[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Lady Oscar?


__ADS_3

Pagi ini Maya sedang duduk di mejanya saat Albert masuk ruangan. Kejadian beberapa hari yang lalu membuat Albert tidak menyapa Maya seperti biasanya. Maya juga tidak menyapa Albert lebih dulu. Ia hanya menunggu tugas yang akan diberikan padanya.


Setelah diam selama belasan menit, Albert kemudian menghampiri meja Maya sambil membawa berkas.


"Buat anggarannya," perintah Albert kemudian pergi setelah meletakkan berkas tersebut di meja Maya.


"Baik, Pak," jawab Maya. Segera ia kerjakan Rancangan Anggaran Biaya yang diminta berdasarkan data yang diterima olehnya. Setelah memakan waktu hampir satu jam, tugas itu selesai. Maya meregangkan ototnya yang kaku.


"Kamu tahu, kan, karate bukan untuk gagah-gagahan?"


Tiba-tiba Maya teringat pesan Hardi, ketuanya di Club Karate saat SMA. Tapi, waktu itu, kan, bukan gagah-gagahan. May dalam bahaya. Apa mungkin May responnya berlebihan?


"Pak, ini RAB yang Bapak minta," ujar Maya sambil menyerahkan data di meja Albert. Melihat Albert diam saja, Maya melanjutkan, "Saya juga minta maaf kalau respon saya kurang berkenan bagi Bapak. Tapi, saya juga tidak menyukai sikap Bapak kepada saya malam itu. Saya harap Bapak tidak berbuat seperti itu lagi, permisi."


Maya tidak menunggu jawaban Albert yang memang hanya diam saja. Gadis itu kembali ke mejanya, mempelajari berbagai data yang dilimpahkan Dimas kepadanya karena Randi kewalahan.

__ADS_1


Albert memilih pergi sebentar tanpa Maya pedulikan akan ke mana. Bukan urusan May, batinnya.


Maya mengerjakan tugas Randi sampai akhirnya sekotak coklat premium disodorkan di depan komputernya. Maya mendongak.


"Maaf," ucap Albert kemudian. Albert meletakkan coklat tersebut di meja karena Maya tidak segera menerimanya. Ruangan kembali sunyi dan hanya ditingkahi oleh suara ketukan jari Maya di atas keyboard.


Saat jam makan siang, Albert pergi lebih dulu. Ia masih canggung bila menyapa Maya. Setelah Albert pergi, Maya mengambil coklat tersebut, membawanya ke kantin.


"Maya," sapa Randi. Maya segera menyodorkan coklat yang dibawanya.


"Nih, buat kamu," ucap Maya. Randi menatap coklat dan Maya secara bergantian.


"Mau nggak?" tanya Maya akhirnya.


"Mau, sih. Tapi cowok lo nggak marah, kan, kalo lo ngasih coklat ke gue?" Randi menyelidik lagi. Lelaki itu tahu betul bagaimana Herryl kalau bertarung, menurut cerita yang didengarnya. Randi tidak mau mati konyol di tangan Herryl hanya gara-gara coklat yang ia terima. Entah dari mana Randi mendapat gosip itu, padahal Herryl jarang sekali bertarung. Bahkan, dia sering menjadi korbannya Maya. Oke, memang pernah dia menolong Maya dan sahabatnya, tapi bukan berarti Herryl suka berkelahi, kan, Randi?

__ADS_1


"Nggak, lah."


"Dalam rangka apa lo ngasih coklat?"


"Karena nggak mau coklat ini," jawab Maya santai. Randi membulatkan matanya. Maya yang penyuka coklat menolak coklat premium?


"Lo jangan nyesel, ya," pesan Randi. Maya mengangguk kemudian mengajak Randi yang berterima kasih padanya untuk ke kantin.


Albert baru selesai dan melihat Randi sedang membawa coklat darinya. Dia masih marah?


Hari ini Maya tidak pergi ke lapangan. Ia segera pulang saat selesai jam kerja. Sampai di rumah, ia membersihkan diri kemudian makan. Tangannya mengecek ponsel pemberian Herryl. Benar, masih awet. Diperiksanya aplikasi percakapan dan banyak pesan masuk.


Sebuah panggilan masuk dari Herryl. Tanpa berpikir lagi, Maya menerima panggilan tersebut dan saling beruluk salam.


...-bersambung-...

__ADS_1


Hai halo hai temans


Gimana? alurnya terlalu cepat, nggak?


__ADS_2