Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
Tamu Tak Terduga...


__ADS_3

Acara dibalai desa sudah dimulai, kepala desa dan kepala suku sudah memperkenalkan anggota baru kepada masyarakat. Setelah 1 jam acara selesai. Seperti biasa masyarakat menyambut dengan membawa beberapa makanan yang disajikan dimeja.


"Tuhhh, ada makanan" ucap Putra sambil mengarahkan mulutnya.


"Hehehe...." Dewi hanya membalas dengan ketawa kecil.


Saat mereka asik makan singkong rebus, Andi dan dan Danru baru menghampiri mereka.


"Yang lain gak ikut Putra?" Tanya Andi


"Mereka ada kelas bang, cuman kami yang libur" ucap Putra.


"Kenalin ini Danru baru pengganti abang" ucap Andi memperkenalkan orang disampingnya.


"Saya Affan" ucap Danru baru tersebut sambil mengulurkan tangan.


"Saya Putra dan ini Dewi" jawab Putra sambil membalas uluran tangan bang Affan.


"Masih lama disini?" Tanya bang Affan


"8 bulan lagi, insya Allah" jawab Dewi.


Setelah beberapa saat, mereka kembali kerumah. Para tentara juga sudah kembali kepos. Saat ini Andi sedang berbincang dengan Affan. Andi menceritakan kondisi hubungannya yang harus dia rahasiakan dan sikap dingin Rani padanya.


"Gak nyangka dia bisa tegas begitu, padahal dulu waktu saya pertama kali telpon dia, sampe nangis dia karena kamu gak hubungin dia, mungkin ini balasannya karna dulu kamu cuekin dia" ucap Affan sembari tertawa.


"Iya juga bang ya, kalo diingat-ingat" ucap Andi lesu mengingat bagaimana sikapnya dulu.


"Nanti malam kita kesitu, kasih kejutan, diakan belum tau saya yang gantiin kamu" ucap Affan.


"Iya bang, sekalian kasih yang saya pesan kemaren" ucap Andi kembali.


Malam menjelang, setelah magrib seperti biasa mereka makan malam bersama lengkap dengan Putra dan Adam. Setelah selesai makan seperti biasa mereka menghabiskan waktu bercanda sambil menikmati cemilan sampai akhirnya suara dering Hp Rani berbunyi.


Rani_


"Hallo, Assalamualaikum"


Affan_


"Walaikumsalam, apa kabar dek"


Rani_


"Baik, Alhamdulillah, abang gimana?"


Affan_

__ADS_1


"Kamu keluar biar tau gimana abang"


Rani_


"Maksudnya?"


Affan_


"Kamu keluar dulu"


Rani_


"Apaain sih ngerjain ya?


"Kenapa Ran? Tanya Putra yang tak dijawab oleh Rani.


Ranipun keluar berdiri dipintu dengan tangan yang masih memegang Hp ditelinga.


"Bang Affan" ucap Rani mematung


Affan menutup telponnya, tersenyum kearah Rani.


"Udah taukan keadaan abang?, abang jauh-jauh kesini kamu gak menyuruh abang masuk? Ih... teganya...." ucap Affan.


Ranipun mempersilahkan mereka masuk.


"Bang Affan disini? Nih Danru baru gantiin bang andi" ucap Putra.


Rani masih bingung dengan kehadiran orang yang tidak pernah dibayangin sebelumnya. Dia masih berdiri melihat orang yang dihadapannya saat ini.


"Dek, abang datang jauh-jauh, kamu gak suguhin minum gitu buat nyambut tamu" ucap Affan membuyarkan lamunan Rani.


"Eh....iya mau minum apa? Air putih mau?" Tanya Rani.


"Yaelah buk, masak tamu dikasih air putih, buatin teh gitu, atau kopi, nanti dikira pelit lagi" ucap Dewi.


"Jangan nanti kena diabetes" ucap Rani berlalu kedapur.


"Abang sepertinya udah kenal sama Rani ya?" Tanya Dewi.


"Iya, dia tunangan sama teman saya" ucap Affan yang membuat teman-teman Rani selaun Putra terkejut.


"Rani udah tunangan? Kok dia gak pernah cerita ya?" Tanya Mela.


Rani yang datang dari dapur membawa 2 gelas kopi merasa aneh dengan tatapan tajam dari teman-temannya.


"Diminum bang, cuman ini yang ada" ucap Rani kembali melirik kearah teman-temannya.

__ADS_1


"Tega lo buk sama kita, lo dah punya tunangan gak cerita sama kita" ucap Mela.


Rani terkejut mendengar ucapan Mela.


"Kalo bang Affan gak bilang sampe kita pulang ke daerah masing-masing kita gak bakal tau" ucap Dewi.


"Kenapa kamu gak cerita dek sama mereka? Padahal tunangan kamu pangkatnya sama seperti abang juga" ucap Affan sengaja memojokkan Rani didepan Andi dan teman-temannya.


Andi hanya diam, sesekali menatap kearah Rani.


"Kan cuman tunangan, gak pentinglah untuk diceritain" ucap Rani memberi penjelasan.


"Saking gak pentingnya, cincinya aja gak kamu pakek dek" ucap Affan kembali memojokkan.


"Whattt... ada cincin juga? Iya kami gak pernah lihat, ambillah Ran, kami mau lihat juga" ucap Melati memelas.


Rani menghela nafasnya, kemudian masuk ke kamar mengambil kotak cincinnya.


"Nih" ucap Rani meletakkan kotak cincin didepan teman-temannya.


Dengan cepat mereka membuka dan takjub dengan yang dilihat.


"Biasa aja kali" ucap Adam


"Ihhh... sirik aja" ucap Mela diiringi tatapan tajamnya.


"Abang kemari nganterin ini" ucap Affan menyodorkan 2 kotak bingkisan yang dibungkus cantik.


"Apa ini?" Tanya Rani


"Anggap aja ini seserahan yang dibawa saat acara pertunangan, abang mewakili keluarga dan calon kamu nganter ini" ucap Affan.


"Buka dong Ran, kami kan penasaran, pengen tau rasanya dikasih seserahan gini" ucap Dewi.


"Kalian buka aja" ucap Rani tersenyum.


Tampa menunggu lama, mereka langsung membuka.


"Tas, sepatu, sandal,ba...." ucap Mela


"Itu ada dalaman juga" ucap Affan tertawa


"Hah...." ucap Rani dengan mata melotot.


"Itu bukan abang yang beli, istri Dodik sama Pengki yang beli, calon kamu cuman bilang ukurannya aja" ucap Affan tersenyum.


"Kok dia bisa tau ukuran elo buk?" Tanya Mela

__ADS_1


"Kan udah pernah dipeluk sekalian ngukur" ucap Affan yang membuat semua mata menatap Rani.


"Kalian jangan mikir yang bukan-bukan, bang Affan stop ya, jangan bilang yang aneh-aneh" ucap Rani kesal.


__ADS_2