat. Mau apa? Mau menerimaku?


"May mau... Pinjam tabloid atau koran olahraga kalau Herryl punya. Untuk tugas olahraga," jawab Maya polos. Membuat Herryl terhenyak dan tertawa mendengarnya. Rupanya perkiraan Herryl terlalu tinggi. Sementara itu Maya kesal karena Herryl menertawakannya, setidaknya begitu perkiraan Maya.


"Kirain apa. Hahaha, kalau itu ada, May. Nggak nyangka, seorang Maya bisa butuh bantuan juga untuk tugas, ya?" Herryl menyahut dan tanpa ia sadari sudah meledek Maya.


"Ngeledek aja bisanya. Nggak jadi." Maya menyahut ketus kemudian berjalan menuju lantai dua. Baru saja ia menapakkan kaki selangkah, tangannya sudah ditarik Herryl sehingga ia terhuyung dan ia hanya bisa bertahan dengan sikunya yang mengenai dada Herryl. Setidaknya ia tidak jatuh. Syukurlah.


"Aduh." Herryl mengaduh karena dadanya disikut oleh Maya yang bertahan.


"Sorry, refleks." Ketus Maya mengucapnya karena bagaimanapun itu ulah Herryl, bukan, yang menariknya lebih dulu?


"May, aku-" ucapan Herryl kembali terpotong oleh sentakan tangannya yang menggenggam tangan Maya. Maya segera pergi, naik ke lantai dua tanpa menghiraukannya.


...-bersambung-...

__ADS_1


__ADS_2