Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
Ouh... Hatiiii 2


__ADS_3

Mereka masih dengan posisi yang sama tangan Andi masih tetap melingkar dipinggang Rani.


"Gimana ini, hati sama pikiran kok gak sejalan? Dah wajah dia dekat banget, aduh jantung rasanya mau copot aja, gimana mau natap, diginiin aja udah lemah,,, ahhhh." gumam Rani dalam hati.


Rani masih terus menggeliat berusaha melepaskan diri dari Andi, semakin Rani berusaha semakin erat tangan Andi melingkar dipinggangnya.


"Andai kamu tau seberapa kuat abang menahan diri dari bisikan setan saat ini, kamu menyiksa abang lahir batin dek." ucap Andi yang membuat Rani menatap Andi penuh tanya.


"Kalo abang tersiksa, sebaiknya abang lepasin Rani." jawab Rani


"Kamu belum jawab pertanyaan abang." ucap Andi


"Rani gak cinta sama abang." ucap Rani dengan wajah gelisah tampa menatap Andi


"Tapi hati kamu berkata lain dek." ucap Andi tersenyum


"Emang abang bisa dengar hati aku?" Tanya Rani


"Apa perlu abang bilang? Apa kamu gak akan malu dengarnya?" Tanya Andi dengan senyum menggoda


Rani yang mendengar merasa sedikit curiga dengan kata-kata Andi.


"Jadi gimana sayang apa mau jujur atau abang yang buktiin sendiri?" Tanya Andi yang semakin memojokkan Rani


Rani masih tetap gelisah dengan menatap tidak tentu arah. Andi yang menyadari sikap Rani semakin tertantang untuk membuat Rani jujur padanya.

__ADS_1


"Sepertinya memang kamu sengaja menantang abang ya?" Ucap Andi dan tangannya sekarang memegang dagu Rani lembut membuat dada Rani sesak.


"Kamu susah bernafas, susah menelan ludah, jantung berdetak kencang dan badan terasa lemah, gimana sayang?" Bisik Andi ketelinga Rani.


Rani yang merasa lemah, memegang tangan Andi yang masih memegang dagunya.


"Udah bang, Rani mohon lepasin bang." ucap Rani lirih dengan tatapan memelas berharap Andi akan melepasnya kali ini.


"Sampai kapan kamu mempertahankan egomu? Abang ingin lihat sejauh mana kamu bertahan menutupi perasaanmu sama abang." ucap Andi yang makin mendekatkan wajahnya.


Rani merasa sangat sesak, bagaimana tidak posisinya saat ini sangat menyiksanya. Tampa disadari air matanya keluar meluapkan rasa yang ditahan.


"Lihat, air mata kamu saja tidak sanggup menahan rasa dihati kamu." ucap Andi sambil tangannya mengusap lembut air mata dipipi Rani.


Akhirnya pertahanan yang Rani bangun beberapa bulan lalu runtuh dalam semalam.


"Kamu cinta sama abang?" Tanya Andi kembali


Rani hanya menganggukkan kepalanya, namun Andi justru meminta jawaban.


"Jawab abang, kamu masih cinta sama abang?" Tanya Andi kembali


"Iya, Rani masih cinta sama abang?" Ucap Rani


"Seperti dulu?" Tanya Andi kembali

__ADS_1


"Iya, masih seperti dulu." ucap Rani kembali


Andi tersenyum puas menatap Rani dengan cepat dia menarik Rani kepelukannya. Ranipun melepaskan tangisannya yang tertahan.


Sementara diseberang ruangan ada sepasang suami istri yang tersenyum puas melihat drama pengakuan cinta yang menegangkan.


"Duduk disini, abang ambil minum ya?" Ucap Andi yang hanya diangguki oleh Rani


Saat mengambil minum, Andi didatangi oleh kakak dan abangnya yang tersenyum bahagia.


"Selamat ya,,, akhirnya dapat kembali." ucap kak Ira. Sementara bang Udin memberikan pelukan hangat kepada adiknya itu.


Andi menyerahkan gelas air ketangan Rani. Setelah menghabiskan airnya Rani merasa sedikit lega. Jantungnya kembali normal, wajahnya menunduk menatap gelas kosong didapannya.


Menyadari bahwa sikap Rani yang masih tertutup dengannya membuat Andi tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara Rani pikirannya masih tidak tentu arah, dia memikirkan Yogi dan Melati.


"Gimana ini? Apa yang harus dikatakan pada bang Yogi dan Melati? Gimana kalo Melati tau?" Gumam Rani dalam hati.


Andi memeluk Rani yang duduk disampingnya dengan sebelah tangannya menggenggam erat tangan Rani.


"Jangan mikir kejauhan, biarkan seperti air mengalir saja. Masalah Melati nanti abang selesaikan baik-baik, kamu tenang ya?, jangan banyak mikir, badan kamu lama-lama tinggal tulang." ucap Andi


"Rani merasa bersalah sama Melati dan bang Yogi apa yang harus Rani bilang sama dia, Rani benar-benar jahat." ucap Rani lirih.


"Kita keluar yok, jalan keliling komplek aja biar kamu segar." tanya Andi yang diiyakan oleh Rani.

__ADS_1


Mereka keluar jalan kaki menikmati malam minggu berdua. Tidak banyak yang mereka bicarakan karena bagaimanapun Rani belum siap dengan keadaan saat ini. Andi juga tidak memaksa Rani untuk bersikap layaknya orang pacaran karena pada kenyataannya Rani masih belum menerima Andi sepenuhnya.


__ADS_2