![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Semenjak menjadi siswa kelas 3, Herryl tidak leluasa lagi sepulang sekolah. Ia semakin menekuni les Bahasa Inggris untuk memperdalam kemampuannya kelak di Inggris.
"Jangan lupa makan," pesan Herryl dalam aplikasi percakapan yang dikirimnya ke nomor Maya. Setiap pagi ia selalu mengirim pesan penyemangat untuk Maya. Meski Maya jarang membalas, ia terus mengirimkan pesan-pesan tersebut.
...***...
Ini hari terakhir PKKMB Maya. Hari sudah sore saat ia keluar aula dan melihat sosok yang sudah beberapa minggu tidak ia temui. Lelaki berseragam SMA Angkasa, berdiri di ujung koridor. Tubuhnya bersandar di dinding aula. Maya menghampiri lelaki yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Sudah, May? Pulang, yuk," ajak Herryl. Maya tidak segera menjawab. Saat itulah Natasha dan Nusa datang menghampiri mereka.
"Tumben ke sini, Ryl," sapa Natasha yang ditanggapi senyum oleh Herryl. Maya tertegun mendengarnya. Ryl? Kak Natasha sudah mengenal Herryl?
"Oh, jadi Herryl orangnya. Pantas saja esainya bagus," komentar Nusa. Ini ada apa, sih? Kok mereka kenal Herryl?
"Esai apa, Kak?" tanya Herryl penasaran.
"Maya mendadak dapat tugas buat esai tentang olahraga. Dia bahas kriket. Sewaktu presentasi dia pakai beberapa istilah Bahasa Inggris. Mirip kamu. Kamu yang ngajarin dia?" jawab Nusa kemudian.
"Oh, itu tugas klipingnya waktu SMA, Kak. Saya cuma bantu sedikit," jelas Herryl. Nusa dan Natasha mengangguk.
"Eh, kamu kapan ke rumah? Mami kangen, katanya kepengen kamu nginep lagi," celetuk Natasha. Nginep? Raut wajah Maya berubah.
"Kak, lihat, Maya bisa salah paham. May, Kak Natasha ini sepupuku. Kamu nggak usah cemburu, ya," sahut Herryl mengingatkan Natasha lalu menjelaskan pada gadisnya. Tak lupa ia menepuk puncak kepala Maya yang tingginya hanya sebatas bahu dirinya.
"Si-siapa yang cemburu?" elak Maya.
"Kalian pacaran?" tanya Nusa.
"Nggak," elak Maya lagi.
"Belum. Dia maunya langsung nikah," jawab Herryl. Maya mendengar itu langsung menginjak kaki Herryl.
"Wadouw!" teriak Herryl kesakitan.
"Udah, pulang aja. Makin sore makin kacau kamu," perintah Maya sambil mendorong punggung Herryl. "Kak, kami pulang dulu," pamit Maya pada kedua seniornya.
"Herryl yang selama ini dingin sama perempuan yang deketin dia bisa nurut gitu sama Maya?" tanya Nusa sambil tersenyum.
"Bucin, dia. Kelihatannya juga Maya bukan tipe yang deketin Herryl," jawab Natasha.
Sementara itu di koridor, Maya berjalan di samping Herryl.
"Kamu ke sini naik apa?" tanya Maya.
"Bus. Kamu malu dijemput pakai bus?" jawab Herryl diakhiri tanya.
"Nggak. Kamunya repot jadinya, biasanya tinggal jalan kaki pulangnya jadi naik bus dulu," elak Maya.
__ADS_1
"Aku nggak repot kalau buat kamu," ucap Herryl terdengar seperti menggombal, membuat gadis di sampingnya mencebik kesal. Herryl yang sudah terbiasa dengan respon Maya kini menyunggingkan senyum.
"Ryl," sapa seseorang yang Maya ketahui sebagai Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Angkasa.
"Kak Haikal," sapa Herryl saat berpapasan. Mereka berbasa-basi sebentar sebelum kemudian Haikal pamit karena ada keperluan.
"Kenapa semua bisa kenal kamu?" tanya Maya saat mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju gerbang.
"Di Yayasan Angkasa, Ketua OSIS SMP, SMA, dan Ketua BEM Universitas itu memang terkenal. Gimana? Keren, kan, aku?" jawab Herryl yang membuat Maya menghentikan langkahnya. Herryl yang mendapat respon seperti itu ikut berhenti. "Kenapa?"
"Eh, nggak," elak Maya menutupi.
"Kamu sudah kenal teman di angkatanmu?" tanya Herryl saat mereka sedang di halte, menunggu bus.
"Belum. Kebanyakan laki-laki. Di kelas May saja cuma May yang perempuan," jawab Maya.
"Fokus sama mata kuliahmu saja, ya, kalau begitu," pesan Herryl. Maya menoleh, mendapati respon Herryl yang tidak jahil rasanya aneh. Dilihatnya Herryl tidak tersenyum lagi, seperti gelisah. Ada apa?
Bus yang mereka tunggu sudah datang. Bersama penumpang lainnya mereka masuk ke dalam bus. Karena hari sudah sore, bus terisi penuh, bahkan mereka harus berdiri. Maya memilih sebuah sudut yang menurutnya aman dari desakan, diikuti Herryl.
