[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
The Uneasiness I Feel


__ADS_3

Hardi menelepon ke rumahnya untuk mendapatkan izin okasan (ibu) atas mobil keluarga. Tidak perlu menunggu waktu lama, Pak Kirman, supir pribadi Keluarga Shiratori, datang mengendarai Alphard hitam ke samping gerbang sekolah.


Meski sekolah Bonafid, SMA Angkasa dan Yayasan memberlakukan peraturan yang melarang seluruh civitas akademika SMA Angkasa untuk membawa mobil dan motor ke dalam lingkungan sekolah. Kendaraan yang boleh mereka bawa adalah sepeda dengan batasan harga maksimal 5 juta rupiah. Hal tersebut disesuaikan dengan konsep sekolah yang berbasis sosial. Dengan aturan tersebut, selain mengajarkan kesederhanaan, juga yang paling utama mengurangi ugal-ugalan siswa saat mengendarai mobil maupun motor. Ya, berkendara di saat usia belum 18 tahun berbahaya karena belum stabilnya psikologi mereka ketika di jalan, bukan?


Hardi membukakan pintu setelah memanggil Maya dan Riana melalui telepon. Ia juga mengabari Herryl akan kepergian Maya. Saat Maya sudah di depan mobil mewah itu dan tertegun, sebuah suara memanggilnya.


"May," panggil Herryl. Lelaki itu berjalan mendekat ke arah empat siswa kelas 3 itu.


"Maya pergi sama aku juga, Ryl," ujar Hardi mencoba menenangkan karena dilihatnya tatapan Herryl pada Adrian seperti kurang bersahabat.


"Iya, titip, ya," sahut Herryl sambil tersenyum pada sahabatnya. Kini ia sudah berhadapan dengan Maya yang menunjukkan wajah kesal.


"May bisa jaga diri sendiri," elak Maya ketus. Ia tidak suka dianggap anak kecil. Mendengar itu, Herryl tersenyum. Sedikit membungkuk ia menatap lekat gadis di depannya, membuat Maya agak mundur. Lagi, ia menepuk pucuk kepala Maya.


"Iya, kamu bisa jaga diri sendiri. Hati-hati, ya," ujar Herryl. Maya, Riana, kemudian Adrian masuk ke dalam mobil.


"Duluan, ya," ucap Hardi sambil menepuk bahu Herryl. Lelaki itu mengangguk dan menunggu mobil itu pergi.


Maya terdiam. Di satu sisi ia kikuk dengan mobil mewah ini, khawatir merusaknya jika bergeser sedikit saja. Di sisi lain, ia kikuk karena perlakuan manis Herryl padanya di depan Adrian. Maya menoleh ke belakang, kebetulan ia dan Riana duduk di kursi paling belakang. Dilihatnya sosok Herryl yang semakin jauh menatap ke arah mobil yang ia naiki. Dia menunggu sampai kami tak terlihat lagi?


"Kita ke mana, Yan?" tanya Hardi.


"Dunia Fantasi," jawab Adrian agak malas. Baru saja ia melihat adegan romantis, menurunkan moodnya.


"Kalau nggak semangat, kita nggak jadi, nih," ujar Hardi, menggoda Adrian yang ditengarai cemburu.


Adrian tidak menanggapi, malah mengambil kaleng minuman soda yang tersedia di dalam kulkas mini di depannya.


Mereka bisa sampai ke Dunia Fantasi hanya dalam waktu 15 menit karena jaraknya dari sekolah sekitar 6 km. Di tengah kota metropolitan dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi, waktu tempuh tersebut sangat standar.

__ADS_1


Adrian memesan tiket untuk mereka berempat. Tadinya ia mengajak Pak Kirman ikut serta, tapi beliau menolak. Akhirnya di gerbang ia menyerahkan tiket kepada petugas agar ia dan teman-temannya bisa memasuki kawasan Dunia Fantasi.


"Mau naik apa?" tanya Hardi. Adrian melihat Maya mengamati bianglala sehingga ide itu muncul di kepalanya.


"Bianglala. Mau, kan, May?" jawab Adrian meminta persetujuan Maya. Maya menoleh ke arah Adrian kemudian mengangguk. Riana diajaknya naik sehingga mereka berempat berada dalam satu gondola.


"Jadi inget kasus bom di elevator," ucap Maya.


"Oh, yang detektif Matsuda mati, kan?" tanya Adrian memastikan. Maya mengangguk.


