[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Kapsul Waktu


__ADS_3

"Bunganya masih banyak, ya," ujar Herryl. Lelaki itu kini menunggu istrinya untuk duduk terlebih dahulu di kursi taman sebelum kemudian ia menyusul dan merebahkan kepala di pangkuan Maya. Sang istri hanya menghela nafas karena sikap suaminya yang masih belum berubah. Manja.


"Kalau sedikit namanya dekorasi," sahut perempuan manis itu. "Ada apa?" tanyanya lagi karena hari ini sang suami mengajaknya ke taman.


"Aku diundang reuni besok, malam tahun baru. Kamu mau ikut?" cerita Herryl sambil menawarkan sebuah undangan. Senyum lelaki itu tidak menggoyahkan prinsip Maya untuk beristirahat di hari libur. Sang istri menggeleng pelan. "Sudah kuduga. Tapi, kalau reuninya di Oxford, gimana?" Lelaki itu masih bersikukuh mengajak sang istri.


Degup jantung sang perempuan kesayangannya itu menjadi tidak beraturan kala mendengar nama kampus impian. Tapi, kalau ke sana bukan untuk kuliah ...


"Nggak. Ke sana kalau kuliah saja," tolak Maya akhirnya.


"Oh, Hardi bilang, kamu juga ada reuni angkatan?" tanya Herryl. "Cek email, deh."


Melihat undangan reuni itu, Maya tersenyum. Ingatannya melayang pada masa SMA.

__ADS_1


...***...


"Di," panggil gadis berkacamata yang sedang menghampiri sang Ketua Klub Karate, Hardi. Pemuda itu sedang bersandar di tepi koridor. Seperti menunggu seseorang. "I-ini," ujar Maya sambil menyodorkan amplop putih yang sudah ia gambari berbagai pernik perayaan tahun baru. Jantungnya berdegup sangat kencang dan mewujud pada gemetar tangan. Gadis yang biasanya hanya berani menatap dari kejauhan itu kini mencoba untuk berani memberi sesuatu. Kartu ucapan tahun baru. Berbanding terbalik dengan sang gadis, Hardi tersenyum saat menerima pemberian teman masa kecilnya itu.


"Arigatou," ucap putra tunggal Keluarga Shiratori itu. "Yo! Aku duluan." Pemuda itu pamit karena teman yang ditunggunya sudah menghampiri untuk segera pulang. Meninggalkan gadis yang sedang menetralisir rona merah di pipinya.


"Ngasih kartu aja sampai malu gitu," komentar seseorang yang tiba-tiba saja hadir di samping Maya. Sontak gadis itu menoleh. Jadi, ada yang lihat? Kini wajahnya kembali merah padam. Padahal tadinya ia berharap tidak ada siapapun yang melihat aksinya. Apalagi orang itu adalah si Ketua OSIS super usil. Herryl.


"Berisik." Ketus Maya menyahuti komentar pemuda itu yang ditanggapi seringai.


"Apa, sih."


"Cuma ganti kalender, nggak perlu sibuk bikin kartu," sahut Herryl akhirnya setelah tawanya tidak terdengar lagi. "Pakai waktumu untuk hal yang memang perlu." Pesan pemuda itu sambil menepuk pelan kepala sang gadis, menghentikan keinginan bulir air mata Maya untuk jatuh. Belum sempat juara umum itu menoleh, sang Ketua OSIS sudah melangkah pergi.

__ADS_1


...***...


"Mikirin apa?" tanya sang suami yang sudah mencubit hidung Maya. "Gimana? Mau?"


Lagi, Maya menggeleng.


"Kamu bisa membuktikan kalau kamu tetap sederhana walau sekarang berhasil jadi istriku," ujar Herryl yang membuat sang istri mengerutkan alisnya.


"Mas itu mau motivasi apa pamer?" gerutu Maya sambil mendorong bahu sang suami dari pangkuannya sehingga lelaki yang tidak siap itu terjatuh dari kursi taman.


"Wadouw!" teriak Herryl kesakitan. Segera ia bangkit dan duduk di samping sang istri. "Kamu kenapa, sih? Barbar banget sama suami sendiri."


"Ya, Mas tadi bilang May berhasil jadi istri Mas? Hellow, siapa yang ngejar-ngejar, yaaa," sindir Maya. Saat itu sang suami tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Terus, siapa, yaaa, yang nangisin aku?" goda Herryl membuat raut wajah sang istri merona. Ah, tidak, merah padam tepatnya.


__ADS_2