[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Feelings in My Heart


__ADS_3

"May, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Riana melalui percakapan telepon yang dilakukannya malam ini. Ia baru saja selesai mengecek bawaannya.


"Iya, Ri. May nggak apa-apa. Kamu sendiri?" jawab Maya yang diakhiri tanya akan keadaan sahabatnya. Bagaimanapun yang tadi merasa sangat ketakutan pastilah Riana, bukan dirinya.


"Aku baik, kok. Besok kalian jadi nganter, kan? Aku mau berangkat pagi karena biasanya imigrasi antre kalau weekend," jawab Riana sambil memastikan janji mereka esok hari. Maya mengangguk, terlupa bahwa Riana tidak akan menyadari anggukannya. Mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.


...***...


"May, kamu baik-baik di sini. Kalau bisa, di kampus kamu harus punya cowok baru," pesan Riana saat mereka sudah di terminal 3.


"Hehem." Herryl berdehem menanggapi kalimat terakhir Riana.


"Eh, maksudku teman baru," lanjut Riana meralat ucapannya tadi. Posesif banget, sih. Riana kemudian berbisik pada Maya, "Jangan terlambat menyadari perasaanmu ke Herryl."


Maya terkejut mendengarnya, kemudian menoleh ke arah Herryl sebentar sebelum akhirnya menatap Riana lagi.


Wajahnya memerah. Dasar gadis, batin Riana ketika melihat wajah Maya.


"Sudah waktunya, tuh," kata Herryl menginformasikan. Riana mengangguk kemudian memeluk Maya yang dibalas oleh gadis itu.


"Sering kirim kabar, Ri," ucap Maya sedih. Air mata mulai mengalir di pipinya.


"Iya, May. Aku bakal sering ke Jakarta kalau libur," jawab Riana, juga sambil menangis.


"Jaga diri di Paris, ya."


"Iya, kamu juga."


"Aku boleh ikut peluk?" tanya Herryl mendekat. Maya dan Riana seketika menoleh ke arahnya.


"Nggak." Keduanya menolak secara bersamaan, khususnya Maya yang mengiringi penolakannya dengan tatapan tajam.


"Kapan, dong, aku peluk Maya?" tanya Herryl lagi merajuk.


"Jangan harap," jawab Maya ketus. Anak ini nggak melihat situasi. May dan Riana lagi sedih, dia malah mengacau.

__ADS_1


"Udah, udah, jangan berantem. Aku check in dulu, ya," ucap Riana mencoba menengahi kedua temannya itu. Maya mengangguk. Mereka saling melambaikan tangan sampai Riana tidak terlihat lagi.


"Pulang?" Herryl menawarkan pada Maya. Maya masih menangis karena ia merasa sendirian tanpa Riana. Herryl tidak lagi menawarkan pakaiannya karena ia tidak membawa pakaian ganti kalau Maya berbuat aneh lagi pada pakaiannya. Akhirnya Herryl mengusap air mata di pipi Maya menggunakan ibu jarinya. Setelah itu digandengnya tangan gadis yang masih menangis tanpa suara itu. Mereka menuju lobby terminal untuk bertemu Pak Asep yang siap dengan mobil keluarga Ardhiwijaya.


Herryl membukakan pintu untuk Maya karena gadis itu benar-benar terlihat kacau ketika sedang bersedih. Setelah Maya masuk, ia mengikuti dan duduk di samping gadis itu kemudian menutup pintu mobil. Pak Asep memastikan kedua penumpangnya sudah duduk dengan nyaman baru beliau duduk di kursi kemudi.


"Kita antar Maya pulang, ya, Pak," pinta Herryl sambil menepuk puncak kepala Maya. Ia sudah terbiasa meminta tolong pada semua orang yang bekerja di rumah Ardhiwijaya sebagai bentuk kerendahan hatinya. Pak Asep mengiyakan kemudian mobil melaju, meninggalkan bandara.


Sepanjang perjalanan Maya hanya menatap jendela sambil menangis. Melepas kepergian Adrian dan Hardi tidak seberat melepas kepergian Riana, sahabatnya. Kenangan manis bersama Riana berkelebat sampai akhirnya Maya merasa lelah, mengantuk, lalu memejamkan matanya. Tidur.


Herryl yang sejak tadi juga melihat jendela sempat terkejut ketika ada sentuhan di bahunya. Saat menoleh, dilihatnya Maya tertidur dalam keadaan bersandar di salah satu bahunya.


Terlalu dekat, batin Herryl. Wajah lelaki itu memerah karena malu menyadari wajah Maya terlalu dekat dengannya. Degupan jantungnya semakin tidak beraturan. Herryl gugup kali ini hingga akhirnya ia memilih untuk diam, membiarkan Maya tertidur sepanjang sisa perjalanan.


Saat mobil sudah dekat gang rumahnya, Maya masih belum juga bangun.


