![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Herryl menjemput Maya untuk berangkat ke rumah duka sebelum mereka bekerja.
"Maya," sapa Nyonya Van Coen saat melihat gadis itu datang. Mereka berpelukan dan Maya kembali merasa sedih. Terbayang bagaimana perasaan Nyonya Van Coen saat ini. Herryl menyalami takzim perempuan paruh baya itu.
"Terima kasih, Herryl. Kamu bahkan sudah mengurus pemulangan Adrian ke Belanda," ujar Nyonya Van Coen sambil menggenggam tangan rival anaknya itu.
"Saya hanya ingin berterima kasih pada Adrian, Bu," jawab Herryl.
Maya mengajak Herryl untuk pamit karena mereka juga harus bekerja. Herryl mengantar Maya sampai di depan kantor.
"Terima kasih, Ryl," ujar Maya.
"Jangan sedih lagi, ya," ujar Herryl seraya menepuk kepala gadis di samping motornya. Maya mengangguk.
"May," panggil Herryl yang membuat Maya mendekat. Lelaki itu menatap lekat wajah gadisnya. Senyum sumringah tidak lepas dari wajah tampannya saat mendapati tatapan Maya terfokus padanya. Sang Tuan Muda Ardhiwijaya kemudian berkata lembut, "Aku sayang kamu."
"Ini tempat umum, Ryl," protes Maya sambil cemberut, menutupi rasa malunya. Herryl tersenyum melihat reaksi gadis itu. Kamu sudah kembali seperti biasa, May. Semoga.
...***...
Empat hari telah berlalu sejak kejadian itu. Riana mengajak Maya makan siang di kantin kantornya. Setiap Jumat, pekerjaan Riana tidak sepadat hari lainnya.
"Ri, Hardi tempo hari kirim pesan belasungkawa," ujar Maya. Mereka sedang makan siang di kantin Metal Estate.
Riana menatap sahabatnya. Ia sudah mengetahui kronologi kejadian dari Herryl. Kamu pasti melalui situasi yang berat. "Sekarang, kamu fokus sama masa depan kamu, ya," pinta Riana yang dijawab anggukan lemah Maya.
"Iya. May mau daftar lelang proyek, Ri."
"May, kamu jadi gila kerja begini, kenapa, sih? Kamu sudah mapan, lho," tanya Riana. Untuk gadis seusia Maya, berpenghasilan belasan juta tiap bulannya adalah sesuatu yang bisa dikategorikan mapan. Belum lagi bila ada konsultasi desain interior.
"Iya. Tapi kamu, kan, tahu, Ri. May tabung semua uang May supaya punya rumah untuk mama bapak," jawab Maya lagi. "Sekarang May malah harus nabung untuk biaya nikah," lanjutnya.
"Iya, deh, yang sudah dilamar. Kalau biaya nikah, biar Herryl saja yang tanggung. Yang pengen banget nikah, kan, dia, May," kelakar Riana yang disambut tawa kecil Maya.
"Kalian kapan nikahnya? Supaya aku siap-siap buat pakaiannya. Pakaianmu nanti aku yang buat, ya, please," tanya Riana sambil meminta.
__ADS_1
"Belum tahu, Ri. Herryl juga masih belajar di perusahaan Om Ardhi, kan?"
"Jangan lama-lama, May. Eh, iya, harga emas selama tiga hari ini naik terus. Kamu belum cek tabungan emasmu, May?" tanya Riana. Mata Maya berbinar mendengarnya.
"Iya?"
"Ya. Sebentar kubuka beritanya. Selama empat hari ini sudah naik empat puluh ribu per gram. Kamu mau jual?" tanya Riana. Maya terdiam sambil mengaduk jus alpukatnya.
"Mungkin bisa May jual sebagian," jawab Maya sambil tersenyum. Mama, bapak, kita punya rumah.
"Aku masih belum jual, May. Masih kutabung untuk biaya nikah," ujar Riana. Ucapan yang membuat Maya menegakkan punggungnya.
"Nikah? Ri, kamu belum cerita apa-apa sudah bicara nikah," rajuk Maya. Sahabatnya hanya tersenyum.
"Dia ngajakin nikah, May. Nggak ngajak pacaran."
"Siapa?"
"Janji, ya, jaga rahasia dari teman-teman," pinta Riana karena melihat raut wajah ingin tahu Maya. Dilihatnya Maya mengangguk.
"Kalau Herryl boleh tahu?"
"Jadi?"
"Tuan Muda Shiratori," ujar Riana sambil menahan malu. Maya menangkap warna merah di pipi Riana.
"Hardi?" tanya Maya lagi yang dijawab anggukan oleh Riana. "Selamat, ya, Ri. Eh, tapi, bukannya kamu mau sama orang yang di Jakarta saja?"
Riana gemas dengan pemikiran Maya. Orang kalau sudah suka nggak selalu realistis, May.
"Dia akan stay di Jakarta, May, tahun depan. Perusahaan papanya, kan, di sini," jawab Riana. Maya mengangguk-angguk.
"Sejak kapan?" tanya Maya lagi.
"Baru-baru ini," jawab Riana.
__ADS_1
"Cieee, calon pengantin," goda Maya.
"Yang calon pengantin itu kamu, Mayaaa," balas Riana menutupi rasa malunya.
...***...
"Adrian pergi, Di. Dia berkorban untuk Maya," ujar Herryl sore itu di telepon.
"Iya. Sekarang kamu yang harus jaga Maya."
"Jujur, aku cemburu melihat Adrian sampai berusaha keras menolong Maya. Seharusnya aku yang di sana." Herryl sedang memulai sesi curhatnya.
"Akupun berpikir begitu kalau Riana yang ada di posisi Maya," jawab Hardi.
"Riana?"
"Eh, itu ...."
Kenapa keceplosan, sih?
"Dia maunya orang yang stay di Jakarta, lho," komentar Herryl.
"Iya. Aku akan stay di Jakarta menjalankan usaha Papa di sana."
"Selamat, ya. Kamu beruntung dapat Riana, dia peka. Bukan Maya yang polos, hahahaha."
"Tapi kamu sukanya Maya, kan?"
Senyum sumringah muncul dari Tuan Muda Ardhiwijaya itu.
"Iya. Cuma dia. Selalu dia," jawab Herryl mantap.
...-bersambung-...
Jadi benar, Riana dengan Hardi? Wiiiih, bisa juga Hardi menaklukkan Riana.
__ADS_1
Oke, terima kasih, temans, atas kesetiaan kalian mengikuti kisah Herryl dan Maya 😊
Sekarang, teman-teman lebih menyukai Maya saat sekolah, kuliah, atau bekerja? kenapa? share yuk di kolom komentar