![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Ma, Pak. Maya diajak ke Inggris sama Herryl dan orang tuanya," ucap Maya meminta izin malam itu.
Mendengar itu, mama menggenggam tangan putrinya.
"Boleh? Maya tadi diajak mamanya beli baju untuk wisuda," lanjut Maya kemudian.
"Jadi, mereka menerima kamu, Nduk? Alhamdulillah," ujar Bu Rini.
"Boleh, Nduk. Ada mamanya, kan?" jawab Pak Sugeng.
"Terima kasih, Ma, Pak. Maya juga harus izin sama tim Maya," ujar Maya kemudian.
"Nduk, pintar-pintar bawa diri, ya. Ada Pak Ardhiwijaya di sana."
"Iya, Pak."
"Paspornya kapan kamu ambil?"
"Tiga sampai lima hari lagi, Pak," jawab Maya.
"Alhamdulillah. Rezeki kamu, Nduk, bisa melihat Inggris," ujar Bapak. Maya mengangguk.
...***...
"May, kamu mau ganti hp?" tanya Herryl siang itu sambil menimang-nimang ponsel milik Maya.
"Nggak, Ryl. Masih bagus. Aku juga mau beli pakai uangku sendiri," tolak Maya halus.
"Kamu nggak ngecek proyek?" tanya Herryl lagi yang melihat Maya sedang membaca buku. Oleh-oleh dari Herryl, Lord of The Rings versi bahasa asli. Bahasa Inggris yang indah pada tiap bagiannya.
"Besok. Hari ini May nggak ada agenda," jawab Maya kemudian.
"Kamu nggak mau pergi sama aku ke mana, gitu?"
"Nggak."
Jawaban Maya membuat Herryl merengek.
"May, aku lagi sama kamu. Masa dianggurin?"
__ADS_1
"Kamu maunya gimana?" tanya Maya. Herryl memanggil agar Maya mendekat.
"Kamu coba menghadap kiri duduknya," pinta Herryl. Meski belum mengerti maksud Herryl, Maya menuruti permintaan lelaki itu.
"Terus?"
Punggung Maya kini beradu dengan punggung Herryl.
"Kamu senderannya di punggung aku aja sambil baca," ujar Herryl.
Maya mengedikkan bahu tapi menuruti maunya Herryl. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hening dan hanya terdengar suara ketikan di keyboard laptop milik Herryl.
"Ryl."
"Hm?"
"May pengen ke museum Holmes."
"Boleh. Kamu bakal di Inggris seminggu, kok, sama mama papa."
Hening lagi.
"Ryl."
"Hm?"
"Kita memang mau ke Oxford, kan, May?"
"May pengen S2 di Oxford."
Herryl menegakkan punggungnya. Lelaki itu berbalik. Hampir saja Maya terjengkang akibat gerakan mendadak yang dilakukan Herryl.
"Nggak. Sebelum kita nikah, nggak boleh," tolak Herryl.
"Tapi ...."
"May, nanti aku keburu tua nungguin kamu. Lagipula banyak, kok, pasangan yang lanjut kuliah setelah mereka menikah. Nanti aku temani kamu di Oxford setelah kita nikah," jelas Herryl.
"Usaha kamu? Usaha papa kamu?"
__ADS_1
"Bisa remote, kok."
Maya terdiam.
"Kamu ragu?" tanya Herryl.
"May kepikiran mama bapak," jawab Maya. Herryl tersenyum.
"Kita bisa sering kunjungi mereka, May. Kamu S2 juga cuma setahun. Yang penting, kamu dapat izin dulu dari Bu Rini dan Pak Sugeng."
"Kamu nggak apa-apa kalau aku S2?" tanya Maya lagi.
"Kenapa?"
"Katanya, laki-laki itu rendah diri kalau pasangannya pendidikannya di atas dia."
Herryl menepuk kepala Maya.
"Aku juga S2, kan?"
"Tapi May S1 bisa ngimbangin kamu yang S2. Apa nanti kalau May S2 kamu bisa mengimbangi May?" tanya May seolah meledek Herryl.
"Kamu mulai jumawa, ya?" ledek Herryl.
"Bicara fakta, sih," sahut Maya lagi. Gadis itu sudah kembali ke jiwa kompetisinya. Herryl tersenyum.
"Lagipula sebenarnya bukan tingkat pendidikannya yang dimaksud, May. Lebih kepada wawasan, pola pikir. Kami, kan, butuh teman bertukar pikiran. Begitu maksudnya," jelas Herryl sambil menepuk kepala Maya. Maya mengangguk.
"Kamu pintar, ya, Ryl, sekarang," ujar Maya.
"Aku, kan, harus pantas buat kamu," jawab Herryl yang tanpa sengaja membuat pipi Maya merona.
"Aku lanjut kerja dulu, ya. Sini, senderan lagi. Besok kita ambil paspor," ujar Herryl. Maya menuruti keinginan Herryl. Ia membaca buku sambil sesekali menyeruput jus alpukat yang dibawakan Herryl.
...-bersambung-...
hai halo hai
terima kasih, ya, sudah mau menyimak kisah Herryl dan Maya. Kira-kira Herryl harus menunggu Maya lagi, nggak, ya?
__ADS_1