"Maaf," ucap Herryl saat mengungkung Maya dengan tangannya bertumpu pada jendela bus dan kursi. Maya melihat Herryl sibuk menahan agar tubuh mereka tidak berhimpitan. Perjalanan yang terasa lambat karena macet itu bagi Maya seperti menyiksa Herryl.
Ketika sudah di halte tujuan, mereka berdua turun dan menyusuri jalan untuk ke rumah Maya.
"Ryl, kamu nggak usah jemput May lagi," pinta Maya.
"Kenapa?"
"Kamu malu dijemput aku?" tanya Herryl lagi. Aku masih belum pantas, May?
"Itu ...," jawab Maya menggantung. Apa harus jujur?
"Kamu mau pulang bersama teman-temanmu?"
"Bukan."
"Kalau dijemput Adrian, kamu nggak malu?" Herryl mulai meracau.
"Kenapa bawa nama Adrian?" Maya membalas racauan Herryl. Anak ini kenapa, sih?
"Jawab, May."
"May nggak paham maksud Herryl. Sudah, sampai di sini saja, terima kasih sudah repot antar May," ucap Maya akhirnya. Ia berjalan cepat untuk segera sampai rumahnya, meninggalkan Herryl yang terpaku.
"Sial! Kenapa jadi begini?" keluh Herryl. Baru tadi di kampus dia tersenyum menjemput Maya, sekarang sudah bertengkar. Herryl menjambak rambutnya frustrasi lalu pulang ke rumahnya.
Sementara itu, Maya sampai di rumah langsung ke kamar. Ia mengecek ponselnya. Segera dibukanya aplikasi percakapan, ia hubungi Riana. Maya mengetik kalimat pembuka.
__ADS_1
"Ri, Herryl tiba-tiba marah waktu May larang dia jemput ke kampus. Dia bawa-bawa Adrian."
Pesan itu kemudian terkirim ke belahan bumi di benua eropa. Tidak lama kemudian Maya mendapatkan jawaban dari Riana.
"Aku telepon, ya. Baru selesai makan siang, nih," tulis Riana yang terbaca Maya. Tidak lama kemudian telepon dari Riana masuk, sebuah panggilan video call. Maya menjawab dan menceritakan kekhawatirannya saat melihat Herryl di dalam bus. Maya menceritakan lengkap kronologi pertengkaran mereka.
"May, Herryl cemburu. Mungkin dia juga lagi capek setelah naik bus malah dapat larangan dari kamu," ujar Riana menjelaskan analisanya.
"Siapa suruh jemput? May, kan, bisa sendiri," elak Maya.
"Kalian udah lama nggak ketemu, kan? Dia kangen, May," sahut Riana menjelaskan secara gamblang karena ia hapal bahwa Maya tidak mengerti kode.
Kini, wajah Maya memerah akibat kalimat terakhir Riana.
"Ya, udah, sekarang kamu tenangin diri kamu, baru ademin si Herryl," nasehat Riana yang gemas akan kepolosan Maya.
"Ademin?"
"Iya, yang bikin dia dingin, adem. Jujur juga maksud May apa," jelas Riana lagi. Maya mengangguk dan mereka menutup telepon.
Belum sempat Maya meletakkan ponselnya, sebuah panggilan video call masuk. Tertera nama Herryl sebagai pemanggil. Tanpa membuang waktu, Maya mengangkat telepon tersebut.
"May, maaf, tadi aku salah," ucap Herryl.
"Ryl, masuk kulkas," perintah Maya.
"Apa?" tanya Herryl yang terkejut dengan perintah tersebut.
"Biar adem," lanjut Maya. Herryl yang baru selesai mandi itu semakin bingung dengan ucapan Maya.
"Sebentar, May. Aku tutup dulu," ucap Herryl kemudian bergegas ke rumah Maya. Ada yang nggak beres sampai dia meracau. Herryl setengah berlari menuju rumah Maya dan segera mengetuk pintu rumah Maya. Bu Rini membukakan pintu dan mendapati raut wajah Herryl yang tidak tenang.
"Bu, Maya kenapa?" tanya Herryl panik.
"Maya lagi mandi," jawab Bu Rini kemudian mempersilakan Herryl masuk. Tidak lama kemudian Maya ke ruang tamu. Herryl menghampiri Maya, memutar tubuh gadis itu, memeriksa dahinya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Herryl lagi. Maya menggeleng. "Syukurlah. Tadi aku khawatir kamu kenapa-kenapa karena menyuruhku masuk kulkas," lanjut Herryl menjelaskan kekhawatirannya.
"Itu, May kan nggak mau kamu tersiksa di bus karena penuh kayak tadi makanya May larang kamu jemput lagi. Terus tadi kamu kelelahan makanya emosi, terus cemburu. Makanya May cari cara buat ngademin kamu," ucap Maya menjelaskan.
Mendengar penjabaran Maya, Herryl mengerjapkan mata. Gadis di depannya menjabarkan perasaan seperti mempresentasikan esai, tanpa malu.
"Tapi bukan masuk kulkas juga, May," ralat Herryl.
"Terus, cara ngademin kamu gimana?" tanya Maya lagi.
"Melihat kamu baik-baik saja sudah cukup," jawab Herryl lembut. Hatinya hangat mendengar Maya mengkhawatirkan dirinya. Tangannya menepuk puncak kepala Maya. "Aku pulang dulu," lanjut lelaki itu yang kemudian pamit pada Bu Rini.
__ADS_1
...-bersambung-...
Hai halo hai, sudah update.