
"Dek,,, bangun dah sore." ucap Andi sambil mengusap pipi Rani.
Rani yang menyadari Andi berada di kamarnya langsung bangun.
"Kenapa abang disini?" Tanya Rani yang melihat kearah pintu kamar terbuka.
"Kak Ira sama bang Udin dah keluar, kamu belum shalat, makanya abang bangunin. Sekalian mandi juga ya biar kita jalan-jalan bentar selagi masih disini." ucap Andi sambil berlalu keluar kamar.
Andi menunggu Rani diruang tamu, sampai akhirnya Rani keluar.
"Yok, kita keluar, ini kan hari minggu." ucap Andi menarik tangan Rani keluar rumah.
Mereka akhirnya menikmati suasana berdua layaknya orang pacaran. Dilain tempat ada dua hati yang satu merasa sakit dan yang satu lagi merasa terabaikan.
"Duhhh... yang nunggu ditelponin Danru." seloroh Dewi
"Bang Andi kenapa ya? Belakangan ini dah jarang hubungin gitu, kalo aku sms pun dibalas sekedarnya gitu, aku ngerasa dia lain sekarang." curhat Melati.
"Ya elah,,, tunggu aja waktu dia pulang, besok dah pulang Putra bilang, lagian mungkin disana dia juga sibuk ngurus apa gitu kan gak lama lagi mereka selesai tugas." ucap Dewi.
"Yahhh,,, bener juga ya, gak lama lagi mereka bakal pulang, LDR nanti rasanya pasti gak enak, jadi pengen cepat-cepat kelar tugas nih biar bisa nikah." ucap Melati kembali.
"Sabar... gak lama lagi... LDR oke-oke aja kalo menurut aku, yang penting saling setia sama saling percaya aja, seperti aku." ucap Dewi penuh percaya diri.
"Ya taulah yang lagi LDR." ejek Melati
"Hehehe..., udah telpon Rani?" Tanya Dewi
"Udah, tapi gak diangkat, Putra lagi di bengkel sama bang Dimas." jawab Melati
"Jadi Rani tinggal sendiri dibarak?" Tanya Dewi
"Gak tau juga, belum sempat tanya dah ditutup telponnya sama Putra." ucap Melati.
"Aneh... ya udahlah kita tunggu besok aja." ucap Dewi.
Lain halnya dipos desa, Pratu Yogi sedang serius berbicara ditelpon dengan Pratu Dimas.
Pratu Dimas_
"Kami semua dengar bang waktu Danru nyebut Rani sebagai calon istrinya, tadi waktu dipasar Danru terus memegang tangan Rani, tapi kalo kami lihat, sepertinya Rani gak tampak seperti orang lagi senang, gak taulah bang apa yang terjadi dirumah kerabat Danru, yang penting abang dah tau situasinya sekarang."
Pratu Yogi_
"Ya udahlah mungkin bukan jodoh saya, kalo seperti itu saya hanya bisa mendoakan saja."
Pratu Dimas_
__ADS_1
"Iya bang, yang sabar ya."
Pembicaraan ditelpon akhirnya berakhir menyisakan duka dihati Pratu Yogi yang mengetahui Rani sudah menjadi calon istri Danrunya sendiri.
"Mungkin kamu hanya akan jadi kenangan dek, tidak akan jadi nyata untuk masa depan abang, semoga kamu bahagia." gumam Pratu Yogi dalam hati.
Sementara dilain tempat sepasang kekasih sedang menghabiskan sore disebuah cafe.
"Kamu kenapa dek? Kok diam aja." tanya Andi
"Ada yang mau aku bicarain." ucap Rani
"Mau bicarain apa? Serius banget." jawab Andi
"Kita udah tau perasaan masing-masing, tapi Rani minta cukup kita yang tau dan gak usah abang nampain didepan anggota abang ataupun kawan-kawan seperti tadi dipasar." ucap Rani.
"Kalo ada perlu cukup telpon aja, dan jaga tingkah abang, jangan berlebihan, aku gak suka, gimana bisa." tanya Rani kembali.
"Iya, abang usahain oke, tapi untuk sekarang bisakan kita menikmati masa pacaran yang tertunda? Cuman sekarang waktu yang abang punya buat dekat sama kamu." ucap Andi yang tiba-tiba menggenggam tangan Rani.
Rani menatap Andi saat tangannya dipegang, ada perasaan bersalah mengingat Melati dan Pratu Yogi disana. Orang yang diingat pun akhirnya menelpon.
Melati_
"Hallo buk lagi ngapain? Aku telpon tadi gak diangkat kemana aja?"
Rani_
Melati_
"Gak ada tanya aja, tadi telpon Putra dia lagi dibengkel katanya, elo sendiri buk dibarak?"
Rani_
"Hah...oh iya gak papa, oh ya semua pesanan dah beres, ada lagi yang mau nitip biar sekalian mumpung belum pulang."
Melati_
"Nitip Danru boleh???"
Rani_
"Hah... emang barang nitip-nitip"
Melati_
"Nitip jagain gitu, jangan didekatin sama cewe-cewe genit."
__ADS_1
Rani_
"Beuhhhh... kalo itu mah tergantung orangnya, cowo itu kalo aslinya genit biar dekat sama kitapun tetap bisa genit sama yang lain, mau dijaga gimanapun ya gak akan berubah."
Melati_
"Iya juga ya, contohnya bang Yogi, selama gak ada elo gak pernah main kesini, tapi kalo ada elo bentar-bentar kesini."
Rani_
"Hahahah... itu mah dia ada perlu."
Melati_
"Iya, perlu sama elo gitu."
Rani_
"Hahaha... ada-ada aja."
Melati_
"Eh buk, selama lo disana bang Andi ngapain aja? Ada jumpa sama cewe-cewe gitu gak?"
Rani_
"Hah... kok nanya ke aku? Tanya langsung aja sama orangnya?"
Melati_
"Hmmm,,, dia tuh cuek banget sekarang, pesan aku jarang dia balas, aku ngerasa dia aneh deh belakangan ini."
Rani_
"Kalo itu aku gak tau juga, bagusnya elo tanya langsung sama orangnya nanti waktu dia pulang, jangan mikir macam-macam, oke."
Melati_
"Iya, Dewi juga nyaranin gitu, ya udah kutunggu kepulangan kalian, dah ya..."
Rani menghela nafas panjang menatap datar ke arah Andi begitu telpon terputus.
"Jangan begitu ke Mela, kasihan dia." ucap Rani
"Jadi abang harus gimana? Abang gak mau kasih harapan lagi ke dia." jawab Andi
"Setidaknya abang balas kalo dikirim pesan." jawab Rani kembali.
__ADS_1
"Kadang abang balas, tapi kalo lagi sama kamu masak abang smsan sama dia, kan aneh." ucap Andi.
Rani kembali menghela nafas panjangnya, jawaban Andi tidak sepenuhnya salah dalam hal ini. Langit sore sudah berubah menjadi gelap, tetapi mereka memilih berada diluar saat ini.