
"Maafin Rani bang, tapi sebaiknya kita tidak saling mengenal dulu." gumam Rani.
Rani merasa belum siap untuk kembali bertemu, dia ingin Andi mengenalnya sebagai orang lain dulu, Rani ingin melihat Andi seperti apa.
Pagi yang dingin membuat mereka yang tidur merasa berat untuk beranjak bangun, alarm dari hp masing-masing masih terus berbunyi dengan beragam nada. Suara Riuh orang bernyanyi diluar membuat mereka bangun dan segera bersiap-siap. tidak ada lagi bangun pagi langsung makan, sekarang begitu bangun langsung masak. mereka mulai menyadari kedepannya hidup mereka harus mandiri tidak lagi bergantung pada orang tua.
Setelai mandi dan shalat subuh mereka langsung kedapur untuk memasak, semua keperluan dapur sudah dipersiapkan dari kota sebelum mereka kesana. Setelah sarapan semuanya bersiap untuk kesekolah bersama. Saat keluar rumah Rani kembali melihat Andi yang lagi memimpin apel didepan pos.
"Setahun kedepan abg gak hubungi aku gak papa, karena setiap hari aku melihatmu, seperti pagi ini." batin Rani.
Sampai mereka disekolah, ternyata masih sepi hanya beberapa anak yang nampak bermain dihalaman sekolah. sepuluh menit kemudian baru datang para guru dan anak-anak yang mulai ramai. ternyata walau sekolahnya didaerah terpencil tapi mereka lumayan ramai. Kepala sekolah dan dewan guru yang lain telah hadir dan selanjutnya mereka berkenalan dengan rekan kerja mereka yang baru.
"Ahhh... hari yang melelahkan, bangun pagi, masak, jalan kaki pulangnya juga jalan kaki, aduhhh... kakiku mulai lecet nih." keluh Melati
__ADS_1
"Hehehe... dah tau jalan kaki ngapain pake sepatu tinggi?" tanya Putra
"Gak ada sepatu lain, dah biasa pake heels." jawab Melati sambil tersenyum. Jalan yang mereka lalui bukan aspal licin sehingga pemakai sepatu tinggi akan susah melewatinya.
Tiba dirumah mereka langsung merebahkan badannya yang terasa sangat lelah. Rani bergegas kedapur untuk mandi dan ganti pakaian. Badannya benar-benar lengket oleh keringat. setelah makan siang kelima guru tersebut berkumpul diruang tamu untuk mendiskusikan beberapa hal yang saat ini mereka butuhkan.
"Kita butuh meja nih, gak mungkin kita selesaikan RPP disekolah, walaupun itu dibuat untuk sekali pertemuan tapi tetap aja kita butuh kerja ektra untuk menyelesaikan dirumah, jadi gimana kalo kita minta buatin sama bapak-bapak dipos, mereka pasti ahli dalam hal gituan dan sepertinya mereka punya stok kayu serta perlengkapan." Adam angkat bicara.
"Kita memang butuh bangat nih, tapi siapa yang mau kesana buat minta tolong?" tanya Dewi.
"Ya udah boleh juga, jadi kapan kesitu?" tanya Melati
"Sekarang aja sambil kita silaturrahmi juga kesitu." jawab Adam.
__ADS_1
"Oke, gini aja ya gak apa-apa kan?" tanya Dewi dengan polosnya
"Ya ampun siapa yang peduli sama penampilan kita disini? gak ngaruh buat mereka." jawab Rani.
"Eitsss,,, jangan salah bapak-bapak tentara tuh laki-laki juga pasti mereka suka lihat yang bening." jawab dewi.
"Udah deh gak pake ribet, mau kedepan aja pun, yok!" Adam mengakhiri perdebatan yang gak jelas.
Mereka pun sampai ke pos tentara, setelah memberi salam Adam menyapa tentara yang berjaga didepan.
"Maaf pak mengganggu, pak Andinya ada? tanya Adam
"Jangan panggil pak, tua banget dengarnya, panggil bang aja, silahkan masuk dulu saya panggilkan komandan dulu.
__ADS_1
Rani yang dari tadi memperhatikan setiap sudut ruangan itu, entah apa yang sedang dicari.