![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Sudah lewat sebulan. Maya baru selesai membuat maketnya. Bagaimana dengan skripsinya? Syukurlah Maya tinggal mengejar 1 bab lagi. Bab berisi kesimpulan. Di Universitas Angkasa, Tugas Gambar Akhir diberikan bersamaan dengan skripsi sehingga menyingkat tahapan ujian. Tentu, memberi beban ujian lebih banyak bagi para mahasiswanya.
"Kita jadi, kan ke Metal Energi?" tanya Tiara. Gadis berambut panjang itu kini terbiasa duduk di ruang tamu rumah mungil keluarga Maya. Hadi dan Kirana juga. Semua karena proyek mereka.
"Iya, jadi. Besok pagi. Untungnya maket sudah jadi," jawab Hadi lembut. Mirip Herryl, batin Maya.
Tiara mengecek maket tersebut sesuai disiplin ilmu yang ia pelajari. Tata letaknya ramah lingkungan atau tidak.
"Oke, sudah. Di, bawa mobil, kan? Ini simpan di mobilmu ya," pinta Tiara. Hadi mengangguk. Mereka hati-hati mengangkat wadah maket tersebut.
"Finally. Sudah sore. Kami pamit dulu, Kak," ucap Tiara yang dijawab anggukan oleh Maya.
Saat itulah Riana yang baru selesai bekerja muncul di ambang pintu dan beruluk salam.
"May, sibuk, nggak? Antar aku, yuk," ajak Riana setelah bersalaman dengan tim Maya.
Maya berpamitan pada mama kemudian mengikuti Riana, setelah timnya pulang.
"Kita mau ke mana?"
"Klinik langganan. Hari ini jadwalku," jawab Riana.
__ADS_1
Mendengar itu, Maya tersenyum tipis. Riana adalah perempuan modis yang pandai merawat diri. Berbeda dengan dirinya yang hanya mengandalkan bahan-bahan di dapur untuk merawat dirinya.
Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 10 menit dan Riana segera memarkir mobilnya di dalam halaman klinik.
...CLINIQUE DE BEAUTE...
"Itu bahasa perancis. Yuk, masuk," ajak Riana saat menyadari sahabatnya mengamati nama klinik di bagian depan bangunan. Maya mengangguk kemudian mengikuti Riana.
"Mbak Riana, mau kontrol, ya," sapa sang resepsionis yang Maya taksir berada di usia medio dua puluh.
"Iya, sekalian tolong buatkan kartu member untuk sahabat saya, ya. Nanti semua tagihannya atas nama saya," ujar Riana yang membuat Maya menoleh.
"Aku belum pernah kasih hadiah apapun, kan, May? Lagipula perawatan untuk gadis seumur kita nggak mahal, kok, nggak seperti untuk ibu-ibu," ujar Riana yang diakhiri tawa kecil.
"Tapi ...."
"Merawat diri juga bisa mengurangi stres, May."
Maksudmu, menghiburku? Maya kemudian tersenyum. Baiklah, kuhargai keinginanmu, Ri.
"Terima kasih," ucap gadis itu.
__ADS_1
Kedua sahabat itu kemudian diarahkan ke ruang konsultasi. Setelah bertegur sapa, Riana menceritakan tujuannya terkait Maya. Maya diajak menuju alat pemindai kulit wajah.
"Sebenarnya kulit Mbak Maya ini bagus. Perawatannya mudah karena tidak ada jerawat atau milia. Di rumah pakai apa, Mbak?" tanya Sherryl, sang dokter.
"Saya cuma pakai yang ada di dapur, Dok," jawab Maya. Dokter Sherryl tersenyum mendengarnya.
"Berarti saya hanya perlu memberi perawatan dasar, ya. Nanti facial dulu, ya, Mbak," ujar Sherryl kembali. Maya mengangguk.
Riana juga mengecek kondisi kulitnya dibantu oleh Sherryl. Setelah selesai mereka ke ruang facial. Maya menuruti arahan terapis yang ada. Kedua gadis itu kembali ke mobil setelah 2 jam di dalam klinik. Maya juga mengantongi beberapa tube skincare dasar.
"Selama ini aku pakai baru 3 bulan kemudian habis, May." Riana mencoba menenangkan Maya yang mungkin terpikir boros atau tidaknya mereka. Maya mengangguk. "Dan, kita merawat diri untuk diri kita sendiri, ya, May, bukan untuk siapapun." Riana melanjutkan. Maya tertawa kecil mendengarnya.
"Terima kasih banyak, Ri," ujar Maya akhirnya.
"Sama-sama, May. Sekarang kamu bisa lebih semangat proyeknya, skripsinya," jawab Riana. Maya turun ketika mobil Riana berhenti di dekat gang rumahnya.
...-bersambung-...
hai halo hai temans
kayaknya Maya udah nggak terlalu sedih, ya? entahlah. skripsinya tinggal sedikit lagi, semoga sidangnya lancar, ya, May.
__ADS_1