Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
S2...20


__ADS_3

Cafe x...


Disebuah meja sedikit kepojok, sepasang anak manusia dengan berbeda perasaan duduk berhadapan setelah beberapa tahun terpisah. Sementara dimeja lainnya Yogi berasama Putra dan Irvan juga tengah menikmati obrolan santai.


"Ada apa tiba-tiba ngajak ketemu?" Tanya Andi dengan raut wajah datarnya.


Rani menghela nafasnya sesaat, sosok didepannya ternyata sudah berubah, sosok yang hangat kini menjadi dingin.


"Saya mau minta maaf, kalo saya pernah menyakiti hati abang, saya juga mau minta maaf karena telah mengecewakan abang, dan saya juga mau minta maaf karena kemaren saya berbohong. Saya belum menikah, pernikahan kami batal karena saya ke Pontianak, menjadi guru disana. Selama ini saya banyak menyakiti hati orang termasuk abang, jadi malam ini saya ingin minta maaf, dan mengakhiri hubungan ini dengan baik."


"Wow, sepertinya sudah jadi kebiasaan setiap kita bertemu kamu selalu memberi kejutan yang tidak saya sangka."


"Maaf."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, permainan kamu sangat sempurna, kamu bisa jadi sutrada film dengan bakat kamu ini."


"Maaf." Rani terus mengucapkan maaf sambil menunduk.


"Sudahlah, apa masih ada yang ingin kamu katakan sebelum saya pergi?"


Seketika Rani mengangkat wajahnya menatap Andi. Lelaki ini benar-benar berubah.


"Tidak, sekali lagi maaf, terima kasih atas waktunya, dan maaf karena telah mengganggu abang, saya pamit." Ucap Rani bangun dari duduknya.


Andi masih terdiam ditempat, sementara Rani sudah berlalu pergi dengan Yogi dan kedua temannya.


"Sudah selesai Bang, benar-benar selesai, Put, pesan tiket lusa, kita pulang, aku dah gak tahan disini." Ucap Rani sambil memegang dadanya yang terasa perih sambil menahan tangis.


Diperjalanan, ternyata mobil tidak kembali ke asrama, Yogi membawa Rani ke pantai.


"Kok kita ke laut malam-malam?" Tanya Rani.


"Keluar dulu, kamu butuh udara segar."


Mereka semua keluar, duduk dipinggir pantai, menikmati ombak. Tidak ada kata yang terucap, tapi air mata yang dari tadi ditahan, akhirnya jatuh juga.


Yang lain masih terdiam, Rani membenamkan wajah kedalam dekapan lututnya. Dia menangis cukup lama, suara tangisnya tidak terlalu terdengar karena suara deburan ombak begitu kencang.


30 menit lebih Rani menangis, hingga tersadar ada tangan yang menyentuh pundaknya.


"Sudah cukup, apa kamu tidak lelah? Sudah malam, lebih baik kita pulang." Ucap Yogi.


Mereka kembali ke mobil, sama seperti tadi, tidak ada yang bicara hingga sampai kerumah.


"Assalamualaikum." Ucap Mereka.


"Walaikumsalam." Jawab Ibu dan bapak.


"Mama." Panggil Andra.


"Hai boy, mama bersih-bersih dulu ya, habis itu kita main." Rani bergegas ke kamar, mencuci muka dan mengganti pakaiannya.


Rani bermain dengan Andra sampai jam 11 malam, setelah membaringkan Andra, dia ikut merebahkan badannya disamping Andra. Hatinya terasa tenang, tidak lagi merasa sesak dan perih seperti tadi. Tampa terasa matanya juga ikut terpejam.


Sementara diluar, Yogi, Putra dan Irvan masih terjaga. Mereka memilih duduk diteras rumah sambil menikmati udara malam ditemani kopi.


"Apa kalian benar-benar mau pulang?" Tanya Yogi.


"Kan abang dengar sendiri tadi, kami sebenarnya pengen disini, lumayan suasana baru, ya gak dek Pan?" Ucap Putra.


"Iya, tapi lihat sikon Rani kayaknya gak memungkinkan bisa lama disini." Ucap Irvan.


