![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Ryl, kamu hari ini take off?" tanya Hardi melalui sambungan telepon. Ia baru saja selesai makan siang di apartemennya.
"Iya," jawab Herryl yang baru selesai memasukkan buku ke dalam tas ranselnya. "Makan apa?" tanyanya begitu melihat piring makan di layar video call Hardi.
"Ramen instan, hehehe. Mumpung libur, makan di apartemen," jawab Hardi.
"Mumpung libur, tuh, masak. Bukan malah makanan instan," pesan Herryl.
"Kamu udah mirip Maya aja, cerewet," komentar Hardi sambil tertawa. Herryl tersenyum kecut mendengarnya. Maya ...
"Di, aku ...."
"Berantem lagi? Riana cerita semuanya. Aku nggak bisa kasih masukan apapun selain minta kamu sabar dan fokus sama kuliah kamu," nasehat Hardi lagi.
"Kamu jangan ambil Maya, tapi," sahut Herryl.
"Hahaha."
...***...
Seharian ini Maya mengerjakan tugas kuliah yang deadlinenya Senin. Hari sudah sore saat Maya selesai mengerjakan tugasnya dan membersihkan diri. Bapak pulang sore hari ini lalu makan di dapur bersama Maya.
"Ma, Bapak habis maghrib mau jemput Pak Wimono di bandara. Pesawatnya jam 9 malam ini," ucap Bapak. Mendengar kata "bandara" dan "pesawat", Maya seperti tersetrum. Ia teringat bahwa ada yang akan berangkat malam ini, tapi ia tidak berhak mengantarnya. "Mau ikut, Nduk?"
Maya tidak menjawab, hanya diam. Makanannya juga tidak ia sentuh lagi. Herryl ...
"Nduk, Bapak tahu kamu ada masalah sama Herryl. Tapi, Nduk, kita ini nggak bisa terus marah. Kalau Herryl ada kesalahan, coba kamu ingat kebaikan-kebaikannya. Belajar memaafkan itu bagus, Nduk. Kita bisa jadi orang besar nantinya," nasehat Bapak dengan jeda di beberapa bagian. Beliau ingin anaknya tidak memiliki musuh.
"Iya, Nduk. Mama juga nggak tahu masalah kalian, tapi kamu ingat pesan Mama, kan, untuk nggak menyakiti perasaan orang lain?" Mama ikut melanjutkan.
Maya mendongak mendengar itu, menatap mamanya. Matanya sudah berkaca-kaca. Aku harus bagaimana?
Bapak kemudian berdiri dan menuju kamar mandi. Beliau ingin bersiap-siap karena sebentar lagi maghrib. Maya menatap punggung Bapak kemudian melanjutkan makannya perlahan. Selesai makan, Maya memilih untuk diam di kamar sampai tiba waktunya bapak harus berangkat.
"Ma, Bapak berangkat dulu, ya," pamit Bapak sambil memakai sepatu.
__ADS_1
"Pak, Maya boleh ikut?" tanya Maya yang berdiri di balik punggung lelaki itu. Seketika senyum terbit di wajah Bapak. Anggukan adalah jawaban yang Maya dapat sehingga gadis itu segera memakai sepatu sandalnya. Mereka berdua berpamitan pada Mama, berharap bisa mengejar waktu di tengah kemacetan lalu lintas weekend ini.
Sementara itu, Herryl diantar Pak Asep. Ia benar-benar sendirian, tidak ada yang mengantar. Bahkan nasib Riana masih lebih baik dariku, batin Herryl.
"Pak Asep pulang saja, istirahat. Ini sudah malam, kan?" pesan Herryl. Ia tidak ingin sopir keluarganya sakit. Pak Asep mengangguk kemudian pamit. Herryl duduk di salah satu kursi pintu masuk terminal 3. Sudah hampir pukul 8, ia mengingat bahwa ia harus ke imigrasi terlebih dahulu. Tentu akan memakan waktu ketika melewati pemeriksaan imigrasi. Lelaki itu kemudian meminum air putih dalam botol yang ia bawa sebelum akhirnya berjalan menuju check in counter.
Sementara itu, Maya meminta Bapak menemaninya ke terminal keberangkatan. Ia turun dari mobil dan setengah berlari menuju pintu masuk terminal 3. Di dalam hall, Maya mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang akan berangkat ke Kidlington, Oxford. Di mana? Maya membatin. Dilihatnya jam tangan yang ia pakai, sudah lebih dari pukul 8. Jika dugaannya benar, maka Herryl pasti sudah melakukan check in. Maya merosot, ia berjongkok sambil menumpukan kepala di atas kedua tangannya. Terlambat.
