![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"May, kamu ke Oxford?" tanya Riana di telepon malam itu. Maya baru selesai mengepak pakaiannya ke dalam tas ransel.
"Iya, Ri," jawab Maya.
"Sama siapa? Herryl?"
"Sama orang tuanya juga."
"Wah, sudah lampu hijau, kalian?" goda Riana. "Selamat, ya," lanjutnya.
"Tadinya May takut, Ri, dengan status sosial kami yang berbeda," cerita Maya mengungkapkan isi hatinya.
"Syukurlah kenyataannya kamu diterima mereka, ya, May. Di Oxford kamu berapa lama?"
"Seminggu, Ri."
Kedua sahabat itu saling bercerita sampai malam.
...***...
Bapak dan mama mengantar Maya ke bandara menggunakan mobil Pak Wimono. Sementara Herryl dan keluarganya diantar oleh Pak Asep.
"May, Pak, Bu," sapa Herryl. Kedua anak muda itu kemudian menyalami takzim orang tua yang mereka temui.
"Pak Ardhi, kenalkan ini istri saya," ujar Pak Sugeng sambil menjabat tangan Pak Ardhiwijaya. Hal yang sama dilakukan oleh Pak Ardhiwijaya sehingga keempat orang tua tersebut saling mengenal.
"Kenapa nggak langsung nikah aja, sih, kita, May? Mumpung orang tua kumpul semua. Jadi, ke Inggrisnya, kan, honeymoon," tanya Herryl yang berdiri di samping Maya sambil memandang keempat orang tua yang sedang mengobrol ringan.
__ADS_1
GYUTT!!
"Wadouw!!" pekik Herryl yang pinggangnya dicubit oleh Maya.
"Nikah terus mikirnya," sahut Maya sewot.
"Kenapa, Ryl?" tanya Pak Ardhiwijaya.
"Ini, Pa. Lagi disayang Maya," jawab Herryl yang kemudian berakibat kakinya diinjak oleh Maya.
"Nduk, jangan begitu," nasehat Bu Rini.
"Tapi, Ma. Herryl, tuh, bahas nikah terus," keluh Maya tidak terima kalau dia yang disalahkan. Keempat orang tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka karena tingkah laku dua pemuda itu.
"Memangnya Maya nggak mau nikah?" tanya Nyonya Anggi.
"Mau, Tante." Maya menjawab cepat. Setelah mendapat delikan mata dari kedua orang tuanya dan tawa tertahan dari kedua orang tua Herryl, mata Maya membelalak.
Herryl menepuk kepala gadisnya lalu tersenyum.
"Ternyata kamu bisa jujur juga, ya, May, soal perasaan kamu," goda lelaki itu membuat Maya mengerucutkan bibirnya kesal. "Jangan gitu, nanti aku tambah gemas sama kamu," goda Herryl lagi.
"Herryl. Di depan orang tua, juga," gerutu Maya.
"Lho, kenapa? Kan biar orang tua kita tahu kelakuan anaknya yang masih ada batasan," jawab Herryl.
"Sudah, sudah. Nanti duduknya dipisah saja, ya, di pesawat, supaya nggak ribut," ujar Nyonya Anggi usil. Sementara kedua orang tua Maya berkali-kali meminta maaf atas tingkah Maya.
__ADS_1
"Jangan, Ma. Eyil nggak mau pisah dari Maya," rengek Herryl yang kemudian disikut oleh Maya.
"Maya," tegur Pak Sugeng.
"Nggak apa-apa, Pak. Herryl perlu sekali-kali mendapat treatment seperti itu. Hahahaha," ujar Pak Ardhiwijaya yang diiringi tawa Nyonya Anggi.
Akhirnya waktu mereka untuk check in sudah tiba. Maya memeluk kedua orang tuanya.
"Maya pamit, Ma, Pak," ujar Maya.
"Hati-hati, Nduk. Pulang dengan selamat, ya," pesan Bapak. "Nak Herryl, Bapak titip Maya," lanjut Pak Sugeng saat Herryl menyalami lelaki paruh baya itu.
"Iya, Pak," jawab Herryl.
Setelah perpisahan yang mengharukan bagi Maya itu terjadi, ia siap mengikuti keluarga Ardhiwijaya.
"Aku aja yang bawa tas kamu," ujar Herryl.
"Nggak usah," elak Maya sambil berusaha meraih tali tasnya yang sudah dipegang Herryl.
"Ini berat, May. Lagi pula aku cuma bawa sampai counter, kok," jawab Herryl lagi. Lelaki itu memakai ransel Maya kemudian menggandeng tangan gadisnya.
"Ayo."
Maya menatap genggaman tangan Herryl, membalas genggaman tangan itu sambil tersenyum.
Terima kasih, Ryl. Kamu mewujudkan impian May.
__ADS_1
...-bersambung-...
Aaaaa Maya liburan ke Inggris, kan saya juga mau ikut ke Museum Holmes T_T