![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Maya akan mengerjakan proyek dari pengelola perpustakaan swasta hari ini, hari ketika orang lain akan piknik. Ia masih bersantai saat Herryl datang membawa jus alpukat.
"Lagi santai?" tanya Herryl. Maya mengangguk.
"Sebentar lagi desain perpustakaan penerbit Lingkar Pena." Maya menjawab sesuatu yang membuat Herryl menoleh.
"Itu, kan, penerbit besar. Bukunya ribuan." Herryl berkomentar yang membuat Maya mengangguk.
"Ryl, besok jemput May, ya," pinta Maya setelah selesai menyeruput jus alpukat.
"Tumben. Jam berapa?"
"Besok May ketemu Adrian dan Madam Van Coen untuk penjelasan detail desain final," jawab Maya.
Herryl mengerti maksud gadisnya. Ia tersenyum.
"Iya. Kabari saja," ujar Herryl sambil menepuk kepala Maya. "Semoga besok lancar," lanjut lelaki itu. Maya mengangguk.
...***...
"Adrian," panggil Nyonya Van Coen. Dilihatnya putra bungsu yang ia sayangi sedang membaca buku kriminologi.
"Iya, Ma," jawab Adrian.
"Kamu tidak menghubungi Maya?" tanya perempuan paruh baya tersebut.
Adrian menutup bukunya. Tatapannya beralih pada sang mama. Lelaki itu menghela nafasnya.
"Untuk apa?"
"Menyatakan perasaanmu. Mama tahu kalian saling memendam perasaan, kan?"
Adrian menggeleng.
"Dia sudah bertunangan, Ma," elak Adrian membuat mamanya terkejut. "Aku melihat cincin di jari manis kirinya."
"Tapi Mama lihat tempo hari dia ...," ucapan Nyonya Van Coen menggantung.
"Sudah, Ma. Aku tidak akan mengganggu hubungan Maya."
Nyonya Van Coen memeluk anaknya. Adrian menunduk.
Aku harus melepasmu. Seharusnya aku tahu saat aku pergi. Aku terlalu naif mengharapkan perasaanmu masih sama untukku.
...***...
"Maya sudah tunangan?" tanya Adrian di telepon. Lelaki itu penasaran siapa yang bisa menaklukkan seorang Maya. Gadis keras kepala yang sudah menaklukkan hatinya.
"Iya. Kenapa, Yan?" tanya Hardi usai menjawab pertanyaan Adrian.
"Siapa?"
"Herryl."
Adrian mendesah. Gigih juga lelaki itu.
__ADS_1
"Pasti Maya baru menyukainya, kan? Setahuku Herryl kuliah di Oxford."
"Mereka menjalin hubungan sejak Herryl ke Oxford."
Mata Adrian membelalak. Mereka sanggup menjalaninya bertahun-tahun?
"Aku bertemu Maya," ujar Adrian lirih.
"Lepaskan dia, Yan." Hardi berpesan sebelum akhirnya mereka memutus sambungan telepon.
Andai aku yang lebih dulu menawarkan hubungan jarak jauh itu, kau pasti menerimaku, May.
...***...
"Maya, kita ke resto Medio. Nyonya Van Coen ingin kita membahas desain itu di sana sore ini," perintah Rahmat. Maya mengangguk. Disiapkannya hasil cetak desain yang mereka berdua buat. Berkas berisi detil desain juga Maya siapkan.
Mobil Rahmat kemudian meluncur ke resto Medio. Maya merasa tidak akan kembali ke kantor sehingga ia membawa serta laptop dan tas ranselnya.
"Kali ini kamu yang menjelaskan desainnya. Kamu siap?"
"Baik, Pak," jawab Maya.
Setelah sepuluh menit, mobil Rahmat terparkir di halaman resto tujuan mereka. Gadis dengan blouse biru muda dan celana kulot navy itu mengikuti Rahmat ke dalam resto.
"Atas nama Nyonya Van Coen," ujar Rahmat pada petugas yang menyambutnya di pintu resto.
"Mari kami arahkan ke meja Anda," jawab petugas tersebut. Rahmat dan Maya mengikuti sang petugas.
Adrian belum datang.
"Pak, Saya izin menggunakan ponsel sebentar," pinta Maya yang dijawab anggukan Rahmat.
Maya mengetik pesan di ponselnya.
"May di resto Medio, Tendean."
