![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Kidlington. Maya memandangi hall yang sangat luas. Lalu-lalang orang dari berbagai penjuru dunia menjadi pemandangan sehari-hari di bandara kota Oxford tersebut.
Sekarang May di Oxford?
"Gimana?" tanya Herryl sambil memegang trolley berisi koper dan ransel. Dilihatnya tatapan takjub dari mata gadis yang sedang berdiri di sampingnya.
GYUTT!!
"Aduh!" pekik Herryl karena Maya mencubit lengannya.
"Oh, bukan mimpi," ucap Maya tanpa rasa bersalah. Mata Herryl membelalak.
"Kamu cubit sesakit ini cuma buat bukti kalau bukan mimpi? Ya, ampun, May. Bisa biru semua badanku kalau begini caranya," keluh Herryl yang ditingkahi tawa kecil Pak Ardhiwijaya.
"Ayo, May. Kita naik taksi ke hotel." Nyonya Anggi mengajak Maya yang masih menatap takjub berbagai sudut bandara tersebut. Maya mengangguk kemudian berjalan di samping Herryl.
Tiba-tiba Maya merasa suhu udara terlalu dingin. Ia memperlambat langkahnya.
"May?" tanya Herryl yang ikut memperlambat langkahnya. Gadis itu menunjukkan senyumnya kemudian menambah kecepatan langkahnya. Mereka menyusul kedua orang tua Herryl. Berempat menaiki taksi menuju hotel terdekat.
Perjalanan hanya memakan waktu 5 menit dan Maya berusaha menikmati suasana musim panas itu. Musim panas bisa sedingin ini ternyata, batin Maya.
__ADS_1
Setelah sampai di Mercure Oxford Eastgate Hotel, Herryl segera menuju meja resepsionis. Ia mendaftarkan dua kamar, satu untuk orang tuanya, satu untuk Maya. Dirinya hanya perlu berjalan 500 meter untuk sampai di Exeter sehingga tidak perlu memesan kamar lagi. Sambil menunggu pemesanan berhasil, Herryl menggenggam tangan Maya dan memasukkan genggaman tangannya ke dalam saku hoodie miliknya. Maya menurut saja karena ia merasa kedinginan.
"Okay, ini kunci kamar Anda, Tuan," ujar resepsionis tersebut seraya menyerahkan kartu akses sebagai kunci kamar.
"Thank you," ujar Herryl. Diajaknya Maya menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di lobi.
Herryl menunjukkan satu kamar double untuk kedua orang tuanya. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bila keluarga Ardhiwijaya bepergian maka Herryl yang mengatur rencana perjalanannya. Tadi bahkan Herryl sudah mengirimkan ittinerary ke ponsel Maya.
"Herryl antar Maya, ya, Ma, Pa," ujar Herryl pamit. Kedua orang tuanya mengangguk dan membiarkan kedua pemuda itu berjalan ke kamar di samping mereka.
Herryl membukakan pintu kamar hotel dan membimbing Maya ke tempat tidur.
"Kamu sakit, ya? Istirahatlah," ujar Herryl sebelum Maya melontarkan tanya kenapa ia diajak ke tempat tidur. Gadis itu mengangguk kemudian duduk di tepi tempat tidur. Herryl sedang meletakkan tas ransel saat Maya tiba-tiba berlari ke kamar mandi.
"Ganti baju, ya, May, istirahat," ujar Herryl sambil mencuci wajah Maya yang terlihat pucat. Herryl bergegas mengambil ransel dan meletakkannya di lantai kamar mandi. Membiarkan Maya menutup pintu kamar mandi dan berganti pakaian.
"Ini, minum air hangatnya. Tehnya juga," ujar Herryl saat Maya keluar dari kamar mandi. "Nanti kalau kurang, dispensernya di depan tempat tidur, ya. Kantong teh dan kopi juga ada. Tapi, kamu nggak usah minum kopi dulu," lanjut Herryl saat Maya melontarkan tatapan tanya.
"Ryl," panggil Maya sambil memegang gelas yang tehnya sudah tandas.
"Sudah? Tidur dulu, aku ke asrama setelah kamu tidur," ujar Herryl lagi. Dinaikkannya selimut hingga leher Maya. Saat lelaki itu akan beranjak, Maya menarik tangan kekar yang sudah membantunya itu.
__ADS_1
"Terima kasih," ujar Maya lemah. Herryl menunjukkan senyum termanisnya.
Sebuah deringan telepon berbunyi. Ponsel Maya. Herryl mengambil ponsel tersebut kemudian menerima panggilan teleponnya.
"Iya, Bu Rini. Kami sudah sampai. Maya baru akan beristirahat di kamarnya di hotel bersama mama papa. Oh, saya? saya juga akan istirahat di asrama kampus, Bu," ujar Herryl. Kemudian ia serahkan ponsel pada Maya.
"Iya, Ma. Maya baik-baik saja cuma capek," jawab Maya berusaha membuat suaranya sebiasa mungkin. Setelah beberapa menit, sambungan telepon terputus.
Herryl baru pergi dari kamar itu setelah Maya meyakinkan dirinya sudah lebih sehat.
"Kalau kamu pergi setelah aku tidur, gimana kunci kamarnya?" tanya Maya.
"Oh, iya. Kamu benar. Jadi, yang di film-film itu nggak logis, ya?" jawab Herryl.
"Dasar. Pulanglah, May sudah lebih sehat sekarang," ujar Maya.
"Iya. Kamu istirahat, ya. Kalau ada perlu di meja ada interkom untuk hubungi bellboy. Kamu juga bisa hubungi aku. Exeter cuma 500 meter, kok, dari sini." Herryl berpesan sebelum keluar kamar. Tak lupa ditepuknya kepala gadis itu. Maya mengangguk.
...-bersambung-...
Maya jetlag? Iya. Sedikit bercerita, saya juga pernah mengalami hal itu padahal masih di Asia Tenggara yang iklimnya mirip-mirip, lah. Kalau teman-teman mahasiswa di Eropa cerita, memang, sih, lebih dahsyat karena iklim dan waktu yang berbeda. Cepat sembuh, Mayaaaa.
__ADS_1
kayak apa hotelnya?