[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Apakah Sesuatu yang Penting itu Hancur?


__ADS_3

Maya membuka album foto coklat tersebut, mendapati banyak sekali foto kegiatannya bersama teman-teman di TK. Ia coba mengingat nama-nama teman TKnya berdasar wajah yang ia lihat dalam foto tersebut. Hanya wajah Hardi kecil yang ia dapati di sana, bukan Herryl.


Bu Rini yang melihat putrinya begitu menekuni album coklat ikut duduk di samping Maya, melihat foto yang seperti menarik perhatian Maya.


"Kenapa, Nduk?" tanya Bu Rini.


"Ini, Ma. Nama teman-teman TK. Mama ingat, nggak, siapa saja mereka?" jawab Maya yang diakhiri pertanyaan. Meluncurlah nama-nama yang Maya ingat sekilas. Mana nama Herryl? Maya membatin. Apa Herryl iseng tadi? Tapi di matanya kelihatan ... Mata itu ...


Wajah Maya memerah, malu bila ingat tatapan Herryl kepadanya. Selama ini ia menyadari perasaan Herryl padanya, tapi ia juga memahami posisi dirinya dan keluarganya dibanding keluarga Ardhiwijaya. Baginya, mereka berdua memiliki dunia yang berbeda dan akan sangat sulit menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut. Herryl yang tenar, banyak sekali penggemarnya, pintar, dan tentu dari kalangan orang berada, sangat tidak sebanding dengan dirinya yang berasal dari keluarga sederhana. Maya yakin yang diterimanya hanya tatapan kasihan saja dari lingkaran pertemanan Herryl. Ia tidak menginginkan untuk dikasihani maka ia berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam menggapai cita-citanya. Maya yakin, dengan ilmu yang dimiliki dan cita-cita yang tercapai akan mengangkat derajat kedua orang tuanya.


"Ma, apa Maya punya teman yang namanya Herryl di TK?" tanya Maya kemudian.


"Seingat Mama nggak ada, Nduk. Tapi nanti kita tanya Bapak. Sewaktu kamu Playgroup sampai SD kelas 3, Bapak yang selalu antar jemput kamu," jawab Bu Rini. Ketika Maya masih kecil, Bapak masih bekerja sebagai sekuriti di rumah Pak Wimono sehingga jam kerjanya menggunakan shift. Dengan kondisi seperti itu, Bapak berkesempatan mengantar jemput putrinya setiap hari.


"Assalamu'alaikum," salam Bapak yang baru pulang. Kedua anggota keluarganya menjawab salam Bapak. "Lho, tumben bongkar album foto, Nduk," lanjut Bapak menanyakan aktivitas Maya.


"Ini, Pak. Cari foto teman di TK," jawab Maya.


"Sudah ketemu?" tanya Bapak sambil menghampiri putrinya. Dilihatnya Maya menggeleng. Bapak kemudian mengambil album tersebut, membuka dari awal lembarannya.


"Oh, ini waktu kamu playgroup. Ada Sinta, Indah, Yuni, Adi sama Eyil yang kata kamu suka nolongin kamu, ini yang katamu nakal, Darrel, Brian, Andri. Ini kamu, Kiran, sama Asri," rinci Bapak sambil menunjuk satu per satu orang dalam foto bersama tersebut.


"Adi sama Eyil?" tanya Maya memastikan.


...***...


"Kami sampai harus bergantian jagain kamu," cerita Hardi.


"Kami?" tanya Maya.


"Kamu inget, kan, ada satu lagi..." ucap Hardi yang dipotong oleh gelengan Maya.

__ADS_1


"Kamu malah pernah bilang mau nikah sama dia kalau sudah besar supaya dilindungi terus," lanjut Hardi.


...***...


"Iya, malahan kamu cerita sama Bapak kamu janjian sama Eyil buat nikah kalau dewasa. Hahahaha, anak-anak," cerita Bapak mengenang masa kecil Maya dan teman-temannya.


"Iya, Pak, Mama juga ingat Maya semangat ceritanya kalau ditolong Adi dan Eyil," ucap Bu Rini menimpali.


Mendengar itu, mata Maya membulat. Diperiksanya kembali foto yang dimaksud Bapak. Diamatinya foto anak kecil yang Bapak sebut Eyil.


"Ini Eyil, Pak?" tanya Maya lirih.


"Iya," jawab Bapak.


Eyil. Herryl. Jadi dia ... Maya menahan air matanya yang sudah akan keluar. Hatinya menghangat sekaligus perih. Hangat karena Herryl masih menjaga janji mereka, perih karena selama ini ia tidak mengetahui kebenarannya.


