Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
S2...19


__ADS_3

Like...


Vote...


Komen...


Happy Reading...🥰


 


"Kalian gak mau menyapa bang Andi?" Tanya Yogi sambil tersenyum, sementara Andi mengernyitkan dahi.


Ketiganya berbalik arah, tersenyum seakan mereka sedang terciduk mencuri. Melihat siapa yang didepannya membuat wajah Andi yang tadinya biasa saja kini jadi datar.


"Apa kabar?" Tanya Andi sambil berjabat tangan satu persatu.


"Suami kamu yang mana?" Tanya Andi saat berjabat tangan dengan Rani.


Semua terkejut dengan pertanyaan Andi.


"Tidak ikut." Jawab Rani.


"Ouh, saya pikir yang ini!" Menunjuk kearah Irvan.


"Bukan bang, saya teman satu kampungnya." Jawab Irvan.


"Saya duluan Yogi, kapan-kapan kita ketemu lagi." Ucap Andi berlalu pergi.


Mereka juga berlalu masuk kemobil.


"Kenapa kamu gak bilang kalo gak jadi nikah?" Tanya Yogi.


"Biarin aja bang, lebih baik seperti ini."


"Sampai kapan kamu terus mencari masalah, menjadi orang egois ditambah dengan berbohong? Apa kamu bahagia? Kamu perempuan, sudah saatnya kamu pikirin tentang pasangan!" Ucap Yogi terdengar seperti memarahinya.


Rani tidak menjawab lagi, dia hanyut dengan pikirannya sendiri. Jika bisa, saat itu dia ingin menangis sekeras-kerasnya.


"Kenapa hati dan pikiran saat ini tidak terkoneksi dengan baik? Ouh...hati... siapa sebenarnya yang kau inginkan? Apa semua sudah terlambat." Batin Rani.


Sesampai dirumah, para lelaki langsung bersiap ke mesjid, perjalanan tadi cukup menyita waktu berhubung memasuki waktu shalat jumat.


"Kenapa nak? Ibu perhatikan dari tadi merengut aja tuh muka?" Tanya ibu yang lagi menyiapkan makan siang.


"Entahlah buk, kayaknya Rani banyak dosanya deh, rasanya sangat menyesakkan dada buk, mungkin ini akibat perbuatan Rani yang suka menyakiti hati laki-laki buk, sekarang Rani merasakan sendiri gimana rasanya." Rani mengucapkan dengan air mata yang sudah mengalir.


"Banyak-banyak berdoa nak, minta ketenangan hati sama Allah, dan minta dipermudah segala urusan. Kita tidak pernah tau, keputusan yang sudah kita ambil dimasa lalu baik atau buruk, kita hanya manusia, kadang kita berpikir itu yang terbaik akan tetapi menurut Allah lain, jadi pasrahkan semuanya hanya pada Allah. Yang sabar ya!"


"Udah jangan sedih terus, berhubung kalian liburan, lebih baik, kalian jalan-jalan menikmati kota ini, kalo kamu disini terus, tambah kepikiran yang bukan-bukan."


"Kalo dulu ada Mela, tiap Rani curhat pasti dia mengomel seperti ibu-ibu tukang kredit, sekarang Rani jadi pengen ke makam dia bu."


"Nanti ibu bilang sama Yogi biar ngantar kamu kesana."


"Gak usah bu, bang Yogi capek, dia juga butuh istirahat, jangan tambahin beban pikiran dia dengan masalah Rani."


"Iya, mandi gih, biar segar, nanti kalo Andra bangun kan senang lihat mamanya udah cantik dan gak murung lagi."


"Ya udah buk, Rani masuk dulu."


Para lelaki sudah kembali dari mesjid.


"Andra masih tidur bu?" Tanya Yogi yang baru masuk.


"Iya nak."


Rani yang terlihat segar dengan polesan make up tipis keluar dengan Andra yang sudah mandi.

__ADS_1


"Lho... Andranya udah dimandiin?" Tanya ibu.


"Iya buk, tadi selesai shalat dia bangun, ya udah Rani mandiin aja gak papa kan?"


"Enggak kok, ya udah ibu selesaikan makan dulu ya, gak lama kok."


"Gak papa buk, jangan buru-buru, Rani bawa Andra duduk didepan boleh?"


"Boleh nak, dia malah senang."


"Ya udah kami keluar dulu."


Mereka bermain diluar, tampak Andra sangat menyukai suasana luar. Beberapa ibu-ibu persit lewat.


"Eh, ada tamu, ini siapanya Andra?" Tanya si Ibu ingin tau.


"Ouh, saya tantenya buk." Jawab Rani tersenyum.