"Sore begini biasanya macet," komentar Rahmat menanggapi keterlambatan klien mereka. Maya menyimpan ponselnya lalu beralih pada Rahmat.
"Iya."
Setelah menunggu belasan menit, klien mereka datang. Adrian terlihat lebih tampan dengan kemeja biru muda dan vest abu-abu. Maya mencoba menenangkan degupan jantungnya.
"Maaf kami terlambat. Maya, you're so pretty today," puji Nyonya Van Coen melihat penampilan Maya.
"Terima kasih, Madam," ucap Maya.
"Ya, kan, Adrian?" lanjut Nyonya Van Coen bertanya pada Adrian yang sempat tidak berkedip menatap gadis di hadapannya.
"Ya. Cantik," jawab Adrian sambil tersenyum. Wajah Maya kini memerah karena Adrian memujinya.
"Baiklah. Kita pesan makanan dulu baru bicarakan desain. Bagaimana?" usul Nyonya Van Coen. Perempuan itu memanggil pelayan untuk memesan makanan. "Maya, kamu makan apa, Sayang?" tanya Nyonya Van Coen.
"Sandwich dan jus alpukat," jawab Adrian yang membuat Maya dan mamanya terkejut. "Kesukaanmu itu, kan, May?"
"I-iya." Maya menjawab gugup. Adrian bahkan masih mengingat makanan dan minuman kesukaannya.
__ADS_1
Tanpa Adrian sadari, ada tatapan tidak suka dari lelaki di samping Maya, Rahmat.
"Baiklah. Tolong pesanan kami segera dihidangkan, ya," pinta Nyonya Van Coen setelah mereka berempat menyebut pesanan masing-masing.
Suasana hening itu terpecah oleh deringan telepon milik Maya. Setelah berpamitan, Maya ke tepi untuk mengangkat telepon tersebut.
"May, aku lembur. Mungkin selesai 3 jam lagi. Kamu mau nunggu aku atau pulang duluan?" tanya Herryl di telepon.
"May tunggu, Ryl," jawab Maya.
"Okay. Semoga sukses, ya," ujar Herryl sebelum mereka beruluk salam dan memutus sambungan telepon. Maya tersenyum setelah telepon itu berakhir. Terima kasih.
Maya kembali ke mejanya dan makan sandwich setelah dipersilakan oleh Nyonya Van Coen.
"Kebiasaan," ujar Adrian sambil mengelapkan tisunya ke pipi Maya. Ia melihat ada remah roti dan mayonaise di pipi gadis itu. Masih seperti dulu.
Maya memundurkan wajahnya.
"Eh?"
"Oh, maaf," ujar Adrian. Lelaki itu menarik kembali tisunya.
Maya mengambil tisu di depannya lalu mengelap pipi yang terkena remahan roti dan mayonaise itu. Hampir saja.
Mereka selesai makan lalu membahas desain yang ditawarkan oleh Maya. Adrian tidak berhenti menatap gadis di depannya yang serius menjelaskan rancangannya. Cantik.
"Bagus sekali konsep go greennya. Jadi, kost tidak pengap nanti, ya. Terima kasih, Maya. Saya suka sekali," ujar Nyonya Van Coen.
"Terima kasih, Madam. Kami juga senang bisa menyenangkan Madam," jawab Maya.
"Kamu juga suka, kan, Adrian?" tanya mamanya. Adrian tidak lepas menatap gadis di depannya.
"Iya. Suka."
Maya kikuk ditatap intens oleh Adrian.
"Pak Rahmat, bisa tolong antar saya sebentar? Biar Adrian reuni dulu bersama Maya," pinta Nyonya Van Coen.
Meski berat, Rahmat mengiyakan permintaan kliennya itu. Mereka meninggalkan Maya dan Adrian yang saling diam selama beberapa menit.
"Jadi, kapan menikah?" tanya Adrian. Maya terdiam agak lama sebelum akhirnya menjawab.
"Kami belum menentukan tanggal karena masih harus mencapai cita-cita."
Adrian tertawa kecil mendengarnya.
"Kamu banget," komentarnya. Tawanya kini berganti senyum saat menanyakan sesuatu.
"Jadi, masih ada kesempatan untukku, kan?"
...-bersambung-...
Adrian? Apakah itu kamu?
Hai halo hai, terima kasih sudah mengikuti kisah Maya dan Herryl.
__ADS_1