[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Perjalanan ke Balik Benua?


__ADS_3

"May, selamat, yaa." Riana sedang melakukan video call siang itu bersama Maya. Maya yang baru selesai berfoto tampak antusias menerima telepon dari Riana. "Cantik banget, kamu. Padahal nggak full make up," komentar Riana.


"Iya, cantik, ya, calon istriku." Herryl yang tiba-tiba muncul di belakang Maya agak membungkuk supaya wajahnya tampak oleh Riana.


"Dia masih suka main klaim kamu, May?"


"Sudahlah, Ri. Kacaunya sudah akut, nggak tertolong lagi," jawab Maya kemudian.


"Ada manfaatnya, kan, kuajak ke klinik? Tanpa full make up juga kamu jadi cantik," ucap Riana.


"Klinik?" tanya Herryl.


"Klinik kecantikan langgananku."


Pantas saja kulihat dia lebih terawat. Terima kasih, Ri.


"Pantas saja jadi semakin cantik," gumam Herryl yang membuat Maya terdiam.


"Terima kasih," ucap Riana menggoda kedua temannya.


"Tapi, Ri. Nanti Maya ada yang suka gimana? Aku nggak bisa jaga dia setahun ke depan," keluh Herryl lagi. Maya mencubit lengan Herryl.


"Sudah, ya, May. Aku mau kerja dulu," ucap Riana sambil tertawa sebelum kemudian menutup sambungan teleponnya.


"Sebentar, foto berdua, yuk," ajak Herryl sambil mengetuk fitur kamera di ponsel Maya.


Setelah berfoto, mereka menghampiri kedua orang tua Maya untuk segera pulang.


...***...


"May, ikut aku, yuk." Herryl pagi ini mengajak Maya pergi bersamanya.


"Mau ke mana?" tanya Maya pada lelaki dengan polo shirt itu.

__ADS_1


"Pokoknya pakai baju terbaik kamu, ya. Aku tunggu, nih," ucap Herryl tanpa menjawab.


Baju terbaik? Cuma punya kemeja. Maya menuruti kemauan Herryl dan ia siap dalam 10 menit. Herryl menggandeng tangannya menuju mobil yang terparkir.


"Ma," sapa Herryl sambil membuka pintu penumpang.


"Sudah siap? Ayo masuk, Maya," sapa mama Herryl, Nyonya Anggi.


Eh?


Maya gugup ketika mengetahui bahwa dirinya sedang bertemu perempuan yang sudah melahirkan Herryl. Segera ia masuk ke dalam mobil, duduk, kemudian menyalami takzim perempuan cantik di usia yang tidak lagi muda itu.


"Apa kabar, Tante? Saya Maya," sapa Maya. Perempuan itu tersenyum kemudian mengusap rambut Maya.


"Baik, Maya. Herryl sudah banyak cerita tentang kamu. Yuk, kita berangkat. Sudah mulai siang, antrian bisa panjang nanti," sapa Nyonya Anggi.


Mobil kemudian melaju dengan kecepatan sedang.


"Tante, maaf, kita mau ke mana?" tanya Maya di tengah perjalanan.


"Paspor? Wisuda ... Herryl?" tanya Maya lagi, masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.


"Papa mamaku mau kamu ikut ke Oxford waktu aku wisuda, May. Kamu pasti mau, kan, lihat perpustakaan di sana?" ujar Herryl memperjelas yang akhirnya membuat mata Maya membelalak. Maya menatap perempuan yang tersenyum di hadapannya.


"Iya, Sayang. Kamu mau, kan?" tanya Nyonya Anggi sambil menggenggam tangan Maya.


"Apa nggak apa-apa?" tanya Maya. Perempuan di depannya menggeleng sambil tersenyum.


"Kamu lucu, ya. Persis yang Herryl ceritakan," komentar Nyonya Anggi melihat ekspresi Maya yang menggemaskan.


"Terima ... kasih, Tante," ucap Maya akhirnya. "Tapi, May belum izin sama mama dan bapak," ujar Maya kemudian.


"Aku sudah dapat izin itu, May, kemarin," sahut Herryl menenangkan.

__ADS_1


"Iya, Yil. Tapi nanti Maya biar bicara sendiri dengan kedua orang tuanya," pesan Nyonya Anggi memberi perintah pada anak kesayangannya itu.


Mobil itu berhenti di sebuah gedung abu-abu, Kantor Imigrasi Kelas 1 Tanjung Priok. Herryl mengisi data diri Maya yang sudah ia pegang sejak kemarin sementara gadis itu duduk bersama mamanya. Kemarin, Pak Sugeng, bapak Maya, sudah memberikan foto kopi KTP dan kartu keluarga Maya pada Herryl. Lelaki paruh baya itu apik dalam hal administrasi sehingga beliau menyimpan fotokopi berkas penting. Tujuannya tidak lain agar memudahkan saat dibutuhkan.


Setelah menunggu antrian, Maya dipanggil sesuai nomor ke loket yang dimaksud. Gadis itu menjawab beberapa pertanyaan singkat dari petugas sebelum akhirnya berfoto untuk keperluan paspornya. Setelah selesai ia mendapatkan lembaran berisi petunjuk pembayaran dan tanda terima.


"Sini, aku bayar dulu," pinta Herryl menyodorkan tangannya saat melihat Maya sudah keluar dari ruangan wawancara.


"Tapi ...."


"Aku yang ngajak, aku harus bertanggung jawab, dong," lanjut lelaki itu. Maya mengalah dan menghampiri Nyonya Anggi yang tersenyum menyambutnya.


"Maaf, Tante, saya merepotkan," ujar Maya menyesal.


"Nggak. Biar Herryl belajar berkorban untuk orang yang penting baginya," jawab Nyonya Anggi membuat Maya menatap mata perempuan itu. Ada cinta seorang ibu yang tulus di sana. Teduh. "Pakai uang dia sendiri ini," lanjut Nyonya Anggi sambil tertawa kecil. Akhirnya Maya mengetahui dari mana karakter usil Herryl diwariskan.


"Terima kasih," ujar Maya akhirnya.


"Sama-sama. Saya sudah mendengar tentang kamu. Herryl nggak salah memilih calon istri," komentar Nyonya Anggi. "Lain kali kita makan malam bersama, ya."


Maya menunduk malu. Ia dengan mudah diterima oleh keluarga Herryl.


"Sudah. Yuk, ke butik," ajak Herryl.


Butik? Apa tidak terlalu berlebihan?


"Iya, sekalian Mama mau lihat koleksi terbaru," jawab Nyonya Anggi.


"Butiknya punya mamaku, May," cerita Herryl yang semakin membuat Maya kebingungan. Kini mereka sudah berada di dalam mobil.


Setelah sampai di butik, Nyonya Anggi memilihkan pakaian untuk Maya. Tidak hanya untuk wisuda, tapi juga beberapa pakaian harian.


...-bersambung-...

__ADS_1


Lampu hijau dari keluarga Ardhiwijaya, nih, kayaknyaaaa. Yeay, Maya mau ke Oxford


__ADS_2