"Pak, mungkin kita bisa parkir di lapangan sana sambil menunggu Maya bangun," pinta Herryl lirih, khawatir membangunkan gadisnya. Pak Asep mengiyakan kemudian memarkir mobil Mercedes Benz hitam yang dikendarainya di lapangan samping gang rumah Maya.


"Bapak keluar dulu, Mas," pamit Pak Asep meminta izin. Herryl yang memahami bahwa Pak Asep tidak suka berlama-lama di mobil be-AC segera mengiyakan. Setelah Pak Asep keluar, Herryl ikut memejamkan matanya. Berusaha untuk tidak tidur karena ia harus menjaga kenyamanan Maya. Mereka terus berada di posisi itu sampai belasan menit.


"Aduh!" keluh Herryl kesakitan. "Bisa, nggak, kalau nggak pakai teriak bangunnya?" tanya Herryl sambil memegangi kepalanya yang sakit.


Sementara itu, Maya sedang berusaha mengembalikan kesadarannya setelah bangun tidur.


"Ma-maaf," ucap Maya tergagap kemudian membuka pintu mobil di sampingnya lalu keluar. Sementara Herryl masih mengelus kepalanya yang terbentur tadi.


CEKLEK!


"Tas May," ucap Maya setelah membuka lagi pintu yang tadi ia tutup. Gadis itu mengecek jok penumpang lalu mengambil ranselnya. "Makasih," lanjutnya kemudian benar-benar pergi. Herryl melihat dari jendela mobil kepergian Maya.


"Dasar," ucapnya sambil tersenyum. Ia ikut keluar, menghampiri Pak Asep yang berdiri dengan bersandar di mobil.


"Pak, saya ke rumah Maya dulu, ya. Nanti saya pulang jalan kaki saja, dekat, kok," pinta Herryl lagi. Pak Asep mengiyakan permintaan Tuan Muda Ardhiwijaya untuk pulang ke rumah Ardhiwijaya sendiri. "Terima kasih, ya, Pak," lanjut pemuda itu.


Herryl menuju rumah Maya sambil bertegur sapa dengan orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan.

__ADS_1


"Bu," sapa Herryl ketika sudah di pintu rumah Maya. Dilihatnya Bu Rini sedang mengelap meja yang ada di ruang tamu.


"Nak Herryl. Masuk," ucap Bu Rini mempersilakan tamunya.


"Maya masih sedih, ya, Bu?" tanya Herryl lagi. Ia sudah duduk dan Bu Rini sudah membuatkan teh untuknya.


"Namanya ditinggal sahabat, apalagi di usia Maya. Bagaimana tadi?" jawab Bu Rini sambil menanyakan Maya hari ini saat perpisahan dengan Riana.


"Iya, Bu. Mereka nangis di bandara. Saya biarkan, siapa tahu selesai menangis akan semakin lega. Tapi Maya menangis terus selama di mobil," jawab Herryl menjelaskan.


"Terima kasih, ya, sudah menjaga Maya. Ibu ke dapur dulu, mau buat kroket," ucap Bu Rini akhirnya. Herryl mengangguk.


Penasaran, ia ke kamar Maya yang pintunya tertutup. Diketuknya pintu itu. Tidak seperti sebelumnya, Herryl tidak perlu menunggu lama sampai pintu kamar terbuka. Dilihatnya Maya menunduk.


"Apa?" tanya Maya.


"Mau ngecek apa kamu baik-baik saja. Apalagi tadi di mobil kam-hmmph," jawaban Herryl terpotong karena Maya menutup mulut dan hidung lelaki itu menggunakan telapak tangannya.


"Jangan sampai mama dengar, nanti salah paham," ancam Maya. Herryl memegang tangan Maya agar bisa membuka mulutnya.


"Tapi jangan bikin susah napas juga, May," sahut Herryl. Maya mencebik mendengar keluhannya.


"Eh, baju kamu," ujar Maya seperti ingat sesuatu. Ia masuk ke dalam kamar setelah Herryl melepas pegangannya. Maya kembali dengan lipatan baju seragam di tangannya, membawa pada Herryl yang menunggu di pintu kamar. "Terima kasih," ucap Maya.


"Kamu semakin terbiasa mencuci bajuku, ya? Nanti kalau sudah nikah jadi nggak kaget lagi, kan?" goda Herryl yang mengakibatkan dirinya mendapat cubitan keras di lengan.


"Wadouw!" pekik Herryl kesakitan.


"Kenapa, Ryl?" tanya Bu Rini dari dapur.


"Nggak apa-apa, Bu. Cuma dicubit kucing imut," jawab Herryl cepat, mencegah Bu Rini datang dan melihat mereka.


Sementara Maya masih menatap tajam lelaki di hadapannya.


...-bersambung-...

__ADS_1


Adieu, Riana. Semoga berhasil di Paris. Jangan lupa berkirim kabar, yaaa


__ADS_2