![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"I miss you, May. Kangen," tulis Herryl di layar percakapannya dengan Maya, sesaat setelah ia sampai di Bandara Kidlington. Sudah pukul 13.20 di sini. Tidak ia sangka dua malam lalu ia masih di Soekarno-Hatta, mendengar suara gadisnya. Kini ia sendirian di tengah summer (musim panas) Oxford, waktu liburan sebagian besar warga Inggris. Pantas saja bandara begitu padat oleh para penumpang. Herryl segera bersiap mencari kendaraan menuju asrama kampus yang memang disiapkan untuk para mahasiswa tahun pertama.
"Ma, Eyil udah sampai Kidlington. Nanti di asrama Eyil telepon, ya," tulis Herryl pada layar percakapan dengan mamanya. Jam segini pasti mama sibuk nyiapin makan malam untuk papa.
Herryl mengikuti arahan seniornya yang ia kenal saat pendaftaran online Universitas Oxford. Mereka berkenalan di jejaring sosial khusus mahasiswa. Seniornya merupakan mahasiswa tingkat akhir di jurusan yang sama dengan Herryl, Bussiness and Management. Saat ini seniornya tinggal di sebuah apartemen yang letaknya tidak jauh dari College mereka. Bahkan, saat ini Herryl sudah berada di dalam mobil Andrew, seniornya itu.
"Capek?" tanya Andrew sambil menyetir.
"Pastinya," jawab Herryl sambil tertawa.
"Hari ini kamu istirahat dulu di apartemenku. Kamu pasti jetlag, kan?" saran Andrew. Herryl mengangguk kemudian menatap jalanan musim panas di Oxford Road. Lebih dingin dari suhu di Jakarta walau namanya musim panas.
Indahnya, apalagi kalau Maya di sini, batin Herryl.
"Kalau mau cari tempat romantis, ke London, Ryl," saran Andrew ketika melirik kursi penumpangnya.
"Pacar saya sukanya diajak ke perpustakaan, Kak," sahut Herryl. Andrew tertawa.
"Kamu ajak ke Oxford kalau gitu. Dia pasti suka dibawa ke 102 perpustakaan yang kita punya," jawab Andrew menginformasikan. Herryl menunjukkan raut wajah terkejut.
"Banyak banget, Kak."
"Iya, tersebar di setiap college," lanjut Andrew. "Okay, kita sudah sampai."
Mereka berdua kemudian naik ke lantai 2, tempat Andrew tinggal. Herryl berinisiatif membersihkan dirinya sebelum beristirahat.
"Kamu bisa pakai kasurku. Aku mau selesaikan tugas akhir," ucap Andrew yang diiyakan oleh Herryl.
Sebuah apartemen sederhana yang berisi satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan ruang tamu sekaligus dapur. Andrew adalah orang yang tidak menyukai perabotan sehingga isi apartemennya sangat simpel. Untuk ukuran laki-laki, Andrew adalah orang yang rapi. Herryl tidak melihat tumpukan baju kotor atau yang berserakan. Ia melihat pakaian kotor itu di laundry draw, sebuah keranjang di samping kamar mandi. Kalau mama tahu pasti aku disuruh mencontoh Kak Andrew, batin Herryl.
Tempat tidur yang digunakan merupakan jenis single bed. Bahkan spreinya sangat rapi ketika mereka datang. Herryl tidur di kasur busa empuk tersebut, mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah dalam perjalanan. Baru saja akan terlelap, ponselnya berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Herryl segera mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas, membukanya.
"Dilarang nggombal," tulis Maya yang terbaca oleh Herryl. Tertawa Herryl menyadari Maya masih belum berubah. Ditekannya tombol telepon yang langsung ditolak oleh Maya. Mungkin lagi ngerjain tugas. Herryl kemudian menelepon mamanya, mengabarkan kondisinya sekarang.
"Ma, titip Maya, ya," pinta Herryl kemudian.
"Iya, kamu fokus kuliah, ya. Maya itu lebih bisa njaga dirinya daripada kamu," jawab mama sambil berpesan.
"Kok Mama belain Maya?"
"Kenyataannya, kan? Sudah, istirahat dulu kamu," pesan mama sambil menutup teleponnya.
__ADS_1
Herryl kemudian tertidur sampai ia merasa perutnya lapar, minta diisi. Herryl melihat jam yang sudah dikalibrasi dengan waktu Oxford. Sudah pukul 7 tapi belum ada tanda matahari terbenam. Ah, iya. Di negara ini saat musim panas matahari akan terbenam pukul 9 malam. Maya sedang istirahat pasti. Besok saja aku telepon.
...***...