"Bisa, nggak, kalian nggak ngomongin hal serem gitu sekarang?" tanya Riana menahan kesal. Maya dan Adrian sering tidak tahu situasi kalau membicarakan Conan. Masa iya lagi di taman bermain ketika seharusnya kita bersenang-senang mereka malah mikirin bom?


"Maaf, Ri," ucap Maya sambil memamerkan barisan giginya, nyengir. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela gondola. Pemandangan Kota Jakarta terlihat berbeda kalau dari atas. Mungkin suatu hari kuajak Herryl, batin Maya. Seketika ia terkejut sendiri dengan pikirannya. Kenapa Herryl?


"May. Bengong?" panggil Adrian. Maya terkesiap, malu karena ketahuan bengong.


"Habis ini kita makan di bawah, ya," ucap Hardi. Maya mengangguk. Riana tersenyum mengamati sikap Maya.


"Semoga cita-cita kita tercapai," ucap Maya dan diamini oleh ketiga temannya.


Waktu untuk pesawat Adrian take off sudah dekat. Selesai makan, Hardi menelepon Pak Kirman untuk menjemput mereka di depan gerbang Dunia Fantasi. Mereka berempat diantar Pak Kirman ke apartemen yang disewa Adrian untuk mengambil tas ransel berisi pakaiannya kemudian menuju bandara.


Adrian kemudian menuju area check in. Ia merasa lengannya ditarik. Saat ia menoleh, Maya sedang menarik lengannya dengan wajah menunduk.


"Aku pergi dulu, ya," ucap Adrian sambil tersenyum. Maya melepas tarikannya. Mereka bertiga melepas Adrian kemudian kembali ke mobil untuk pulang.


Sampai di rumah, Maya melihat Herryl dan Bapak berbincang di ruang tamu. Setelah salim dengan Bapak, Maya segera masuk untuk mandi dan ke kamar. Pintu kamar ia kunci karena sedang tidak ingin terlihat bahwa ia menangis. Adrian...


"Jadi besok begitu, ya, Pak. Pak Wimono beruntung punya driver kerjanya seperti ajudan," puji Herryl sambil tersenyum. Ya, baru saja ia dan ayah Maya membicarakan kegiatan esok hari yang akan dihadiri oleh ayahnya dan Pak Wimono, bos Pak Sugeng. Beberapa protokol harus Herryl jelaskan agar tidak ada kesalahan esok hari di lokasi acara.

__ADS_1


"Pak Ardhiwijaya juga beruntung punya anak pinter kayak Nak Herryl," balas Bapak memuji.


"Terima kasih, Pak," ucap Herryl tulus.


"Nduk, makan dulu," panggil Bu Rini sambil mengetuk pintu kamar Maya.


"Kenapa lagi, ma?" tanya Bapak mendengar ucapan istrinya. Herryl segera berdiri, menuju pintu kamar Maya. Ia mengangguk, Bu Rini mundur sedikit. Herryl mengetuk pintu kamar Maya.


"May, jangan terlalu larut sedihnya. Masih banyak tugas yang harus kamu kerjakan, kan?" pesan Herryl.


"Iya, May tahu," ketus terdengar jawaban dari dalam kamar. Mendengar itu, Herryl tersenyum.


"Ya udah, makan dulu. Atau kumakan bagianmu?" tantang Herryl lagi. Terdengar suara kunci pintu dibuka dan muncul Maya dari dalam kamar dengan muka masam.


"Itu makanan May, bukan buat kamu," jawab Maya sambil mendorong Herryl yang dirasa menghalangi jalannya. Ia menuju dapur untuk mengambil makan. Bu Rini hanya bisa geleng-geleng atas perilaku anaknya.


Herryl sedikit bergeser kemudian pamit pada keluarga kecil Maya.


"Saya pulang dulu, Pak, Bu," pamit Herryl sambil menyalami kedua orang tua di hadapannya.


"Hati-hati, Nak," jawab Bu Rini.


"May, aku pulang, ya," ucap Herryl kemudian.


"Ya," sahut Maya dari dapur. Herryl tersenyum. Mayanya telah kembali seperti biasa.


"Maaf, Nak, atas sikap Maya," ucap Bu Rini.


"Nggak apa-apa, Bu. Terima kasih atas jamuannya, saya permisi," jawab Herryl menenangkan. Kemudian ia meninggalkan rumah keluarga kecil tersebut.

__ADS_1


...-bersambung-...


sayonara, Adrian. Sikap Herryl kali ini manis terus ya ke Maya?


__ADS_2