"Bapak mandi dulu," ucap Bapak begitu menyadari raut wajah putrinya mendung. Dia butuh waktu untuk sendiri, pikir lelaki paruh baya tersebut.


Maya bergegas ke kamar membawa album foto yang sedari tadi digenggamnya. Beringsut ke kasur dan menitikkan air mata yang sedari tadi ditahannya.


...***...


Herryl mengemasi pakaian dan keperluan lainnya. Ketika menyentuh bingkai foto di atas meja belajarnya, ia tersenyum simpul. Foto mereka berdua saat kelulusan Maya.


"Maya ...."


Diambilnya bingkai tersebut dan dimasukkannya ke dalam koper hitam berukuran 22 inchi. Selesai berkemas, ia beranjak ke tempat tidur. Berusaha memejamkan matanya agar ia mendapatkan cukup istirahat. Besok ia akan pamit pada teman-teman dan adik bimbingan di karang taruna.


Jam sudah menunjukkan waktu tengah malam tapi Herryl hanya berguling di tempat tidur. Ia tidak dapat tidur karena masih terbayang wajah Maya yang menangis. Diambilnya ponsel di atas nakas dan ia memeriksa aplikasi percakapan. Grup SMA sudah ramai oleh ucapan selamat jalan pada teman-teman yang akan meneruskan pendidikan di luar Jakarta, termasuk dirinya.


"I can't sleep, May," tulis Herryl pada layar percakapannya dengan Maya yang kemudian ia hapus lagi. Ia letakkan ponselnya di atas nakas kemudian berusaha untuk tidur dengan bantuan bacaan buku yang mulai ia sukai: Sherlock Holmes.

__ADS_1


...***...


Maya akhirnya tertidur setelah lelah menangis dan menelepon Riana. Ketika di Paris menjelang senja, Maya menelepon dengan diiringi isak tangis.


"Herryl mau kuliah di Inggris, Ri," ucap Maya di awal percakapan mereka. Riana mengetahui perasaan Maya yang sebenarnya meski selama ini ia tutupi dengan sikap dingin terhadap Herryl.


"Kapan berangkat?"


"Sabtu, katanya. Mendadak banget ngasih kabar," jawab Maya sebelum akhirnya ia menjelaskan pertengkarannya dengan Herryl beserta kenyataan yang ia dapati malam ini.


"May, kamu sudah dewasa. Herryl sudah bilang, kan, kalau dia nggak mau kamu sedih? Hargai niat baiknya. Dia juga terlalu sabar sama kamu selama ini. Sekarang giliran kamu, May, bersabar untuk dia. Bisa, ya," nasehat Riana lagi. Maya hanya diam kemudian beruluk salam dengan Riana sebelum akhirnya memutus sambungan telepon.


Lega rasanya bila sudah menceritakan masalah pada sahabat. Beban yang dirasakan sedikit terangkat, begitu yang Maya rasakan. Ia berusaha tidur ditemani buku "Memoar of Sherlock Holmes" bersampul biru.


...***...


Herryl datang ke rumah Maya malam itu sebelum ke balai karang taruna. Bagaimanapun, kedua orang tua Maya adalah orang baik yang menerimanya selama ini. Ia harus berpamitan pada kedua orang tersebut.


"Jadi, besok mau berangkat?" tanya Bapak setelah Herryl menyampaikan maksudnya berpamitan. Herryl mengangguk.


"Maya nggak mau keluar, Pak," kata Bu Rini sambil duduk di samping Bapak.


"Nggak apa-apa, Ma. Biarin, dari kemarin diem aja dianya," sahut Bapak sambil melihat ke arah Herryl yang menunduk. Benar, mereka lagi ada masalah.


"Saya pamit dulu, Bu, Pak. Mau pamit ke teman-teman karang taruna," pamit Herryl kemudian.


"Hati-hati di negeri orang, ya, Nak. Jaga diri baik-baik," pesan Bapak dan Bu Rini di antara berbagai nasehatnya yang dijawab anggukan oleh Herryl. Takzim ia cium tangan kedua orang tersebut.


Herryl kemudian pamit dengan teman-teman karang tarunanya. Sekitar pukul 9 Herryl sudah pulang. Meski keberangkatan besok pukul 9 malam, ia masih harus memeriksa kelengkapan berupa berkas dan bawaan lainnya.


Sementara itu, di rumah Maya, Maya menyibukkan dirinya dengan tugas kuliah. Sebentar lagi adalah Ujian Akhir Semester sehingga semua tugas harus dikumpulkan selama dua pekan ke depan.

__ADS_1


"Nduk, Herryl tadi pamit," ucap Bu Rini. Maya sempat menghentikan sementara tugasnya sebelum kemudian ia melanjutkan seperti tidak ada apa-apa.


...-bersambung-...


__ADS_2