Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
S2...18


__ADS_3

Hai...Readers...


Yang mau talking2...bisa langsung gabung di Group Author ya....


Happy Reading...🥰


---------------------------


"Nak, bangun shalat dulu udah subuh." Ucap ibu sambil mengusap pipi Rani.


Tersadar dengan usapan sang ibu, Rani begitu kaget ketika membuka mata, tampak Andra tertidur diatas dadanya.


"Buk, ini gimana pindahinnya?" Tanya Rani masih dengan suara khas bangun tidur.


"Kamu miring kekanan pelan-pelan."


Dan...berhasil. Andra tidak terbangun saat badan Rani mengarah kesamping.


"Shalat dulu ya, ibu sudah barusan."


"Iya buk."


Ibu Yogi termasuk ibu-ibu yang cekatan untuk urusan dapur, setelah shalat subuh beliau sudah terjun ke dapur. Rani yang sudah terlihat segar keluar dari kamar ikut terjun kedapur.


"Kok sepi buk?"


"Yang lain dah ke mesjid, kamu mau minum teh?" Tanya ibu, melihat Rani memanaskan air.


"Enggak buk, Rani minumnya air hangat begitu bangun, kalo teh kan kurang sehat."


"Pantes badan kamu langsing begini gak ada lemaknya." Ucap ibu sambil tertawa.


"Makasih buk, atas pujiannya, Rani memang bangga sekali sama badan Rani ini."


"Ada-ada aja anak sekarang jaman sekarang, ibu udah buat kopi buat bapak sama Yogi, kalo Putra sama Irvan minum kopi juga gak?"


"Minum dong buk, selain terkenal dengan banyaknya mesjid, Aceh juga terkenal dengan banyaknya warung kopi, aneh kalo ada anak Aceh gak minum kopi."


"Iya ya? Mereka tuh gampang buk, semua masuk mulut, yang penting ada rasa aja."


"Assalamualaikum." Ucap para lelaki serentak.


"Walaikumsalam, udah pulang, ayo ngopi dulu atau langsung sarapan?" Tanya ibu.


"Sarapan dulu buk, bapak udah lapar nih."


Mereka sarapan bersama, Andra masih terlelap dikamar. Jam 7.30 Yogi juga sudah berangkat dinas.


"Buk, kalo ke Bank jauh gak dari sini?" Tanya Putra.


"Gak seberapa jauh, mau ke bank ya?"


"Iya buk."


"Nanti aja, tunggu Yogi pulang ya? Biar sekalian diantar."


"Jangan buk, takutnya lama, kalo bang Yogi tunggu kami."


"Naik motor aja yok, sekalian kita putar-putar daerah sini!" Ajak Rani.


"Eh, jangan, nanti Yogi marah, ibu sama bapak aja gak boleh naik motor, padahal motornya masih baru, ya kan pak?"


"Sudah buk, mungkin dia masih trauma dengan kejadian Mela, kalian jangan naik motor ya? Tunggu Yogi, sebentar lagi dia pulang."

__ADS_1


Suara tangis Andra dikamar menghentikan obrolan mereka. Ternyata anak itu sudah bangun.


"Mama."


"Iya, nih mama, yok!" Ucap Rani sambil merentangkan tangannya.


Dengan tertatih sampai jatuh beberapa kali dikasur menuju kearah Rani.


"Buk, ini dimandiin dulu atau gimana? Rani gak ngerti." Tanya Rani pada ibu yang tengah merapikan tempat tidur.


"Iya mandiin aja, nanti ayahnya pulang udah ganteng dia."


"Rani gak ngerti caranya."


"Sini biar ibu ajarin."


Dan pembelajaran pertama memandikan bayipun dimulai. Sang ibu dadakan cukup tegang memegang bayi yang malah asik bergerak sambil tertawa kecil. Ternyata Andra sangat menyukai air.


Setelah selesai, pembelajaran selanjutnya, mengeringkan badan bayi diikuti dengan beraneka ragam minyak dan bedak. Yang terakhir adalah memakaikan pakaian bayi lengkap dengan popok.


"Wah, dah bisa nih jadi ibu." Ledek ibu.


"Ibu guru." Ucap Rani.


Mereka keluar dengan wajah si bayi terlihat berbinar dan bahagian.


"Wah, cucu kakek udah ganteng aja nih, sini kita jalan-jalan diluar sebentar biar kena matahari." Ucap bapak sambil menggendong cucunya.


Diruangan tersebut kini hanya tinggal Rani, Putra dan Irvan.


"Eh, kalian gak ngirim uang? Bentar lagi Meugang?" Tanya Putra.


