[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Banyak Jalan Menuju Roma


__ADS_3

Pagi ini Maya bersama timnya bertemu dengan perwakilan dari kelurahan dan perangkat RW (Rukun Warga) untuk sosialisasi pembuatan pengelolaan sampah terpadu. Maya memperkirakan 2 bulan lagi akan selesai bangunan yang ia rencanakan.


"Pak Asep tolong parkir dulu, ya," ujar Herryl. Ia seolah tidak mau lepas dari Maya sehingga kemanapun Maya pergi ia akan mengikuti.


...***...


"Janji jangan ganggu May," ujar Maya mengajukan syarat ketika Herryl bilang ingin ikut semua agenda Maya.


"Iya, janji. Aku melipir kalau kamu lagi rapat, kok," ucap Herryl. Maya mengangguk.


...***...


Di sinilah ia, duduk di antara para RW melihat jalannya pertemuan. Maya dan pihak kelurahan duduk di depan. Mata Herryl menyipit saat melihat lelaki di samping Maya. Hadi, ya?


"Mas perwakilan RW berapa?" tanya seorang peserta di sampingnya.


"Oh, nggak, Pak. Saya menemani pacar saya yang lagi bicara itu," jawab Herryl menjelaskan posisinya. Tapi tidak harus menyebut pacar, kan, Ryl?


"Oh, Mbak Maya namanya. Mas nggak kuliah?"


"Oh, saya baru lulus, Pak," Herryl mencoba menjawab sopan.


"Kuliah di mana, Mas? Satu kampus?"


"Nggak, Pak. Saya di Inggris."


"Cuma orang kaya yang kuliah di sana, ya, Mas? Mahal, kan, kuliah di luar negeri."


Mendengar itu, Herryl tersenyum. Ada pola pikir yang harus diubah dari orang-orang.


"Nggak, Pak. Ada beasiswa juga, kok. Saya saja dapat beasiswa," jawab Herryl.


"Jadi Masnya ini orang miskin?"

__ADS_1


Herryl terkejut dengan kesimpulan lelaki di sampingnya ini. Akhirnya ia memilih untuk tersenyum sebelum kemudian menanggapi kesimpulan lelaki tersebut.


"Nggak peduli saya miskin atau nggak, Pak. Yang pasti, siapapun bisa kuliah di luar negeri dengan beasiswa kalau lulus tes. Informasi tentang beasiswa sekarang tersebar di internet, kok, Pak," jawab Herryl lagi.


"Oh, iya, Mas. Nanti saya coba tanya anak saya. Terima kasih, ya, Mas."


"Sama-sama, Pak."


...***...


"Ryl, May mau revisi skripsi setelah ini," ucap Maya selesai sosialisasi.


"Aku temani," sahut Herryl.


"Sama Pak Asep?" tanya Maya.


"Nggak, dong, May. Pak Asep kalau dipanggil papa gimana?" elak Herryl.


"Padahal kamu, kan, nggak kesepian kalau ada Pak Asep. Nanti May pasti sibuk sama laptop," keluh Maya. Herryl tersenyum mendengarnya.


"Herryl. Ngomong begitu di depan umum." Maya menegur lelaki di depannya. Sementara Herryl tertawa kecil dengan tingkah Maya yang baginya manja.


"Kak, kami kembali ke kampus, ya," pamit Tiara.


"Iya, makasih, ya, untuk hari ini," jawab Maya.


"Kak Maya beruntung, ya, pacarnya sayang banget sama dia," gumam Kirana. Hadi menyikut gadis itu, mengajaknya ke kampus.


Maya mendengar itu jadi terdiam. Herryl begitu menyayangi May? Diliriknya Herryl yang berjalan di sampingnya.


"Kenapa melirik? Nanti di rumah kamu bisa pandangi aku sepuasnya, kok, May," goda Herryl yang ditanggapi cubitan oleh Maya.


...***...

__ADS_1


Herryl membeli berbagai cemilan untuk mereka berdua. Ternyata Herryl juga memantau keuangan perusahaan papanya walau ia sendiri memiliki saham di Intel Corporation. Meski teman-temannya menyarankan dirinya untuk trading, jual beli saham. Herryl memilih membeli saham dan membiarkannya digunakan dalam perusahaan tersebut. Herryl sudah menginvestasikan uangnya di beberapa perusahaan selain Intel Corp. Tidak apa-apa sedikit hasilnya tapi mengalir terus ke rekeningnya.


"Untung revisinya cuma sedikit. Sekarang selesai dan tinggal dijilid hard cover," ucap Maya sore itu.


"Mau kuantar?" tanya Herryl. Maya menggeleng.


"Besok saja sekalian di kampus, tukang fotokopinya biasanya sudah paham aturan kampus terkait skripsi. May juga mau daftar wisuda," tolak Maya. "Itu apa?" tanya Maya melihat tabel di layar laptop Herryl.


"Laporan keuangan. Aku disuruh papa belajar tentang keuangan perusahaan," jawab Herryl.


"Tanggung jawabmu berat, ya, Ryl, pastinya," ucap Maya kemudian. Dan May malah banyak merepotkan kamu. Herryl menatap Maya. Segaris senyum tersungging di bibirnya.


"Thanks, ya, mau ngertiin aku." Herryl mengucap terima kasih seraya menepuk kepala Maya.


"Ryl, kalau kamu sibuk, nggak usah temani May juga nggak apa-apa, kok," ujar Maya setelah ia menyeruput jus alpukat. Enak jusnya.


"Aku bisa, kok, ngecek laporan sambil nemenin kamu kayak sekarang," jawab Herryl sambil tersenyum. "Aku mau memanfaatkan waktu yang ada sama kamu, May. Boleh, kan?" lanjutnya lagi, matanya menatap Maya dalam.


Merasa ditatap intens, Maya gugup. Ia kembali melihat laptopnya, memainkan kursor acak. Herryl tertawa kecil melihat tingkah Maya.


"Kamu bikin gemes, deh. Aku takut nggak kuat jauh dari kamu nanti di Oxford," komentar Herryl.


Oxford ...


"Kamu bisa, Ryl. Belasan tahun kemarin kamu bisa, apalagi ini cuma setahun," jawab Maya lirih. Dilihatnya Herryl bersandar di dinding, menatap langit-langit ruang tamu.


"Beda, May. Perasaanku makin kuat ke kamu. Semakin ingin selalu di dekat kamu." Herryl mengungkapkan perasaannya.


"May yakin kamu punya cara untuk menjaga semua itu sampai saatnya tiba, Ryl."


Herryl menoleh, menatap Maya sambil tersenyum. Ditepuknya kepala Maya.


"Terima kasih, ya, sudah percaya sama aku, sudah menguatkanku."

__ADS_1


...-bersambung-...


hai halo hai. apa kabar semua? terima kasih, ya, masih setia menyimak kisah Herryl dan Maya.


__ADS_2