[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Mimpi yang Terlihat: Masa Depan Dirimu


__ADS_3

...-kamu: orang yang terlihat di sampingku-...


...***...


"Pak, menurut Bapak, masalah yang perlu diatasi di kampung sini apa, Pak?" tanya Maya setelah menghabiskan sepotong martabak telur.


"Banjir sama sampah, Nduk. Kita sudah bersih, tetangga masih saja suka buang ke got," jawab Bapak. Maya terdiam agak lama. Sampah. Pengelolaan sampah.


"Kenapa, Nduk?" tanya Mama.


"Nggak apa-apa, Ma. May mau buat proyek untuk tugas akhir," jawab Maya. "Makasih, Pak, Ma. May ke kamar dulu," lanjutnya lagi kemudian ia masuk ke dalam kamarnya.


"Nggak nyangka sudah mau lulus, ya, Pak," gumam mama.


"Iya, Ma. Setelah itu kerja, nikah," sahut bapak.


"Wes, tho, Pak. Kok bahas nikah."


"Lha, iya, Ma. Anak kita nantinya jadi istri orang, tho. Apalagi sudah ada Herryl."

__ADS_1


"Belum tentu, tho, Pak, mereka nikah. Mama khawatir keluarga Nak Herryl nggak setuju karena Maya dari keluarga kita yang begini." Mama mulai merasa khawatir dengan perbedaan status sosial Maya dan Herryl.


"Sudah, Ma. Semua serahkan sama Allah, doakan yang terbaik. Sekarang kita dukung belajarnya dulu, ya," ujar Bapak menenangkan.


...***...


"Telepon sama siapa tadi? Aku telepon kok sibuk?" tanya Herryl setelah Maya selesai merancang proyeknya.


"Hardi." Singkat Maya menjawab. Herryl menunjukkan raut wajah yang berbeda daripada awal telepon. "Bahas bangunan tahan gempa sama penanganan banjir," lanjut gadis itu. Tidak lama kemudian Herryl tersenyum.


"Selalu fokus pelajaran. Gimana bisa aku nggak percaya sama kamu, May." Herryl menggumam.


"Apa?" tanya Maya karena tidak jelas mendengar gumaman Herryl.


"Iklim Jepang sama Indonesia beda, itu jadi faktor juga untuk ketahanan bahan bangunan. Tapi May tadi dapat ide untuk proyek tugas akhir. May mau ngajak teman dari Teknik Lingkungan sama Ekonomi, Ryl. May mau buat pengelolaan sampah terpadu," jawab Maya menjelaskan idenya.


Dasar, kamu selalu punya langkah hebat yang semakin membuat kualitasmu meningkat.


"Bagaimana?"

__ADS_1


"Jadi, nanti di tempat pengelolaan sampah terpadu ada mesin pembuat pupuk dari sampah organik, ada mesin pembuat sampah anorganik jadi bahan bakar. Nanti ada juga tempat pengumpulan sampah yang bisa didaur ulang jadi berbagai macam kerajinan. Nanti warga diajak memilah sampah, dikumpulkan, deh, di tempat pengelolaan sampah. Rewardnya apa, ya?" Maya bercerita sangat antusias dengan idenya. Herryl tersenyum mendengar ide gadis itu.


"Buat tabungan sampah. Sudah ada bank sampah, kan, di Indonesia? Coba koordinasi dengan pihak kelurahan kemudian buat bank sampah di sana. Nanti warga yang mengumpulkan sampah, ditimbang sampahnya kemudian bayarannya dalam bentuk tabungan. Dan, kalau kamu bisa mengusahakan, coba tabungannya dalam bentuk emas. Aku yakin banyak yang tertarik," sahut Herryl dengan usulan tambahan.


"Wah, oke juga, Ryl. Berarti, May nanti cari teman dari Teknik Mesin, Teknik Lingkungan, sama Ekonomi. Waaah, terima kasih, Ryl." Maya sumringah ketika mendengarkan ide Herryl.


"Kamu punya teman-teman di jurusan itu?" tanya Herryl yang membuat Maya memamerkan giginya.


"Nggak, hehehehe. Ada juga Teknik Lingkungan, Tiara adik kelas di SMA," jawab Maya.


Pengen jitak kamu, deh, May.


"Oh, ya, sudah, coba minta bantuan Tiara cari teman dari jurusan yang kamu butuhkan," ucap Herryl.


"Siap. May hubungi Tiara dulu, ya, Ryl," sahut Maya bersemangat kemudian memutus sambungan teleponnya.


"May, aku, kan, belum bilang sayang," keluh Herryl pada layar ponselnya yang sudah tidak tersambung pada Maya. Herryl kemudian tersenyum. Besar juga mimpi sederhanamu, May. Memikirkan manfaat bagi orang lain.


...-bersambung-...

__ADS_1


hai halo hai. akhirnya Maya nemu proyek, deh.


terima kasih, ya, sudah menyimak kisah Maya dan Herryl. Baper, nggak, selama baca? di part apa bapernya? Serunya di bagian apa, nih? Ceritain di kolom komentar, yaaa


__ADS_2