"Iya, ngirimlah, jadi tunggu bang Yogi?" Jawab Rani


"Eh, Put, sebaiknya kita pulang deh, aku gak enak lama disini, apalagi kita sampe bertiga dirumah orang, sodara juga bukan, loe pesan tiket deh." Ucap Rani.


"Iya, Rani benar, kita pulang aja." Ucap Irvan.


"Nah, dek Pan aja setuju sama gue, udah ya, loe cari alasan apa aja, pokoknya kita harus pulang ke Ponti!"


"Iya, nanti gue ngomong sama bang Yogi." Jawab Putra.


"Assalamualaikum." Ucap Yogi membuat mereka terkejut.


"W..walaikumsalam." jawab mereka serempak.


"Bapak bilang kalian mau ke bank?"


"Iya bang, tapi."


"Yok, abang antar sekarang!" Belum selesai dijawab, Yogi langsung mengajak mereka.


Tampak hening didalam mobil.


"Bang, besok kami berencana balik ke Ponti." Ucap Putra pelan.


"Kenapa?"


"Ada beberapa hal yang perlu kami urus untuk persiapan tahun ajaran baru." Jawab Putra beralasan yang entah dari mana alasan itu muncul.


"Besok weekend, kebiasaan tiket mahal, gak tunggu senin atau selasa aja?" Ucap Yogi.


Tappppp...

__ADS_1


Saran yang Yogi katakan tepat sasaran, sehingga mau tidak mau mereka harus mengikutinya. Dan rencana pertama untuk pulang alias menghindari situasi canggung ini gagal total gara-gara weekend.


Setelah selesai, mereka kembali memasuki mobil.


"Kita belanja sebentar ya, susu Andra mau habis." Ucap Yogi.


"Oke bang." Jawab Putra.


Rani merasa tidak nyaman berhadapan dengan Yogi, melihat Yogi seakan ada Mela disampingnya. Situasi canggung memang tidak nyaman.


"Bang, kami kesana dulu ya." Ucap Rani sambil melirik Putra, sementara Irvan hanya mengikuti saja tampa bantahan.


"Put, gue udah gak tahan lebih lama dengan sikon kayak gini. Ibu bang Yogi selalu minta gue jadi mama Andra, sementara loe lihat sekarang bang Yogi kayak apa? Gue gak mau terlibat lebih jauh, jadi lebih baik kita pulang."


"Sabar, 2 hari lagi kita pulang, eh, tunggu, itu kayak siapa ya? Coba lihat!" Ucap Putra menunjukkan arah.


Rani sangat terkejut begitu mengikuti arah yang ditunjuk Putra.


"Bang Andi." Ucap Rani.


"Wah, dunia ini benar-benar sempit ya?" Seloroh Irvan.


"Kita lupa sekarang lagi dimana? Ini kan daerah main dia." Ucap Rani.


"Tapi bang Yogi bilang bang Andi udah pindah ke Samarinda." Jawab Putra.


"Yahhh... Samarinda Balikpapan dekat kali Put."


"Terus gimana nih, gue gak mau ketemu, bisa gawat kalo dia lihat gue." Jawab Rani sambil berbalik arah.


"Jangan geerrr...siapa tau dia gak kenal lagi sama elo." Ucap Putra.


"Put, serius ya, gue gak mau ketemu dia, dia bisa gak kenal sama gue, tapi dia kan lihat wajah loe."


"Siapa tau pertemuan kali ini kalian langsung nikah."


"Putra, stop ya. Yok Pulang."


Putra dan Irvan berbalik mengikuti Rani. Tampa barang belanjaan, Putra dan Irvan berbalik arah mengikuti Rani yang sibuk mencari jalan keluar.


"Elo aneh buk, sama bang Yogi ogah, sama bang Andi ogah, sama siapa juga lu yang iya?" Ucap Putra.


"Sama elo boleh?" Tanya Rani.


"OGAHHHHH." Jawab Putra.


Mereka semua tertawa mendengar becandaan garing ditengah supermarket.


Melihat Yogi keluar dari kasir, mereka langsung berlari seperti anak-anak yang baru melihat bapaknya yang hilang.


"Kalian dari mana? Belanjaannya mana?" Tanya Yogi melihat tidak ada kantong belanjaan satupun ditangan mereka.


"Hehehe...gak ada barangnya." Jawab Rani.


"Kita cari ketempat lain?" Tanya Yogi kembali.


"Gak usah bang, kita pulang aja, bentar lagi jumat." Jawab Putra.


Saat hendak berjalan keluar, tiba-tiba ada yang memanggil.


"Yogi."


Seketika semua berhenti, Yogi langsung berbalik arah dan tersenyum melihat siapa yang memanggil, sementara Rani dan kedua temannya mematung tampa menoleh kebelakang.

__ADS_1


__ADS_2