![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Hari ini diadakan wisuda kelas 3 SMA Angkasa. Maya dan teman-temannya menggunakan seragam resmi mereka. Syukurlah idenya diterima.
Setelah pidato pelepasan dari kepala sekolah, setiap siswa dipanggil satu per satu oleh wali kelasnya ke atas panggung untuk menerima ijazah. Selesai dan Arkan menyampaikan pidatonya sebagai perwakilan siswa.
Acara berlanjut dengan penampilan seni dari para pengisi acara. Dan Herryl berdiri di sana, di atas panggung memegang sebuah gitar.
"Selamat untuk Kakak-kakak semua. Semoga semakin sukses setelah lulus dari SMA. Kali ini saya ingin mempersembahkan sebuah lagu. Semoga suara saya tidak membuat Kakak semua sakit, ya," ucap Herryl membuka penampilannya yang disambut tawa para hadirin. Maya duduk bersama Riana menyaksikan Herryl. Selama ini ia tidak tahu bahwa Herryl bisa menyanyi dan bermain gitar.
...It's the way she fills my senses...
...It's the perfume that she wears...
...I feel I'm losing my defences...
...To the colour of her hair...
Mata Herryl tidak lepas menatap arah kursi yang diduduki Maya. Mengikat Maya dengan tatapan lembutnya.
...And every little...
...Piece of her is right...
...Just thinking about her...
...Takes me through the night...
Menyadari Herryl tidak beralih menatap ke arahnya, Maya kikuk sendiri. Ia menunduk, entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat. Tiba-tiba tangan kanannya digenggam oleh seseorang. Ternyata Riana yang melakukannya. Maya melihat sahabatnya mengangguk seolah berkata untuk Maya agar mendengarnya.
...Every time we meet the picture is complete...
...Every time we touch, the feeling is too much...
...She's all I ever need to fall in love again...
...I knew it from the very start...
...Oh, she's the puzzle of my heart...
Saat itu Hardi mendekat ke kursi Maya, duduk di sampingnya yang memang kosong.
...It's the way she's always smiling...
...That makes me think she never cries...
...I feel like I'm losing my defences...
__ADS_1
...To the colour of her eyes...
...Like a miracle she's meant to be...
...She became the light inside of me...
...And I can feel her like a memory...
...From long ago...
"Dia yang kamu mau nikahi kalau sudah dewasa, May, katamu saat playgroup," ucap Hardi. Maya menoleh, menatap Hardi yang sedang melihat ke arah Herryl.
"Apa?" tanya Maya. Dilihatnya Hardi mengangguk dan tersenyum kepadanya. Hardi ngomong apa?
Bertepatan dengan ucapan Hardi memang para siswa bersorak dan bertepuk tangan. Wajar Maya tidak begitu jelas mendengar ucapan Hardi.
Setelah berkata begitu, Hardi kembali ke kursinya. Ia tahu bahwa ada yang akan menempati kursi di samping Maya dan itu bukan dirinya. Kursi itu kosong sejak awal.
Sementara itu, Herryl baru selesai dan berterima kasih kemudian turun dari panggung dan berjalan ke arah Maya, duduk di kursi yang berada di samping gadis itu.
"Gimana?" Herryl menanyakan pendapat Maya akan penampilannya.
"Bagus," jawab Maya lirih. Ia masih berusaha menguasai degup jantungnya yang bersicepat dengan waktu ketika ditatap Herryl saat menyanyi tadi.
Maya melihat senyum penyemangat yang ditunjukkan oleh Herryl. Tapi, ia juga menyadari ada raut wajah kesedihan di sana. Sedih? Maya bertanya dalam hatinya kemudian menunduk kembali.
"Aku ke toilet dulu, May," ucap Riana. Maka sekarang Maya benar-benar berdua dengan Herryl.
"Besok Hardi mau berangkat. Kita antar, yuk," ajak Herryl. Maya terdiam. Kemudian ia menoleh, mencari keyakinan di mata teduh Herryl. Didapatinya sebuah anggukan dari si pemilik manik mata yang ditatapnya.
Maya terdiam. Apa nggak apa-apa?
"Jangan biarin kursi ini terisi cowok lain, aku pergi sebentar," ucap Herryl posesif kemudian meninggalkan Maya sendiri. Ia kembali mengecek pekerjaan teman-temannya.
Belasan menit kemudian Riana kembali.