"Sepertinya bang Andi benar-benar marah sama dia." Ucap Putra.


"Entahlah, abang juga bingung sama mereka, abang sekarang juga harus mikir gimana kasih pengertian sama ibu, kalo kalian gak bisa tinggal disini lebih lama."


"Kami juga gak enak sama ibu, tapi kami juga gak bisa buat apa-apa, kecuali ada keajaiban yang muncul dihati Rani." Ucap Putra.


"Besok siang Rani kembali ke Pontianak, saya hanya kasih info, siapa tau abang berubah pikiran, jangan sampai abang menyesal, kesempatan abang mungkin hanya tinggal besok." Isi pesan Yogi untuk Andi.


Yogi tidak memberitahukan rencananya pada Putra dan Irvan. Tidak ada balasan dari pesan yang dikirim, sampai mereka tidur Andi tidak kunjung membalas pesan Yogi.


Keesokan harinya...

__ADS_1


Mereka telah siap berangkat ke makam Mela.


"Ibu sama bapak ikut yok!" Ajak Rani.


"Kalian saja nak, ibu sama bapak mau istirahat, terasa sekali kalau kami sudah tua sekarang, entah gimana nih, gak lama lagi bulan puasa, sepertinya kamu harus cari orang jaga Yogi, bapak sama ibu rasanya cukup berat kalo ngurus Andra karena puasa." Ucap ibu lemah.


Tampa Rani sadari, ibunya Yogi tengah beraksi sesuai yang dibilang Yogi tadi pagi. Yogi yakin kalau Rani tidak akan tega melihat ibunya kesusahan.


Mereka sudah sampai di makam Mela.


"Assalamualaikum Bunda cantik, ini Andra datang tengokin Bunda, Andra kangen sama Bunda." Ucap Rani yang masih menggendong Andra.


"Panggil Bunda sayang." Pinta Rani pada Andra.


"Unda."


"Iya, pinternya anak bunda Mela, semoga loe tenang disana Mel, maaf gue gak bisa jaga Andra, insya Allah, bang Yogi sanggup jaga Andra, sekali lagi maaf Mel, andai Andra bisa gue bawa ke Pontianak, tapi kan gak mungkin gue misahin Andra sama ayahnya."


"Mama."


"Syucu."


"Eh, haus lagi? Sebentar ya, kita baca surat Al-fatihah dulu buat bunda."


Setelah berdoa, menyiram air serta menabur bunga diatas makam, mereka semua pamit pulang.


Saat sedang mengemudi, suara dering ponsel Yogi berbunyi. Setelah menepikan mobil, Yogi segera keluar untuk menerima telpon.


Yogi_


"Hallo, assalamualaikum."


Andi_


"Walaikumsalam, jam berapa mereka berangkat?"


Yogi_


Andi_


"Kamu tahan dia, sebentar lagi saya sampai."


Tuttttt.....


Yogi tersenyum penuh kemenangan sambil berjalan kembali ke mobil.


"Kenapa bang?" Tanya Putra.


"Ouh, Komandan abang, ada perlu sebentar."


"Ini kita mau kemana? Sepertinya bukan jalan pulang?" Tanya Rani.


"Kita jalan-jalan sebentar."


Yogi kembali mengemudikan mobil menuju bandara. 15 menit kemudian, mereka sudah sampai.


"Kalian turun dulu, tunggu di pintu masuk 3 ya?" Ucap Yogi.


Mereka menuruti omongan Yogi, sementara Yogi yang berada diparkiran, bertemu dengan Andi yang baru datang.


"Mereka dimana?" Tanya Andi cepat.


"Dipintu masuk 3." Jawab Yogi.


Andi segera berlari ke pintu 3. Langkahnya terhenti saat melihat Rani, Andra serta kedua temannya sedang berdiri seakan menunggu sesuatu.


Dengan nafas yang masih naik turun, Andi menghampiri Rani yang tengah menggendong Andra.


"Dek." Panggil Andi.


Rani dan teman-temannya ikut menoleh kearah suara. Andi langsung memeluk dengan Andra ditengahnya.