"Kapan sampai? Kok gak kelihatan?"


"Kemaren buk." Rani yang mulai jengah sudah malas menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.


"Saya masuk dulu ya ibu-ibu? Mau makan." Ucap Rani sambil menggendong Andra kedalam.


"Nah, kita disini aja lebih aman, gak banyak lalat." Ucap Rani pada Andra.


"Lalat?"


"Eh, bang Yogi, iya, lalatkan suka ribut tuh suaranya."


"Mmmm...kamu mau kemana?"


"Gak ada, kenapa?"


"Abang lihat kamu udah dandan siang-siang."


"Hehehe...disini panas, jadi tadi mandi sekalian dandan dikit, biar fresh."


"Hah...gak lah."


"Jadi kapan mau bilang sama dia kalo kamu belum nikah."


"Nanti, waktu Rani balik ke Ponti."


"Yakin? Apa kamu gak berniat minta maaf secara langsung?"


"Emmm...ngaruh ya?"


"Kamu pikir sendiri, kamu sudah cukup dewasa, jadi selesaikan masalah secara dewasa, sampai kapan kamu mau begini? Apa kamu bahagia dengan melihat dia kecewa?"


Rani terdiam memaku, kata-kata Yogi seperti pisau yang menusuknya berkali-kali.


"Besok kita ke tempat Mala, bawa Andra juga, abang mau balik kantor. Baik-baik dirumah jagoan ayah." Ucap Yogi sambil mengusap kepala anaknya.


"Nak, ibu titip Andra sebentar boleh? Ibu mau rebahan bentar dikamar." Ucap ibu.


"Iya buk, istirahat aja, biar kami yang jaga."


Kini, tinggal Rani, Putra, Irvan juga sikecil Andra.


"Put, sepertinya aku memang harus ketemu sama bang Andi, gimana menurut kalian." Tanya Rani pada dua temannya.


"Baguslah kalo loe dah nyadar, gini ya, kalo loe mau lanjut sama bang Andi silahkan, kalo loe gak mau, kita gak maksa, yang penting loe jujur sama bang Andi kalo loe belum nikah, jadi kalopun kalian putus, putus dengan baik-baik, gak ada yang merasa dikecewakan."


"Terus kapan mau ketemu? Dimana?" Jangan disini gak enak sama para tetangga."


"Nanti malam kita tanya bang Yogi."

__ADS_1


"Oh ya, besok bang Yogi ajak ke makam Mela sekalian bawa Andra."


"Iya, tadi ibu yang bilang kalo loe pengen ke makam Mela."


"Kenapa loe pengen ke makam Mela?"


"Entah, gue rasanya kangen pengen curhat sama dia."


"Mama." Panggil Andra.


"Iya sayang, kenapa?"


"Syucu."


"Eh, titip ya, mau buat susu Andra dulu.


Siang itu semua tertidur dengan mimpi masing-masing. Andra tertidur dikamar bersama Rani. Sampai tidak terasa sudah sore.


"Rani...Rani...bangun sudah sore." Ucap Yogi.


"Eh, maaf ketiduran." Rani langsung bergegas keluar kamar.


"Udah bangun? Shalat dulu gih!" Pinta ibu.


Rani langsung bergegas ke kamar mandi. Setelah shalat ashar, Rani ikut bergabung dengan yang lainnya menikmati sore bersama.


"Ibu senang sekali, karena bulan puasa kali ini ada kalian, rasanya sangat menyenangkan ya Pak? Kita seperti punya anak banyak." Ucap si ibu.


Sementara Rani dengan kedua matanya saling menatap penuh arti. Melihat ungkapan hati si ibu membuat mereka berpikir keras. Yogi datang ikut bergabung dengan mereka.


"Bang, aku mau ketemu bang Andi bisa abang bantu? Aku gak punya nomernya." Pinta Rani.


"Sebentar, abang tanya dulu."


Beberapa menit kemudian, dering telpon Yogi berbunyi.


Yogi_


"Assakamualaikum bang."


Andi_


"Walaikumsalam, kenapa Yogi?"


Yogi_


"Ada yang mau ketemu sama abang, gimana apa abang ada waktu?"


Andi_


"Kebetulan saya masih di Bpp, nanti malam ketemu di cafe x aja gimana?"


Yogi_


"Boleh bang, jam berapa?"


Andi_


"Jam 8, selesai isya."


Yogi_


"Oke bang, saya tutup dulu, assalamualaikum."


Andi_


"Walaikumsalam."

__ADS_1


"Nanti malam selesai isya kita berangkat." Ucap Yogi pada Rani.


"Iya." Jawab Rani lemah.


__ADS_2