
"Dek, besok kamu ngajar? Abang mau dimasakin kamu boleh?" Tanya Andi
"Besok adek libur, abang mau makan apa?"
"Ayam masak aceh gimana? Yang lain juga pasti suka? Gimana?"
"Masak di pos atau dirumah?"
"Dipos aja gimana? Ajak yang lain juga biar kamu gak sendiri"
"Ya udah besok kami kemari"
"Makasih sayang"
"Your welcome"
"Kamu pelit sekarang"
Rani terkejut mendengar Andi mengatainya.
"Hei... maksud anda apa Big Bos?"
"Iya, dulu waktu kita pertama ketemu, kamu banyak ngomong, sekarang kamu pelit bicara sama abang singkat-singkat"
"Hahahaha... iya ya???"
"Nah itu tuh..."
"Nanti deh kalo kita sudah nikah, Rani ngomonv banyak-banyak biar abang puas"
"Kalo udah nikah abang gak butuh banyak omongan tapi aksi"
"Hahahaha.... betul sekali..."
Acara malam itupun berakhir, jam 12 malam Rani dan teman-temannya kembali ke rumah.
Keesokan harinya, setelah Mela dan Adam berangkat kesekolah, Rani, Dewi dan Putra pergi ke pos. Sampai disana mereka sudah dihadapkan dengan banyaknya ayam yang sudah dipotong dan dibersihkan, Rani tinggal meracik bumbu khas daerahnya.
Mereka segera mengeksekusi ayam yang lumayan banyak. Saat tengah mengaduk ayamnya, Andi tiba-tiba datang dan berdiri dibelakang Rani, dan saat Rani berbalik badan betapa terkejutnya dia melihat Andi didepannya dengan jarak cukup dekat.
Cup....
__ADS_1
Sebuah ciuman tepat dikening Rani. Dewi yang melihat adegan itupun terkejut, sedangkan Putra yang sudah tau terlihat biasa saja.
Rani yang mendapat ciuman tiba-tiba bukannya senang, malah gelisah karena Dewi pasti melihatnya.
"Abang, bak bisa jaga tempat, ada Dewi tuh" bisik Rani.
Andi tersenyum dan berbalik badan menatap Dewi.
"Dewi..." panggil Andi
Dewipun kembali menoleh kearah Andi.
"Rani itu cinta pertama saya, kata-kata saya tadi malam semua untuk dia, kamu mengerti kan kenapa kami menutupinya dari kalian, kecuali Putra?" Ucap Andi yang diangguki Dewi.
"Abang, kedalam dulu ya?"
"Iya, setelah abang menyalakan api, sekarang abang nyuruh Rani yang matiin apinya, enak banget hidup abang" ucap Rani kesal karena harus menjelaskan panjan lebar pada Dewi.
Andi kembali masuk, dan benar saja Dewi meminta penjelasan padanya. Akhirnya Rani menceritakan semuanya kepada Dewi.
"Pantes lo biasa aja lihatnya ternyata oh ternyata? Kalian pandai banget rahasian ini dari kita" ucap Dewi geleng-geleng kepala.
"Iya, aman tuh" ucap Dewi kembali
Setelah selesai memasak, Rani juga membuat es mentimun yang segar karena cuaca hari ini sangat panas. Saat Rani lagi memasukkan gula, Andi datang lagi.
"Jangan banyak-banyak gulanya, yang buatnya udah manis" ucap Andi ditelinga Rani.
"Abang mau" ucap Andi menyodorkan gelasnya.
"Ini" ucap Rani menyerahkan satu gelas penuh es mentimun. Andi segera mengambilnya dan lagi-lagi dia berhasil mencium pipi Rani yang membuat Rani terkejut sekaligus kesal.
"Sekali lagi abang berani, aku pulang gak bakal kemari lagi" ucap Rani kesal.
"Maaf, jangan marah ini hari terakhir abang dekat sama kamu, masak gitu aja kamu marah" ucap Andi.
"Huftttt.... udah sana, jangan kemari lagi" ucap Rani.
Setelah menyelesaikan semuanya diatas meja, Rani kembali duduk sama Dewi dan Putra. Mereka saling cerita dan tiba-tiba Andi ikut duduk disamping Rani.
"Gimana Dewi? Apa kami pasangan serasi?" Ucap Andi yang tiba-tiba menaruh dagunya dibahu Rani.
__ADS_1
"Hah..." Dewi terkejut melihat tingkah Andi yang tidak seperti biasanya.
"Bang, jangan aneh deh, biasa aja oke!" Ucara Rani kesal sambil menggeser duduknya.
"Dek, nanti kalo abang telpon kamu angkat ya?" Tanya Andi lagi.
"Iya, kalo aku gak sibuk" ucap Rani
"Terus jangan dingin lagi sama abang, apa perlu abang hangatin?" Ucap Andi merentangkan tangannya.
"Yeee... ngarap,,," ucap Rani singkat sambil geleng-geleng kepala. Sementara Putra dan Dewi menjadi penonton setia melihat tingkah dua manusia aneh didepan mereka.
"Dek, cewe biasanya kalo mau pisah sama pacarnya pasti sedih, nangis, terus habisin waktu berdua, mesra-mesraan, kamu kok gak?" Tanya Andi kembali.
"Lebayyy... biasa aja, kan sebelumnya kita juga pisah, emang cewe mana yang nangisin abang?" Selidik Rani.
"Bukan cewe abang, cewe teman-teman abang waktu mereka nganterin dipelabuhan, sebelum berangkat mereka peluk-pelukkan, sayang-sayangan, pokoknya mesra banget" ucap Andi tersenyum.
"Abang mau?" Tanya Rani.
"Mau banget" jawab Andi
"Tuh sama ayam" jawab Rani menunjuk kekandang ayam.
Sontak semua yang mendengar percakapan mereka tertawa, termasuk Affan dan beberapa prajurit lainnya.
"Benar nih ya? Kamu jangan cemburu lho kalo nanti abang peluk tuh ayam" ucap Andi.
"Oho...saya persilahkan dengan segala hormat abangku tersayang" ucap Rani dengan penuh aksi.
"Ehemmm,,,"
"Abangku sayang" ucap Affan tersenyum.
"Kalian ini,,, gimana dek, dah siap? Kami sudah lapar nih" ucap Affan
"Beres bang, coba icip dulu mungkin ada yang kurang" jawab Rani.
"Gak usah, abang yakin pasti enak, selera Andi memang tinggi" ucap Affan tersenyum.
Mereka kemudian melanjutkan makannya, sementara Rani duduk menikmati setiap orang yang sedang menyantap masakannya. Rani tersenyum puas, karena kebahagian saat kita memasak adalah ketika orang yang makan tampak senang dan menikmatinya dengan lahap.
__ADS_1