![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Herryl mengetuk pintu kamar orang tuanya. Tidak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka.
"Herryl ke asrama dulu, Pa. Maya jetlag kayaknya, dia tadi muntah. Sekarang dia istirahat di kamarnya," ujar Herryl.
"Iya, ini pengalaman pertamanya, kan? Nanti biar Mama sama Papa yang urus Maya," usul Pak Ardhiwijaya.
"Nggak usah, Pa. Biar Herryl yang urus Maya. Dia tanggung jawab Herryl selama di sini. Nanti setelah Herryl ganti baju, Herryl ke sini lagi. Titip sebentar, ya, Pa," pinta Herryl. Bagaimanapun kedua orang tuanya juga perlu beristirahat.
"Baiklah. Jaga dia, Ryl," ujar Pak Ardhiwijaya sambil tersenyum. Lelaki itu bahagia melihat anaknya tumbuh menjadi lelaki yang penuh tanggung jawab.
...***...
Maya masih merasa badannya lemah saat ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"May, ini aku. Gimana keadaanmu?" tanya Herryl di balik pintu. Maya segera membukakan pintu.
"May cuma perlu istirahat, kok. Kamu juga istirahat, Ryl," jawab Maya.
"Kamu tanggung jawab aku, May. Nggak mungkin aku diam lihat kamu sakit begini. Aku bawa sup krim. Aku mau pulang kalau kamu sudah makan," ujar Herryl lagi. Lelaki itu masuk ke dalam kamar dan membuka mangkok sup tersebut, meletakkannya di meja.
Maya beringsut ke tempat tidur karena merasa tidak bertenaga. Herryl melihat itu segera membawa mangkoknya ke sisi tempat tidur.
"Buka mulutmu."
"Eh?"
"Aku suapi. Kamu mau sembuh, kan? Kamu mau lihat Radcliffe kan? Besok kuajak kalau kamu sembuh," bujuk Herryl. Maya hanya bisa menuruti karena ia merasa lapar dan ingin sehat.
"Maaf, May malah merepotkan," ucap Maya setelah isi mangkok itu tandas ia habiskan. Herryl tersenyum kemudian menepuk kepalanya. Lelaki itu meletakkan mangkok dan mengambil obat yang ia bawa.
__ADS_1
"Hitung-hitung latihan merawat istri kalau sakit," ujar Herryl.
"Herryl." Maya menegur lelaki yang semakin sering bicara nikah.
"Lho, kenapa? Nggak salah, kan?"
"Kamu begitu ingin menikah, Ryl?"
Pertanyaan Maya membuat Herryl tersenyum. Ditatapnya perempuan yang sedang sakit itu.
"Iya. Aku ingin kita tidak berbatas lagi, May."
Alis Maya berkerut.
"Maksud kamu?"
"Sekarang, prioritas kamu bukan aku, kan? Prioritasku juga bukan kamu. Kita masih dibatasi keluarga masing-masing. Kalau sudah menikah, nggak ada yang bisa membatasiku untuk menjadikan kamu tanggung jawab utamaku, begitupun kamu. Nggak ada yang melarang kita menjalani kesulitan bersama. Aku butuh penguatan tanpa batas, May. Akupun ingin menguatkan kamu. Itu, kan, sejatinya hubungan pernikahan?"
"Tinggal berbaikan, May. Kita bersama-sama memperbaiki kekurangan kita."
"Ryl ...," ujar Maya terputus. Gadis itu tidak dapat berkomentar apapun atas penjelasan Herryl. Lelaki itu ternyata tidak hanya memandang pernikahan dari sisi indahnya saja.
"Ini, paracetamol. Kamu bisa baca merk dan komposisinya," ucap Herryl sambil mengambilkan minum.
"Maksudnya?" tanya Maya heran karena Herryl menyuruhnya membaca komposisi obat tersebut.
"Takutnya kamu kira aku kasih obat aneh-aneh," jawab Herryl lagi. Maya tertawa kecil mendengarnya. Gadis itu meminum obat seperti anjuran Herryl. "Aku pulang, ya," lanjutnya.
"Ryl, terima kasih," ujar Maya. Herryl menepuk kepala gadis itu sebelum akhirnya ia keluar, menemui kedua orang tuanya di samping kamar Maya.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Nyonya Anggi.
"Sudah lebih baik, Ma. Mama Papa mau makan apa biar Herryl beli," jawab Herryl.
"Kami mau jalan-jalan sebentar, nanti makan di kafe saja. Kamu istirahat saja," tolak Nyonya Anggi halus yang dijawab anggukan kepala Herryl. Pemuda itu pamit untuk beristirahat di asramanya.
...***...
Maya menatap takjub bangunan yang ada di depannya. Kuno dan berkubah. Hamparan rumput hijau sebagai halamannya membuat Maya ingin memuaskan dirinya menghirup udara khas itu.
"Mau masuk?" Herryl menawarkan. Hari ini ia menjadi tour guide. Gadis itu mengangguk. Mereka kemudian masuk ke dalam bangunan berisi perpustakaan tersebut.
Kesibukan ala perpustakaan terlihat. Maya dibimbing menuju rak buku yang ia sukai, sastra. Maya menatap rak buku yang memenuhi setiap dinding ruangan itu.
"May I?" tanya Maya.
"Sure," jawab Herryl. Maya mengambil sebuah buku yang pernah ia baca: To Kill A Mockingbird. Buku yang belum pernah ia lihat di perpustakaan Universitas Angkasa tapi baru ia baca terjemahannya di Perpustakaan Nasional.
Gadis itu seperti tenggelam dalam gaya penulisan Harper Lee, terlalu asyik duduk di kursi terdekat. Herryl ikut mengambil buku lain yang lebih kecil. Sampai pada akhirnya suara perut Maya menginterupsi kegiatannya.
"Makan, yuk," ajak Herryl. Maya mengangguk dan meletakkan bukunya. Mereka berencana makan di kafetaria yang direkomendasikan oleh Herryl.
"Nanti kita ke Exeter, ya," ajak Herryl.
Ke Exeter College berarti ke asramanya juga?
...-bersambung-...
hai halo hai
__ADS_1
radcliffe camera kayak apa, ya?