"Ri, besok Hardi berangkat ke Jepang," ujar Maya menginformasikan. Riana segera mengusap bahu Maya. Gadis itu mencoba menenangkan sahabatnya. "Herryl ngajak untuk antar Hardi ke bandara," lanjut Maya yang membuat Riana terdiam, berhenti mengusap bahu Maya.
"Dia ... ngajakin kamu nganterin Hardi, rivalnya?" tanya Riana seolah tidak percaya. Dilihatnya Maya mengangguk. Pasangan anti mainstream. Apa yang lelaki itu pikirkan? batin Riana. Bersikap seolah nggak punya perasaan apapun pada Maya, selalu mendukung Maya bahkan kalau berkaitan dengan rivalnya. Padahal jelas banget dia punya perasaan untuk Maya.
"Iya, besok aku ikut," ucap Riana akhirnya.
...***...
Acara perpisahan sudah selesai, Maya dan teman-temannya berfoto di kelas dan halaman sekolah.
__ADS_1
"Kak, foto, yuk," ajak Herryl yang kebetulan lewat koridor kelas Maya. Maya menatap teman-temannya kemudian didapatinya anggukan persetujuan, termasuk Riana. Herryl kemudian berdiri di samping Maya, sangat dekat, membuat Maya kikuk dan agak bergeser.
KLIK!
"Kak, senyum," pinta Herryl manja. Sikap maskulin yang ditunjukkannya tadi sudah terganti. Maya yang tidak terbiasa tersenyum jadi terlihat kaku.
Riana menyadari keadaan Maya, kemudian segera diambilnya ponsel Herryl sambil mengajak Maya tersenyum. Maya yang melihat Riana tersenyum jadi ikut tersenyum. Herryl melihat senyum tulus Maya untuk sahabatnya menjadi lega.
KLIK!
"Satu lagi, Kak," pinta Herryl pada Riana. Herryl kemudian menepuk kepala Maya dan sedikit mengacaknya sehingga Maya menoleh dan cemberut padanya.
KLIK!
"Oke, sudah," ucap Riana yang gemas melihat pasangan di depannya.
"Makasih, Kak. Duluan, May. Selamat, ya," sahut Herryl akhirnya. Lelaki itu pergi meninggalkan May dan teman-temannya.
"Uwuuuu, sweet banget, sih," komentar salah seorang teman Maya atas sikap Herryl tadi. Maya hanya diam sambil merapikan rambutnya yang sempat diacak Herryl.
...***...
Hari ini Herryl meminta bantuan Pak Asep untuk menjemput Maya dan Riana kemudian mengantar mereka ke bandara. Jadwal keberangkatan Hardi adalah pukul 11.15. Mereka menempuh jarak 27 km sekitar 30 menit sehingga pukul 10 pagi sudah sampai di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Herryl mengeluarkan ponselnya, menelepon Hardi yang tadi mengirim pesan bahwa ia sudah sampai. Tidak berapa lama kemudian, Herryl memutus sambungan telepon. Ketiganya menunggu di hall berdinding kaca sampai mereka melihat sosok lelaki tinggi membawa koper dan ransel.
"Makasih, ya, kalian sudah datang," ujar Hardi. Ia menatap Maya agak lama setelah tersenyum pada Herryl dan Riana.
"Om Shiratori sama Tante Intan mana?" tanya Herryl sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
"Sudah pulang, masih ada urusan katanya," jawab Hardi. Herryl mengangguk.
"Tetap kontak, ya, Di," pesan Riana. Maya masih menunduk. Hardi mendekati Maya.
"May, aku berangkat dulu, ya. Kamu jaga diri sendiri mulai sekarang," pesan Hardi sambil menepuk pelan kepala Maya. Maya mendongak, dilihatnya Hardi tersenyum.
"Sering-sering kabarin aku," kata Herryl sambil memeluk bahu Hardi dan menepuknya. Hardi lagi-lagi tersenyum, mengangguk mengiyakan.
Ketiga siswa SMA Angkasa itu menatap punggung Hardi yang semakin menjauh, menuju check in counter.
Tatapan mata Maya seperti kosong saat Hardi menjauh dan ia diam saja selama di mobil. Herryl mengantar kedua temannya ke rumah mereka.
...-bersambung-...
hai halo hai, kali ini Herryl nyanyi lagunya Westlife judulnya "Puzzle of My Heart"
__ADS_1