"May," sapa Herryl setelah ia mendengar teleponnya tersambung di belahan bumi lainnya.
"Ya? Jangan telepon kalau cuman buat nggombal. Siapa kamu berani gombalin May?" Ketus Maya menjawab sapaan Herryl.
"Ya ampun, May. Aku kangen beneran, bukan nggombal. Lagian, masa nggak boleh gombalin pacar sendiri?" protes Herryl.
"May bukan pacar Herryl," elak Maya kemudian.
"Lho, tapi, kan, kamu mau nunggu aku."
"Iya, tapi kita nggak pacaran."
"Jangan gitu, dong, May."
"Kita nggak ada perjanjian atau statemen untuk pacaran, kan?" tanya May memastikan.
"Nggak ada, sih. Tapi, kan ...."
"Ya, sudah. May bukan pacar kamu kalau gitu," ucap May menegaskan.
"May nggak ngerasa ini cobaan, kok. Malah memudahkan kamu. Fokus belajarmu jadi meningkat, kan, karena nggak perlu mikirin May?" nasehat Maya.
"Tahu gitu kunikahin dulu kamu, May, sebelum berangkat ke Oxford," sesal Herryl gemas dengan sikap Maya.
"May yang nggak mau," elak Maya.
"Udah, udah. Nggak selesai-selesai kalau debat sama kamu. Kamu udah makan, belum?" Herryl akhirnya mengalah, menyadari gadisnya keras kepala.
"Udah. Ini baru selesai. Mau ada kuliah lagi. Tinggal satu. Hari ini pulangnya cepat," jawab Maya.
"May, aku ada kabar bagus buat kamu. Perpustakaan di Oxford jumlahnya 102! Kapan-kapan kuajak kamu, ya," ucap Herryl bersemangat.
"Kamu baru tahu?" tanya Maya dengan nada meremehkan kabar dari Herryl.
"Lho, kok, nggak kaget?"
"May sudah lama tahu, Ryl,"
__ADS_1
Herryl tidak tahu, sejak Maya mendapat kabar Herryl akan ke Ke Oxford, Maya mencari berbagai informasi terkait kota pelajar tertua di dunia itu.
"Kamu mau ke Oxford?" tanya Herryl penasaran.
"Iya," jawab Maya kemudian.
"Aku pesan tiketnya, ya."
"Mau ngapain? May sudah kuliah di sini. Eh, sudah dulu, ya. May mau ke kelas," pamit Maya hendak menutup sambungan teleponnya.
"May, tunggu."
"Apa?"
"Aku sayang kamu," ucap Herryl lembut.
"Dibilangin nggak boleh nggombal," larang May mengingatkan.
"Itu beneran, May."
"Oh, ya, sudah. May tutup teleponnya, ya."
"Kok nggak dibalas, sih, May?" rengek Herryl.
"Apa? Sudah, kamu istirahat dulu. Jetlag, kan? Daripada nantinya sakit. Bye." Maya tidak menunggu jawaban Herryl langsung menutup teleponnya. Debaran jantungnya tidak beraturan ketika mendengar ungkapan perasaan Herryl barusan.
"Kan aku sudah istirahat, May," ucap Herryl yang sudah pasti tidak akan didengar oleh Maya. Hanya Andrew yang mendengar ucapan terakhirnya. Didengarnya Andrew tertawa mendengarkan Herryl berbicara melalui telepon.
"Lucu banget kalian," komentar Andrew.
"Begitulah dia, Kak. Bikin gemas," jawab Herryl setelah melihat wallpapernya yang bergambar dirinya dan Maya yang cemberut karena diacak rambutnya. Senyum sumringah tidak lepas dari bibirnya.
"Duh, yang lagi jatuh cinta," goda Andrew. Herryl tertawa kecil mendengar godaan seniornya. Aku selalu jatuh cinta kalau sama dia.
"Saya mau lapor ke college, ya, Kak," pamit Herryl. Andrew mengangguk. Herryl yang sudah siap dengan berkasnya segera mengurus ke college mereka yang cukup dicapai dengan berjalan kaki.
Herryl menikmati udara Oxford yang segar karena hamparan rumput hijau dan pohon-pohon teduh di area college. Bersegera ia menuju gedung administrasi untuk melapor. Kalau sudah selesai melapor maka ia akan siap untuk kuliah di tahun ajaran baru, September nanti.
...-bersambung-...
hai halo hai
__ADS_1
terima kasih kalian sudah setia sampai saat ini di kisahnya Herryl dan Maya. Semoga tetap betah, yaaa
Edited: part ini terbit, beberapa jam kemudian saya lulus kontrak. so many thanks temans untuk dukungan kalian ^_^