"Ayo, kita menikah!" Ucap Andi yang membuat Rani dan juga temannya ikut terkejut.

__ADS_1


"Mama." Ucap Andra.


Menyadari ada Andra dalam pelukannya, Andi segera melepaskan pelukannya sambil tersenyum mendekatkan wajahnya ke depan Andra.


"Maaf ya, Om lupa ada kamu." Ucap Andi sambil mengusap kepala Andra yang dibalas senyuman Andra.


"Papa." Ucap Andra kembali.


"Hey, jagoan ayah, sini ayah gendong." Ucap Yogi yang baru masuk.


"Gimana dek, ayo kita nikah kantor dulu, setelah itu kita temui orang tua kamu." Ucap Andi.


Rani masih diam tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia melihat kearah Yogi berharap ada penjelasan. Seakan mengerti, Yogi menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Gimana, kamu mau kan nikah sama abang?"


"Mmmm..."


"Kali ini abang gak akan lepasin kamu lagi, kalian gak akan bisa pulang sekarang!"


"Pulang?" Tanya Rani.


"Iya, sebelum kita nikah kantor, abang gak akan ijinin kalian pulang ke Pontianak."


"Siapa yang mau pulang?" Tanya Rani.


"Yogi bilang kalian mau berangkat sekarang."


Dan semua mata sekarang mengarah ke Yogi yang sudah tersenyum.


"Yogi, kamu lari 1 km!" Ucap Andi.


"Maaf bang, saya bukan anak buah abang lagi." Ucap Yogi sambil tertawa.


Andi berjalan mendekati Yogi, sementara Rani dan yang lainnya sudah takut kalau Andi akan memarahi Yogi. Andi menepuk pundak Yogi sambil mengucapkan terima kasih.


"Jadi lusa, abang masukin pengajuan nikah, kali ini kamu harus mau, gak pake alasan lagi."


Andi kembali memeluk Rani, kali ini Rani ikut membalas pelukan Andi.


"Rani sayang abang."


"Abang juga sayang sama kamu, gadis keras kepala."


Siang itu, sebuah bandara kembali menjadi saksi bagaimana seorang Andi menembak gadisnya. Tidak seperti sebelumnya, tembakan kali ini tepat sasaran. Pertemuan dan perpisahan keduanya menjadi kenangan indah yang akan selalu mereka kenang.


.............................THE END.............................


Terima kasih para Readers yang masih setia baca novel ini, untuk kisah Andi dan Rani kita cukupkan sampai disini dulu ya, Aku mau siapin novel baru... kalau sudah terbit nanti aku infokan ke kalian.


Terima kasih tidak terhingga, untuk para guru 3T didaerah Sintang dan yang tersebar diseluruh Indonesia. Teman yang berada di Sintang saat ini ada Irvan Hasan dan Saifannur bersama istri, semoga tetap sehat disana.


Terima kasih juga untuk teman SD, teman SMP yang selalu bersama Rani, jadi tempat curhatnya Rani, serta jadi tukang tulis surat cinta Rani. Kalian yang terbaik. Dessy A yang sekarang sudah jadi ibu persit. Lena yang sekarang jadi ibu bhayangkari, Evi, Ani, Irna, dan beberapa teman lainnya.


Terima kasih juga kepada teman SMA, teman Group Drum Band terkeren sepanjang masa.


Terima kasih juga kepada teman-teman di Universitas. Dewi, Eva, Ayi, Dara dan yang lainnya.


Terima kasih juga kepada bapak Musmarwan Abdullah, seorang penulis handal asal Aceh.


Terima kasih juga untuk BM...


Kalian bisa lihat bagaimana kondisi jalan menuju lokasi mengajar apabila hujan dari unggahan You Tube https://youtu.be/sunogX3Y7qg.


Beri like, komen dan vote terakhir kalian disini sebagai kenang-kenangan...


Sampai jumpa di novel selanjutnya...


Tetap nangkring di Group Author ya...biar kita tetap dekat...


See you all...


Aceh, 17 November 2020

__ADS_1


__ADS_2