"Nduk," panggil Bapak yang tertinggal jauh dari Maya. Maya sudah tidak menahan tangisnya lagi. Sampai akhirnya dia merasakan ada tepukan di kepalanya.
"Kenapa?" tanya orang yang menepuk kepalanya. Maya terkesiap, ia mendongak untuk memastikan dugaannya.
Herryl!
"Kamu belum ...," ucapan Maya terputus karena ia harus mengusap air matanya. Didapatinya Herryl tersenyum lembut seperti biasa jika ingin menenangkannya.
"Besok ganti kacamata, deh. Aku berdiri di depan sana masa kamu nggak lihat," perintah Herryl. Dilihatnya Maya cemberut mendengar ledekannya. "Aku berangkat, ya," lanjutnya sambil membantu Maya berdiri.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Herryl lagi. Kini ia tidak berani berharap bahwa Maya datang untuknya.
"Tapi ini terminal keberangkatan, May," ucap Herryl menggodanya. Ia sedikit membungkuk sehingga bisa menatap wajah Maya lebih jelas.
"I-iya. May juga mau ... antar Herryl," jawab Maya akhirnya.
"Tapi kenapa pakai baju rumahan begini? Nggak niat banget nganter aku. Waktu nganter yang lain kamu cantik banget, lho," protes Herryl kemudian. Maya membelalakkan matanya. Sempat-sempatnya.
"Nggak apa-apa, May. Kamu pasti segitu inginnya ketemu aku sampai nggak ingat untuk ganti baju, kan? Makasih, ya," lanjut Herryl lagi. Ia tumpahkan semua kalimat yang ingin ia ucapkan selama dua hari ini. "Soal kemarinnya, aku minta maaf," ucap Herryl lagi sambil menepuk kepala Maya. Maya terdiam sebentar.
"May ... May baru tahu kalau kita janjian untuk nikah. Maaf, Ryl." Maya berusaha menata kalimatnya yang kemudian berlanjut, "May mau coba nunggu Herryl. May mau coba jujur sama diri May sendiri walau May nggak tahu apa kelak kita bisa menikah."
Herryl mendapati wajah gadis itu memerah. Pasti butuh usaha yang besar untuk mengucapkannya, ya, May? Herryl benar-benar menikmati waktunya bersama Maya saat ini. Hatinya menghangat setelah mengetahui bahwa Maya sudah menyadari janji yang pernah mereka buat semasa kecil.
"Iya, May, nggak apa-apa. Kamu fokus sama kuliahmu, ya. Nanti aku jemput kalau aku sudah pantas jadi suami kamu," sahut Herryl.
Bapak melihat mereka berdua dari kejauhan, membiarkan kedua anak muda itu menyampaikan salam perpisahan.
__ADS_1
"Aku mau berangkat, kamu nggak mau peluk aku, nih?" goda Herryl sambil membentangkan tangan.
"J-jangan harap," elak Maya ketus yang menyebabkan Herryl tertawa kecil.
"Nggemesin banget, sih," ucap Herryl seraya mencubit lembut hidung Maya. Seketika dilihatnya Maya menatapnya tajam. "Duh, kelepasan ...."
"Wadouw!!" teriak Herryl kesakitan karena kakinya diinjak oleh heels sepatu sandal Maya.
"Masih belum kapok?" tukas Maya dingin.
"Maaf, May, maaf," ucap Herryl lagi. Bapak menghampiri mereka berdua.
"Check in, Ryl. Jangan nyalain hp di pesawat. Di sana tidur yang benar, makan yang benar. Belajar yang benar," pesan Maya yang ditanggapi senyum oleh Herryl. Cerewetnya demi aku.
"Iya, May. Pak, saya pamit dulu," ucap Herryl sambil mencium tangan Bapak takzim.
"Hati-hati, Nak," pesan Bapak.
Herryl sedikit membungkuk dan berbisik lembut, "I love you, mimpiin aku, ya." Setelah menepuk puncak kepala Maya, ia berbalik menuju check in counter sambil melambaikan tangannya.
Bagaimana dengan Maya? Wajah gadis itu sudah melebihi merahnya kepiting rebus!
...masa depan yang kelabu...
...masa lalu yang pudar...
...mampu terlukis ulang...
...selama aku memiliki senyuman itu...
...(beautiful world -V6)...
...-bersambung-...
Akhirnya baikan juga, yaaa. Good bye, Ryl. Semoga selamat sampai tujuan.
__ADS_1